Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Materinya Itu-itu Saja, Kenapa Pelajaran Olahraga Tidak Semembosankan PKn?

Vinito Rahmat Febriano oleh Vinito Rahmat Febriano
4 Juli 2020
A A
Pengalaman Jadi Anak Pindahan dan Hal Sepele Aja Dipermasalahkan terminal mojok.co

Pengalaman Jadi Anak Pindahan dan Hal Sepele Aja Dipermasalahkan terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Ada 3 pelajaran yang konon membosankan dan sering dianggap “pelajaran formalitas” oleh mayoritas pelajar, yakni agama, sejarah, dan PKN.

Beberapa mapel berkali-kali mengulang materi yang sama dari SD. Kalaupun ada yang bilang “diperluas materinya”, paling pengaruhnya seperti toping cakwe di bubur ayam. Ada tidak ada sama aja rasanya.

Waktu SD kelas IV, guru PAI saya masuk ke kelas. Padahal, di jadwal harusnya PKn. “Ah barangkali guru piket.” Ternyata, guru PAI saya memang mengajar PKn. Saya masih ingat materi pertama saya dengan beliau: trias politica. Entah bagaimana kalau sekarang, masih agak mirip kali ya.

Setelah jam istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan pelajaran Olahraga. Seperti semua sekolah, jam pelajaran diisi dengan main permainan tertentu di satu jam pertama dan waktu bebas di jam kedua.

Begitu naik ke jenjang berikutnya, saya pikir materinya bakal banyak di-upgrade. Misal, siswa dibanting habis-habisan di pelajaran persamaan dan pertidaksamaan matematika, dari 4 + n = 9 menggila menjadi x² + 4x + 9 < 5.

Tapi rupanya tidak semua pelajaran mengalami perluasan materi, yang menurut saya masih tentang itu lagi, itu lagi.

Terakhir di SMA, bab yang paling terakhir dipelajari di PKn soal trias politica dan konstitusi, mirip waktu SD. Malahan, waktu kelas XII saya dapat tugas bikin tabel konstitusi di Indonesia. Sampai tiga kali untuk tugas yang sama persis.

Barangkali si pembuat kurikulum lagi baik hati, jadi tidak bakal anak SMA disuruh belajar analisis UU dan acara peradilan.

Baca Juga:

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang

Padahal, pelajaran PKN sering dianggap sebagai pelajaran bapak-bapak karena melulu membahas soal negara, politik, dan undang-undang. Ditambah materinya yang diulang-ulang, makin besar urge siswa buat scrolling-scrolling hape pas pelajaran.

Akhirnya, kebanyakan pelajar biasa yang saya temui belajar PKn sambil menganut sistem “belajar, kerjakan, lupakan”.

Lain cerita kalau pelajaran Olahraga. Walaupun sering dianggap pelajaran tidak belajar, tidak ada ceritanya pelajar yang tidak suka jam Olahraga, bahkan anak yang tidak suka olahraga sekalipun. Padahal kalau dipikir-pikir, format pelajarannya sama terus: belajar teknik main bola, bultang, atletis, dan sesekali renang.

Bosan? Tidak juga.

Surprisingly, sekalipun banyak siswa yang berkali-kali gagal memasukkan bola ke ring basket atau renang dengan mulus, tidak ada satu pun yang kapok, nyerah, apalagi bosen.

Kenyataannya, sebagian besar siswa puas dengan kegiatan pembelajaran Olahraga yang gitu-gitu aja, bahkan orang yang tidak suka olahraga sekalipun.

Olahraga itu cool dan penuh gaya, tidak seperti menghafal UU yang bikin muka cepat tua

Bukan cuma ajang pamer skill olahraga, jam praktek Olahraga juga sering jadi sarana kompetisi kecantikan dadakan.

Setiap sehabis pelajaran Olahraga, badan pasti bakal mandi keringat. Ritualnya, anak cowok bakal buka baju sambil dikibas-kibaskan ke badan di kelas dan membiarkan anak cewek masuk. Ketahuan sih sengajanya.

Pelajarannya yang itu-itu aja jadi kesempatan buat mempertontonkan kelebihan mereka masing-masing. Misal, bulu tangkis dan sepak bola yang semua orang pun sudah akrab. Di sinilah semua siswa mempertontonkan kebolehannya di bidang yang dikuasai biar kelihatan, “Wah, gua jago olahraga. Gua keren dong.”

Sederhananya, pelajaran Olahraga adalah salah satu waktu terbaik untuk pansos selain genjreng-genjreng gitar atau menyanyi pas pelajaran seni budaya. Lagian, memang siapa juga yang mau buka baju di depan guru yang menjelaskan bahaya liberal PKI ateis terhadap ideologi Pancasila? Bisa-bisa dicap antek LGBT sama gurunya.

Jam Olahraga = freetime resmi

“Kapan lagi ada freetime yang terjadwal di kurikulum sekolah” adalah kalimat yang menggambarkan betapa fleksibelnya mapel Olahraga.

Di pelajaran lain, siswa dituntut buat duduk diam sambil melotot ke depan, sembari dipaksa memikirkan apa maksud tulisan yang ditayangkan gurunya di proyektor. Di pelajaran Olahraga, Anda bisa nonton siswa lain dites lari sprint sambil berdiri, duduk, jongkok, ataupun selonjoran sambil memegangi es teh khas kantin. Guru Olahraga pun masa bodoh, yang penting nilai masuk dan siswa memperhatikan.

Selain itu, guru tidak menuntut siswa supaya jago melakukan suatu teknik olahraga, yang penting cukup bisa dan tahu caranya. Ya sudah, mereka yang tidak jago ataupun suka olahraga menganggap tes ambil nilai tengah semester itu have fun saja.

Jangan lupa, pelajaran Olahraga punya waktu “bebas” yang bikin siapa pun sengaja memperlama waktu bermain hingga pura-pura lupa kalau jam Olahraga udah habis. Kalau cewek-cewek, paling senang ganti baju dilama-lamakan.

Sebagai perbandingan, kamu hanya boleh bilang “He-eh” begitu guru PKn-mu mengatakan bahwa anak cucu PKI masih hidup sekarang dan ingin mengganti Pancasila menjadi ideologi “tidak bertuhan”. Mau nyimak penjelasan sambil makan dan minum? Jangan harap.

Begitu dikasih ulangan harian, hanya ada 5 soal esai dengan KKM 81. Tidak ada ampun buat yang salah menyebutkan nama-nama pejabat diplomatik beserta tugasnya. Salah satu soal pertanda kemampusan dirimu.

Cuma di pelajaran Olahraga ujian boleh menyontek

Iya, kapan lagi bisa dengar guru bilang “boleh nyontek”. Yang saya tahu, dari SD sampai SMA, guru PKn, IPA, dan IPS kebanyakan bermata elang. Sisi dinginnya, mereka sengaja tidak menegur, tapi menandai muka-muka mereka yang melakukan “kerja kelompok” pas ujian, tanpa tanda-tanda pengawasan apa pun.

Apalagi yang namanya guru senior, usia kepala lima bukan hambatan untuk mondar-mandir ketika mengawasi ujian, seperti kebanyakan guru PKn dan sejarah. Tapi di sekolah saya tidak sih. Guru PKn SMA saya mantan aktivis ’98, hehe.

Sayangnya, guru Olahraga SMA saya lumayan killer. Sebelum praktek, selalu ada pembekalan materi di kelas. Jadi, benar-benar tiada toleransi buat bilang “belum belajar” atau “bolehin textbook dong”.

Untungnya, guru saya di jenjang sebelumnya cukup santai. Tidak pernah ceritanya saya dikasih materi Olahraga. Kalau ada ujian, sekelas dapat kelonggaran selonggar-longgarnya.

“Yak, boleh nyontek. Tapi buku sendiri ya….”
“Jangan berisik tapi ya….”
“Bapak tinggal dulu ya….”

Dan beberapa kalimat legend lainnya yang membuat siapa pun bahkan tak perlu belajar sungguh-sungguh buat ujian.

Jadi kalau kamu tertarik buat jadi guru, “be yourself” sudah cukup untuk bisa diterima murid. Bahkan, walaupun kamu garing ataupun anak remaja masjid sekalipun, kamu bisa jadi tenaga pengajar Olahraga yang “merakyat”.

Tapi kalau kamu ingin mengajar pelajaran menantang seperti PKn atau Sejarah, saya harap kamu bisa bercerita atau punya masa lalu yang seru yang bisa bikin siswa betah di jam pelajaran, meskipun siswa tidak suka dan tidak doyan dijejali hafalan undang-undang ataupun hasil Konferensi Asia-Afrika.

Sumber gambar: Wikimedia Commons

BACA JUGA Kita Semua Suka Pelajaran Olahraga dan tulisan Vinito Rahmat Febriano lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 Juli 2020 oleh

Tags: olahragapelajaranpknsejarahSekolah
Vinito Rahmat Febriano

Vinito Rahmat Febriano

Mahasiswa yang santai ketika di kelas namun kritis ketika rebahan

ArtikelTerkait

Sejarah Gunung Sindoro dan Misteri Suara Sinden di Jalur Pendakian

Sejarah Gunung Sindoro dan Misteri Suara Sinden di Jalur Pendakian

27 Mei 2022
rasis

Rasis: Akibat dari Sekolah yang Belum Tuntas

20 Agustus 2019
Selama Kepemilikan Tanah Masih Dikuasai Segelintir Orang, Konflik Berdarah Akan Terus Lahir dan Dunia Makin Getir dago elos

Selama Kepemilikan Tanah Masih Dikuasai Segelintir Orang, Konflik Berdarah Akan Terus Lahir dan Dunia Makin Getir

21 Agustus 2023
Dosa Besar Guru Sejarah: Membuat Orang-orang Benci Pelajaran Sejarah Mojok.co

Dosa Besar Guru Sejarah: Membuat Orang-orang Benci Pelajaran Sejarah

8 Februari 2024
Sisi Terang dari Pemasangan Banner Daftar Siswa yang Diterima PTN oleh Sekolah

Sisi Terang dari Pemasangan Banner Daftar Siswa yang Diterima PTN oleh Sekolah

4 Agustus 2023
Studio Lokananta: Studio Musik Tertua yang Tetap Berdiri meski Dihajar Digitalisasi

Studio Lokananta: Studio Musik Tertua yang Tetap Berdiri meski Dihajar Digitalisasi

3 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Memang Penuh Cerita dan Keresahan, Makanya Dibicarakan Berulang-ulang dan Hampir Tanpa Jeda

10 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.