Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Mahasiswa Sejatinya Adalah Politisi yang Tertunda

Raihan Muhammad oleh Raihan Muhammad
16 Juni 2023
A A
Memilih Politisi Ganteng: Masih Relevankah bagi Pemilih Muda?

Memilih Politisi Ganteng: Masih Relevankah bagi Pemilih Muda? (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini, santer terdengar berita mengenai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI tahun 2019—sosok yang memplesetkan istilah Dewan Perwakilan Rakyat menjadi Dewan “Pengkhianat” Rakyat—yang terjun ke dunia politik dengan bergabung ke Partai Perindo. Berita ini heboh di medsos. Ada yang mendukung, banyak juga yang mengecam, sampai-sampai blio dibilang menelan ludah sendiri.

Banyak orang yang kaget dengan keputusan blio. Kalau saya sih pura-pura kaget aja, edan po. Pola semacam ini sudah bisa saya prediksi. Melihat pendahulu-pendahulu blio, yang juga sering mengecam politisi dan pemerintah, sekarang ada yang menjadi staf khusus, staf ahli, anggota legislatif, komisaris BUMN, dan sebagainya.

Bahkan, sudah dari era angkatan ‘66, ‘74, ‘98, dan lainnya, kelompok mahasiswa Indonesia yang menentang penguasa yang sistemnya sering dicap buruk dan bobrok, pada akhirnya banyak di antara mereka yang juga terjun ke sistem dan mencoba mengubahnya dari dalam. 

Ibarat lingkaran setan, pola semacam ini selalu berulang: mahasiswa mendemo, lalu masuk ke dalam sistem, dan akhirnya mereka didemo oleh generasi berikutnya. Pola semacam ini sudah menjadi budaya, yang terus dilestarikan dan dilanggengkan, demi satu tujuan: mengubah sistem dari dalam demi kepentingan rakyat (katanya).

Kampus sebagai miniatur negara

Banyak orang yang bilang kalau kampus merupakan miniatur negara. Struktur yang ada di kampus juga hampir sama dengan struktur yang ada di pemerintahan Indonesia. Kita mengenal yang namanya trias politika ala Montesquieu, yakni pemisahan kekuasaan yang terdiri dari legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Di Indonesia kita tahu ada ketiga lembaga tersebut. Secara umum, lembaga-lembaga tersebut juga ada dan melekat dalam organisasi kemahasiswaan. Di lembaga legislatif ada Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), di lembaga eksekutif ada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan di beberapa kampus ada lembaga yudikatif bernama Mahkamah Mahasiswa (MM).

Kemudian, di sejumlah kampus di Indonesia juga terdapat partai kampus, yang merupakan kendaraan politik mahasiswa untuk meraih jabatan kekuasaan pada organisasi kemahasiswaan. Adanya partai kampus semacam ini tentu sama halnya dengan partai politik di Indonesia. Tujuan utamanya sama-sama ingin meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Selain itu, dinamika yang terjadi pada politik kampus juga merupakan cerminan dari politik nasional, meskipun skalanya berbeda. Misalnya, ada black campaign, buzzer, dan sebagainya, ketika menjelang pemilihan umum raya (pemira). Hal semacam ini juga terjadi ketika menjelang pemilihan umum (pemilu).

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

Banyak di kalangan mahasiswa yang doyan main negara-negaraan, suatu istilah kegiatan mahasiswa yang merujuk pada politik kampus yang merupakan miniatur politik Indonesia. Tak heran jika kita melihat tingkah laku sejumlah mahasiswa yang tidak jauh berbeda dengan politisi atau pejabat negara: gila jabatan, sikut-menyikut, tindakan amoral, dan sebagainya. 

Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa

Mahasiswa sering dicap sebagai katalis perubahan, agen penerus bangsa. Bahkan, setiap nafas yang diembuskan mahasiswa dianggap membawa angin segar bagi kemajuan peradaban bangsa dan negara.

Kita juga mengetahui adanya peran mahasiswa, yakni agent of change, guardian of value, iron stock, moral force, dan social control. Implementasi peran ini yang diharapkan mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sebagai kaum muda, idealisme merupakan senjata yang dimiliki mahasiswa untuk berperang melawan perkembangan dan perubahan zaman. Dengan terjun ke dunia politik, mahasiswa yang sudah lulus dari bangku kuliah, diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu-ilmu yang sudah didapatkan selama pembelajaran. 

Mahasiswa yang mencoba menyelam ke dalam sistem perlu didukung. Jika mereka salah bisa dikritisi sebagaimana mereka mengkritisi politisi dan pejabat negara kala itu. Perlu diapresiasi memang pemuda yang berani terjun menerjang gelombang besar untuk berusaha memperbaiki dari dalam.

Akhirnya akan bertemu dengan politisi yang mereka pernah kecam

Mau tidak mau, suka tidak suka, nantinya jika mahasiswa sudah terjun ke dalam politik praktis, ada kemungkinan atau peluang terjadi kerja sama politik. Dengan orang-orang yang dulu didemo, dikritik, dan dicap sebagai pengkhianat, perusak sistem, koruptor, dan sebagainya. 

Hal ini menjadi dilema memang. Seperti apa yang dibilang Pandji Pragiwaksono, blio mengibaratkan politik sebagai tangki septik yang isinya (maaf) tahi semua, sehingga para politisi diibaratkan kayak tahi. Orang yang ingin membersihkan tangki septik dari tahi itu nggak bisa, dan malah terkontaminasi tahi.

Begitulah analogi yang dipakai untuk menggambarkan betapa buruknya sistem politik di Indonesia. Bahkan, Mahfud MD, dalam konteks pilkada saat itu, pernah bilang kalau malaikat masuk ke dalam sistem Indonesia bisa jadi iblis. Itulah saking geramnya Mahfud MD dengan sistem di Indonesia yang dipenuhi tindakan amoral. 

Dari situ, kita bisa melihat sistem politik di Indonesia yang bobrok. Pada faktanya banyak elite dan pejabat politik yang melakukan perilaku tercela. Sehingga ini jadi tantangan bagi mahasiswa yang ingin terjun ke dunia politik untuk memperjuangkan idealismenya dan mengubah sistem dari dalam. Agaknya cuma ada dua pilihan: berhasil mengubah sistem atau diubah oleh sistem. Biar waktu yang menjawabnya.

Mahasiswa merupakan politisi yang tertunda

Manusia punya dua kaki, saya menganggap bahwa sebelah kaki para mahasiswa sudah menapak terlebih dulu di dunia politik. Persoalan mengenai kaki yang sebelahnya mau mereka taruh atau tidak, itu urusan belakangan. 

Pada hakikatnya, hak berpolitik untuk memilih dan dipilih dipunyai oleh semua warga negara (syarat dan ketentuan berlaku), termasuk mahasiswa. Karena sudah dijamin oleh konstitusi, undang-undang, bahkan kovenan internasional. Sehingga, sah-sah saja mengatakan mahasiswa sebagai calon nakhoda negeri ini.

Suka tidak suka, dianggap atau tidak dianggap, mahasiswa merupakan politisi yang tertunda. Entah nantinya mau jadi politisi sungguhan entah tidak, yang penting mereka pernah menyandang titel calon politisi.

Menjadi politisi dengan tujuan ingin mengubah sistem dari dalam adalah pilihan. Cuma kalau nantinya ketika terjun ke dalam sistem, dan malah menikmati kebobrokan sistem atau bahkan merusak sistem, maka mereka harus menanggung konsekuensi dari apa yang diperbuat. Dentuman kritikan dan pemberontakan bisa terjadi sebagaimana yang dulu mereka lakukan dengan idealismenya.

Adanya fenomena semacam ini, lagi dan lagi yang terkena dampaknya adalah rakyat. Rakyat sering kali dijadikan sebagai objek penderitaan oleh kepentingan mereka, baik para mahasiswa maupun pejabat negara. Miris sekali apabila penderitaan rakyat hanya dijadikan sebagai portofolio karier para (aktivis) mahasiswa.

Something good? Something bad?

Perlu dicatat, pada hakikatnya, politik adalah suci, dan sang nakhoda (politis) yang menggerakan ke arah mana politik akan berlabuh, entah di pelabuhan baik entah di pelabuhan buruk, kita juga patut sadari bahwa para pendiri bangsa ini sebagian besarnya adalah politisi: Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan yang lainnya.

Para mahasiswa yang nantinya akan terjun ke dunia politik mesti berkiblat kepada para pendiri bangsa kita yang memperjuangkan persatuan dan kejayaan demi kemerdekaan. Betapa hebatnya Indonesia suatu negeri yang didirikan oleh para pencinta buku yang melawan: melawan kebodohan, ketidakadilan, dan kemunafikan. 

Setidaknya para (aktivis) mahasiswa pernah punya ideologi dan idealisme. Kalaupun nantinya ideologi dan idealisme mereka runtuh karena terbentur urusan perut, sejarah akan mencatat tindakan mereka, dan sudah banyak tercatat dalam sejarah makhluk yang demikian. Selamat beridealis-idealis dahulu, beroportunis dan pragmatis kemudian, Bung dan Nona, Tuan dan Puan. 

Penulis: Raihan Muhammad
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pemira Online: Kontestasi Politik Mahasiswa yang Ngauzubillah Ribet

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Juni 2023 oleh

Tags: Mahasiswapolitik kampuspolitisi
Raihan Muhammad

Raihan Muhammad

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan. Pemerhati politik dan hukum. Doyan nulis secara satire/sarkas agar tetap waras. Aku menulis, maka aku ada.

ArtikelTerkait

3 Ide Usaha yang Laris Manis di Jogja, Cocok untuk Mahasiswa

3 Ide Usaha yang Laris Manis di Jogja, Cocok untuk Mahasiswa

4 September 2024
Kampus Bermasalah Kalau (Masih) Ada Budaya Mahasiswa Memberi Makanan ke Dosen Penguji

Kampus Bermasalah Kalau (Masih) Ada Budaya Mahasiswa Memberi Makanan ke Dosen Penguji

29 Desember 2023
takmir kampus

Tugas Takmir Kampus yang Jarang Diketahui Orang

6 Agustus 2019
Bukan UGM Atau UNY, UIN Sunan Kalijaga Adalah Kampus Paling Unggul di Jogja

Bukan UGM Atau UNY, UIN Sunan Kalijaga Adalah Kampus Paling Unggul di Jogja

12 Maret 2024
Derita Saya Menjadi Mahasiswa Jurusan Pertanian di Universitas Negeri

Derita Saya Menjadi Mahasiswa Jurusan Pertanian di Universitas Negeri

5 September 2023
Begini Rasanya Dapat Dosen Pembimbing Skripsi Seorang Dekan Fakultas Mojok.co

Begini Rasanya Dapat Dosen Pembimbing Skripsi Seorang Dekan Fakultas, Semuanya Jadi Lebih Lancar

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik Mojok.co

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

7 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Pantai Padang Adalah Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar Mojok.co

Pantai Padang Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar

8 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
13 Kosakata Bahasa Madura yang "Menjebak” dan Perlu Diperhatikan Pendatang yang Baru Belajar Mojok.co

13 Kosakata Bahasa Madura Paling “Menjebak” dan Perlu Diperhatikan Pendatang yang Baru Belajar

9 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”
  • “Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.