Lulusan S2 Jadi Beban, Kerap Dianggap Overqualified padahal Cuma Ingin Kerja demi Menyambung Hidup 

Lulusan S2 Jadi Beban, Kerap Dianggap Overqualified padahal Cuma Ingin Kerja demi Menyambung Hidup Terminal

Lulusan S2 Jadi Beban, Kerap Dianggap Overqualified padahal Cuma Ingin Kerja demi Menyambung Hidup (unsplash.com)

Teman lulusan S2 di salah satu PTN di Yogyakarta. Dia pernah berbagi cerita soal pengalamannya ditolak HRD karena dianggap overqualified. Si HRD bilang kalau jenis pekerjaan dan gaji dari perusahaan terlalu rendah untuk teman saya yang sudah menyandang gelar magister. 

HRD tidak keliru memang. Dia hanya khawatir pekerjaan dan gaji akan membawa ketidakpuasan pada teman saya. Seandainya boleh mengatakan apa saja, teman saya akan bilang, “Saya jauh lebih nggak puas kalau saya tidak ada pemasukan sama sekali!”

Bagi teman saya, hidupnya bakal jauh dari kata puas ketika berada dalam kondisi menganggur. Menganggur itu menyiksa dan melahirkan pikiran yang aneh-aneh. 

Sebagai mahasiswa yang saat ini menempuh S2, apalagi sudah masuk semester akhir, saya jadi kepikiran, takut mengalami hal serupa.

Lebel overqualified yang memberatkan lulusan S2

Kasus yang dialami oleh teman saya nyatanya jamak terjadi. Kalau tidak percaya, bisa kalian baca sendiri tulisan-tulisan di Mojok, betapa banyak kasus serupa terjadi di orang lain. 

Muara problemnya selalu sama. HRD merasa bahwa gelar magister hanya akan merepotkan perusahan karena pekerja dengan gelar magister akan over demanding terhadap gaji, sementara kecakapan dalam kerja profesional tidak ada.

Dalam kasus teman saya, dugaan pengalaman kerja yang nihil itu terbantah. Sejak di S1, dirinya telah mengikuti beragam proyek dan program magang sebelum akhirnya lanjut S2.

Ketika menempuh S2 pun dia pernah menggawangi beberapa proyek yang relevan dengan kemampuan akademik yang dia miliki. Tetapi pasca lulus, setelah CV dan portofolio sudah disiapkan; segala pengalaman dan prestasi disusun rapi-rapi; sudah pede untuk masuk kerja profesional, tetap saja terbentur respon HRD dengan label overqualified.

Yang perlu dimengerti oleh HRD

Barangkali ini yang mesti dipahami oleh HRD. In this economy, banyak di antara lulusan magister itu hanya ingin mendapat kerja, even pekerjaan itu masih belum bisa dikategorikan sebagai “layak”, supaya mereka dapat menutupi kebutuhan harian. Syukur-syukur bisa menyisihkan sedikit untuk menabung.

Beberapa esai di Mojok bahkan ada yang menulis soal lulusan magister dari kampus-kampus di Jogja, yang pada akhirnya memilih kerja sebagai ojol atau entry data untuk menutupi kebutuhan keseharian mereka.

Tidak ada yang keliru dengan dua profesi itu, kecuali kenyataan bahwa profesi itu sangat mungkin diraih tanpa perlu repot-repot S2. Tetapi poin saya adalah: contoh kasus itu mengeliminasi argumen bahwa menerima lulusan magister itu berisiko bagi perusahaan karena mereka cenderung akan rewel soal gaji, atau sedikit-sedikit mau resign karena ekspektasi kerja yang tidak sesuai.

Padahal, boro-boro minta naik gaji, bisa lepas dari status pengangguran saja itu sudah jadi satu kemewahan. Di tengah harga barang-barang yang semakin melambung, banyak di antara lulusan S2 yang terbirit-birit mengejar pekerjaan bukan demi makan all you can eat tiap pekan; atau doping matcha setiap hari, melainkan demi melepas engap yang lahir dari status pengangguran.

Nihil jaring pengaman

Posisinya memang dilematis. Latar belakang berupa CV dan portofolio yang terlalu tinggi dianggap overqualified. Tetapi pendidikan dan pengalaman yang minim juga dianggap tidak memenuhi syarat.

Di saat yang bersamaan, khususnya di Indonesia, kondisi ini diperparah dengan belum adanya jejaring yang jelas yang mampu dijadikan alat pengaman oleh para lulusan S2. Regulasi ketenagakerjaan yang absurd, jaminan atas kaum terdidik yang nihil, atau lapangan pekerjaan yang masih belum memadai, adalah kondisi centang perenang yang membuat lulusan S2 semakin dihimpit ketidakpastian.

Berharap jejaring pengaman untuk lulusan S2 yang lahir dari inisiatif government,adalah keinginan yang utopis. Mengingat posisi saya sebagai serpihan kecil dari masyarakat sipil yang suka menulis, maka satu upaya yang paling mungkin adalah dengan merengek pada segenap HRD di manapun mereka berada supaya stop melihat lulusan S2 itu sebagai calon pekerja yang punya perangai rewel, suka minta naik gaji, atau hobi resign. Mereka melamar kerja hanya karena ingin tetap hidup!

Penulis: Fauzan Nur Ilahi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version