Selagi masih muda, tinggal di Kabupaten Gresik rasanya cukup menjanjikan. Apalagi alasannya untuk mencari uang, yang mana UMK Kota Santri tahun 2026 saja sudah tembus lima juta lebih! UMK ini bahkan menjadi yang tertinggi kedua di Jawa Timur.
Akan tetapi jangan berekspektasi terlalu tinggi. Terlebih jika kamu hendak memutuskan untuk menua di Gresik. Bermimpi bisa hidup semati di daerah ini ibarat kamu menjalani sebuah hubungan toxic. Jatah bulanan dijamin tidak kurang-kurang, tapi lama-lama saya sadar kalau Gresik punya sisi gelap dan akan membunuh perlahan.
Kalau kamu salah satu orang yang iri dengan warga asli Gresik karena alasan UMK tinggi, coba saya rinci apa saja kebobrokan kabupaten tersebut.
Dilema hidup di kota industri dan bergaji tinggi
Harus saya akui Gresik memiliki daya tarik tersendiri. Dengan kenaikan UMK terbaru, saya yakin banyak pendatang tergiur ingin berkarier di kota ini. Belakangan ini, pegawai di kawasan Jiipe saja banyak diisi warga luar. Pendatang terbanyak dari Lamongan dan Bojonegoro. Tak menutup kemungkinan warga lintas provinsi yang ber-UMK jauh lebih rendah di bawah Gresik, juga berbondong-bondong merantau ke sini.
Jadi buruh di Gresik sama membanggakannya dengan menjejakkan kaki dan berkarir di Jakarta. Cukup percaya diri jika ditanya tetangga, kamu kerja di mana. Jujur, saya pun begitu.
Tetapi ada hal yang paling saya benci dari Gresik, yakni sulitnya mendapatkan udara segar. Pernah, saya selesai lembur kerja dan pulang jam dua malam. Logikanya, jam segitu seharusnya sepi dari produktivitas industri dan udara dini hari pasti jauh lebih sopan masuk hidung. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya.
Gresik semakin gila di jam-jam malam. Sering kali saya musti nahan nafas ketika melintasi jalanan dari arah kota menuju ke bagian utara Gresik. Bau kimia, belerang, dan bau mulut saya pun menyatu. Tentu memuakkan. Baunya aneh sampai saya bingung bagaimana mendefinisikan aromanya, tapi yang jelas dada terasa sesak dan kepala ikut pening.
Bisa dibayangkan, jika saya meninggal dan kemudian diautopsi, medis menyatakan bahwa jaringan paru-paru saya rusak akibat paparan udara Gresik. Apalagi data lima tahun terakhir mengatakan, penyakit ISPA dan TBC sering ditemui di kota ini. Semakin memperkuat opini saya bahwa Gresik tidak ramah lingkungan.
Memang betul, ini salah satu risiko yang harus saya terima. Makanya saya merasa Gresik dengan gaji tinggi pun ternyata tidak menjamin hidup layak di masa tua. Bercita-cita untuk slow living di daerah ini, butuh perenungan dan perhitungan.
Baca halaman selanjutnya: Gara-gara Gresik saya terpaksa berhenti merokok…



















