Fasilitas terbatas
Jujur, fasilitas di Magelang masih bisa dibilang kurang untuk menjadi kota pelajar. Salah satu yang paling ketara adalah akses ke sana. Magelang hanya bisa diakses melalui jalur darat bus, travel, dan kendaraan pribadi. Tidak ada stasiun di Magelang, apalagi Bandara. Dua moda transportasi ini bisa diakses dari Jogja, daerah tetangga Magelang.
Sedikit cerita, dahulu Magelang punya stasiun kereta. Namun, pada tanggal 5 Maret 1975 operasional stasiun resmi dihentikan total. Hal ini terjadi karena kerusakan jalur rel akibat aktivitas vulkanik Gunung Merapi.
Kondisi tersebut membuat mahasiswa rantau kesulitan. Saya dan kawan-kawan kebanyakan bepergian mengendarai kendaraan pribadi atau bus untuk pulang kampung atau bepergian ke luar kota.
Selain akses tranportasi yang terbatas, opsi tempat belajar atau working space pun kurang. Mengerjakan tugas di area kampus terasa bosan. Perpustakaan kota hanya beroperasional dari jam 07.30 sampai 16.00 WIB. Padahal mahasiswa masih berkuliah dari pagi hingga sore hari
Akhirnya opsi lain hanya berpindah ke coffee shop. Mencari tempat nongkrong WFC friendly yang terbatas.
Harapan ke depan untuk Magelang
Seandainya saya ke Magelang tidak untuk kuliah, mungkin Kota Sejuta Bunga ini daerah yang sempurna. Namun, kenyataannya, hidup membawa saya ke sini untuk menuntut ilmu. Saya jadi melihat kota ini dari sudut pandang mahasiswa.
Padahal, kalau dipikir-pikir, daeah ini punya potensi menjadi kota mahasiswa bagi daerah-daerah sekitar. Ada banyak perguruan tinggi di sana, baik negeri maupun swasta. Ada Universitas Tidar Magelang, Universitas Muhammadiyah Magelang, Akademi Teknik Tirta Wiyata, Poltekkes Kemenkes Semarang Prodi Kebidanan, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang, serta STMIK Bina Patria Magelang.
Sayang rasanya kalau potensi itu tidak dilirik dan digarap. Saya rasa Magelang harus mulai memperhatikan dan mengembangkan infrastruktur pendukung mahasiswa. Mulai dari penyediaan transportasi umum antarkota, menambah working space, serta mempertahankan kondisi kota yang saat ini sudah cukup nyaman.
Penulis: Arsya Listya Eka Pramudita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Klaten yang dahulu bukanlah yang sekarang, kini semakin hidup dan berkembang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.