Saya adalah mahasiswa Universitas Tidar (Untidar) di Magelang. Lebih tepatnya di jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Saya merantau dari Klaten ke Magelang sejak Agustus 2024.
Selama 2 tahun tinggal di Magelang, saya merasa kalau kota sejuta bunga ini sangat nyaman. Suasananya santai, tidak terlalu ramai. Jalanannya pun lenggang, selama tinggal di Magelang, saya tidak pernah mengalami kemacetan.
Udara di Magelang bisa dibilang pas, tidak terlalu panas atau dingin. Ketika siang hari tidak merasa gerah begitu malam hari tidak terasa kedinginan.
Kehidupan malamnya cepat selesai
Setiap memasuki jam 10 malam Kota Magelang terasa sepi. Jarang sekali terdapat aktivitas warga di luar. Jalanan mulai kosong dan sunyi.
Titik yang masih ramai biasanya hanya coffee shop. Atau tempat nongkrong 24 jam. Sementara ruang publik lainnya mulai terasa gelap.
Alun-alun sudah mulai sepi. Angkringan di sekitar alun-alun sudah mulai tutup. Mayoritas pedagang di jam 10 malam sudah beres-beres untuk pulang.
Tempat mengerjakan tugas dan nongkrong jarang yang masih buka. Pilihan untuk para mahasiswa hanya sedikit. Sejauh ini saya menemui 6 lokasi yang bisa dibilang cocok untuk mengerjakan tugas atau nongkrong. Ada Kopi Kenangan, Suhka Coffee, Coffee Pop, Tomoro Coffee, dan Serikat Coffee.
Kondisi ini sangat berbeda jika dibandingkan Jogja. Di Jogja ada kawasan Seturan, Taman Siswa, dan Tugu Jogja. Di sana aktivitas terus berjalan hingga subuh.
Fasilitas untuk mahasiswa kurang mendukung
Magelang saat ini tidak memiliki stasiun kereta yang dapat menghubungkan antar kota. Dahulu Magelang punya stasiun kereta. Namun, pada tanggal 5 Maret 1975 operasional stasiun resmi dihentikan total.
Hal ini terjadi karena kerusakan jalur rel akibat aktivitas vulkanik Merapi. Selain itu, juga karena sepinya penumpang. Sebab dulu belum banyak kampus dan mahasiswa.
Kondisi tersebut membuat mahasiswa rantau kesulitan. Pilihan transportasi umum jarak jauh terbatas. Hanya bus yang menjadi pilihan utama.
Masalahnya tidak semua orang nyaman perjalanan jauh dengan bus. Jika ingin naik kereta api harus pergi ke Jogja atau Semarang dulu.
Selain itu, opsi tempat belajar atau working space kurang. Mengerjakan tugas di area kampus terasa bosan. Perpustakaan kota hanya beroperasional dari jam 07.30 sampai 16.00 WIB. Padahal mahasiswa masih berkuliah dari pagi hingga sore.
Akhirnya opsi lain hanya berpindah ke coffee shop. Mencari tempat nongkrong yang memang WFC friendly.
Harapan ke depan untuk Magelang
Magelang sendiri memiliki potensi menjadi kota mahasiswa. Perguruan tinggi di Magelang cukup banyak. Ada Universitas Tidar Magelang, Universitas Muhammadiyah Magelang, Akademi Teknik Tirta Wiyata, Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi Kebidanan, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang, serta STMIK Bina Patria Magelang.
Itu mengapa, Magelang harus mulai memperhatikan dan mengembangkan infrastruktur pendukung mahasiswa. Mulai dari penyediaan transportasi umum antarkota, menambah working space, serta mempertahankan kondisi kota yang saat ini sudah cukup nyaman.
Penulis: Arsya Listya Eka Pramudita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Klaten yang dahulu bukanlah yang sekarang, kini semakin hidup dan berkembang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
