Lanskap kuliner Jogja kerap dipuja. Kulinernya yang beragam dan identitas kulinernya yang kuat jelas jadi hal yang patut diapresiasi. Cuma, ada satu hidangan yang sebenarnya justru tidak sesuai dengan identitas Jogja banget, tapi juga terkenal, yaitu, lotek.
Bentar, bentar, jangan marah. Saya tahu ada Lotek Bu Bagyo, yang jadi pahlawan serta menemani memori para mahasiswa yang merantau di Jogja. Saya juga tahu lotek itu asalnya dari Sunda. Cuma, di Jogja, kuliner ini memang amat digemari. Terlebih karena harganya yang murah, porsinya mengenyangkan, serta, tentu saja, rasanya enak.
Akan tetapi, posisinya dalam peta kuliner lokal terasa menggantung. Hal ini tentunya berbeda dengan gudeg yang memiliki narasi jelas sebagai ikon kota. Singkatnya, lotek ini sebenarnya membingungkan, tapi, kalian tak pernah memikirkan itu saja.
Antara pecel dan gado-gado yang kehilangan batas
Lotek sering kali disandingkan dengan gado-gado dan pecel. Secara visual, ketiganya tampak serupa. Sayuran rebus, siraman bumbu kacang, dan tambahan pelengkap seperti lontong atau kerupuk. Barulah ketika dicicipi, kuliner ini menghadirkan sensasi yang jelas amat berbeda dengan kedua makan tersebut.
Bumbu kacang pada lotek cenderung lebih manis dibandingkan pecel. Sambal pecel itu biasanya lebih gurih dan sedikit pedas. Lotek juga tidak sekental dan sekompleks gado-gado. Gado-gado sering menggunakan tambahan-tambahan lain.
Inilah yang bikin saya bilang bahwa lotek itu membingungkan. Jatuhnya malah jadi kayak kompromi rasa. Bumbu kacang mirip pecel tapi rasanya manis, maksudnya gimana coba?
Bahkan komposisi sayurannya pun tidak memiliki pakem yang jelas. Kadang berisi kol, kacang panjang, tauge, dan bayam. Di tempat lain bisa berbeda. Fleksibilitas ini memang memberi ruang kreativitas, tetapi juga mengaburkan identitas. Lotek menjadi hidangan yang sulit dipastikan bentuk aslinya.
BACA: Lotek Khas Solo Bikin Pencinta Lotek Asal Jogja Culture Shock
Tekstur lotek yang, yah, begitulah
Kalau rasa masih bisa diperdebatkan, tekstur lotek justru menambah lapisan kebingungan lain. Dalam satu piring, berbagai elemen saling bertabrakan tanpa kompromi. Sayuran rebus yang lembut bertemu dengan kol mentah yang renyah. Gorengan yang padat beradu dengan lontong yang kenyal. Di atas semuanya, sambal kacang menyelimuti dengan konsistensi yang tidak pernah benar-benar stabil.
Tidak ada harmoni yang jelas. Lotek memaksa lidah bekerja keras menerjemahkan kekacauan sensasi yang terjadi.
Baca halaman selanjutnya



















