Saat ikut kegiatan pramuka SD, saya mendengar satu yel-yel yang masih tergiang sampai sekarang. Dalam yel-yel tersebut makanan growol sebagai ikon Kulon Progo. Kurang lebih begini lirik yel-yelnya.
DIY serba serbi warna warni oe
Daerah Istimewa Yogyakarta
DIY misuwur ing nusantara oe
Ciri khase ana lima cacahe
Bantul geplak geplak
Gunungkidul gaplek gaplek
Kulon Progo growol aduh enake
Jogja gudeg gudeg
Sleman salak geal geol
Kabeh mau e ana ajine
Saat pertama kali mendengarnya, saya langsung membayangkan growol itu lezat bukan main seperti yang digambarkan dalam lagunya. Saya lantas bertanya kepada ibu saya mengenai growol ini.
Mengenal makanan ikon Kulon Progo, Growol
Kebetulan ibu saya memang berasal dari salah satu kapanewon di Bantul yang dekat dengan Kulon Progo, jadi growol bukan sesuatu yang asing buat blio. Dari situ saya diajak untuk beli growol di Pasar Mangiran, Srandakan, Bantul.
Sebagai gambaran, growol adalah makanan khas dari Kulon Progo yang terbuat dari singkong. Pengolahannya perlu melewati proses fermentasi dengan cara direndam selama 3-4 hari. Growol dulunya adalah simbol ketahanan pangan warga setempat karena biasa dikonsumsi saat musim paceklik. Kini growol lebih dikenal sebagai makanan sehat pengganti nasi.
Sekarang wisata di Kulon Progo sedang naik daun dan rasanya nggak afdal kalau nggak bawa buah tangan untuk kerabat sepulang dari sana. Meskipun growol disebut langsung dalam yel-yel DIY dan digambarkan sebagai makanan yang enak, saya sarankan untuk berpikir ulang kalau mau menjadikan growol oleh-oleh. Alasannya begini.
#1 Growol sudah susah untuk dicari di Kulon Progo
Kini growol bisa dikatakan kalah pamor dari makanan-makanan khas Kulon Progo lainnya, seperti geblek atau enting-enting jahe. Salah satu penyebabnya adalah growol sudah langka. Nggak ada yang jual growol di pusat oleh-oleh. Growol biasanya bisa ditemukan di pasar tradisional, tapi itu pun cukup tricky untuk dilakukan.
Pasar tradisional di Kulon Progo umumnya nggak buka setiap hari, melainkan mereka mengikuti pasaran menurut kalender Jawa. Jika kamu nggak hafal pasarannya, besar kemungkinan waktu datang ke pasar, yang kamu temui pasarnya kosong. Bahkan kalau kamu cukup beruntung menemukan pasar yang buka pun, belum tentu kamu menemukan growol, entah karena kehabisan atau memang nggak ada lagi yang jual.
#2 Bikin bingung dan kaget orang luar Kulon Progo
Kalau kamu punya rencana memperkenalkan growol kepada orang awam, lebih baik kamu lakukan dengan hati-hati. Bagi orang yang sudah terbiasa, growol memang terasa enak, apalagi kalau dimakan dengan dicocol gula pasir. Tapi, bagi orang yang baru pertama kali melihat, bahkan mencium growol, bisa jadi mereka bakal kaget.
Growol itu kan hasil fermentasi singkong yang direndam berhari-hari. Bau dari growol ini bisa terasa menyengat banget untuk hidung yang belum terbiasa. Bisa-bisa kamu kena marah karena dikira nge-prank mereka.
#3 Tampilan kurang menarik
Growol yang berwarna putih itu biasanya hanya dikemas dengan alas daun pisang atau daun jati dan dilapisi dengan plastik bening. Tampilannya sungguh polos dan dari masa ke masa cuma begini packaging-nya.
Kalau kamu menjadikan growol sebagai oleh-oleh, tampilannya yang kurang menjual itu akan membuat orang kurang tertarik untuk mencicipinya.
#4 Kurang tahan lama
Growol merupakan makanan hasil fermentasi yang nggak pakai pengawet sama sekali. 100 persen hanya menggunakan bahan baku dari alam.
Saya lihat banyak warga asal Kulon Progo yang merantau ke luar daerah. Mungkin beberapa dari kalian ada yang kangen dengan growol, tapi saya sarankan sebaiknya growol tersebut kalian konsumsi saat masih di Kulon Progo saja. Kalau dibeli untuk dibawa dalam perjalanan berhari-hari, apalagi kena panas pas perjalanan, sampai tujuan yang ada growolnya sudah basi.
Growol memang makanan sehat dan harganya sangat terjangkau. Growol bahkan dijadikan ikon makanan khas Kabupaten Kulon Progo. Saya nggak bilang growol itu nggak enak, ya. Buktinya saya juga makan growol, kok. Tapi, kalau mau menjadikan growol sebagai oleh-oleh, mending pikir ulang deh.
Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
