Saya adalah mahasiswa Universitas Tidar (Untidar) di Magelang. Lebih tepatnya mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Saya merantau dari Klaten ke Magelang sejak Agustus 2024.
Selama 2 tahun tinggal di Magelang, saya merasa kalau Kota Sejuta Bunga ini sangat nyaman untuk ditinggali. Suasananya santai, tidak terlalu ramai. Jalanannya pun lenggang. Selama tinggal di Magelang, saya hampir tidak pernah mengalami kemacetan.
Udara di Magelang pun bisa dibilang pas, tidak terlalu panas atau dingin. Ketika siang hari saya tidak merasa gerah, begitu malam hari tidak begitu kedinginan. Namun, saya rasa Magelang hanya nyaman untuk dijadikan tempat tinggal, tidak untuk menempuh pendidikan seperti yang sedang saya jalani sekarang ini.
Magelang hidup cuma sampai jam 10
Setiap memasuki jam 10 malam, Kota Magelang terasa sepi. Jarang sekali terdapat aktivitas warga di luar. Jalanan mulai kosong dan sunyi.
Titik yang masih ramai biasanya hanya coffee shop atau tempat nongkrong 24 jam. Sementara ruang publik lainnya sudah gelap.
Alun-alun tidak ada orang. Angkringan di sekitar alun-alun pun mulai tutup. Mayoritas pedagang sufah beres-beres dagangannya menjelang jam 10 malam.
Pilihan untuk para mahasiswa nongkrong atau melebur tugas sangat terbatas. Sejauh ini saya menemui 6 lokasi yang bisa dibilang cocok untuk mengerjakan tugas atau nongkrong. Ada Kopi Kenangan, Suhka Coffee, Coffee Pop, Tomoro Coffee, dan Serikat Coffee.
Kondisi ini sangat berbeda jika dibandingkan Jogja. Di Jogja ada kawasan Seturan, Taman Siswa, dan Tugu Jogja. Di sana aktivitas terus berjalan hingga malam hari, bahkan dini hari. Benar-benar hidup.