Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Katanya Semarang Kota Besar, tapi kok Terminal Busnya kayak Gitu?

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
6 Oktober 2020
A A
semarang terminal bis jorok kumuh terminal terboyo mojok

semarang terminal bis jorok kumuh terminal terboyo mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Bau amis tercium di sepanjang jalur perhentian bus. Para penumpang yang baru turun, terlihat seperti segerombolan domba yang keluar dari kandangnya. Mereka menyebar ke mana-mana, melirik ke kanan dan ke kiri mencari angkutan selanjutnya.

Sesekali, terlihat seorang calo mendekati salah seorang penumpang yang tampak kebingungan. Menawarkan tiket bus dengan harga yang mencekik. Tanah yang becek dan kadang tergenang banjir, menambah kesan kumuh Terminal Terboyo kota Semarang.

ADVERTISEMENT

Di sebelah barat, terlihat sebuah bangun cukup besar berdiri di perbatasan kota Semarang. Bangun tersebut tampak rusak, sepi, dan terlihat seperti rumah hantu, hanya beberapa bus dalam kota yang keluar masuk bangun tersebut. Terminal Mangkang yang didirikan sejak 2009 itu, kini hanya menjadi bangunan kosong yang lapuk dan menyeramkan.

Terminal Terboyo di ujung timur dan Terminal Mangkang di sebelah barat, itulah dua terminal antar kota di Semarang. Dua Terminal yang harusnya menjadi tempat menyambut para pendatang, entah itu wisatawan atau perantauan, malah terlihat sangat miris dan menyedihkan.

Saya selalu berkeyakinan bahwa keramahan sebuah kota bisa termanifestasikan melalui kondisi terminal busnya. Saya punya alasan kuat kenapa bisa berkeyakinan seperti itu. Terminal bus adalah lokasi awal yang didatangi oleh sebagian besar para pendatang. Mereka yang merantau mencari pekerjaan, menempuh pendidikan, merintis jejak karir, hingga sekadar berlibur akan turun di terminal bus untuk memulai langkah awal dalam memulai pengalaman baru mereka di sebuah kota.

Kesan pertama akan muncul ketika seorang pendatang tiba di terminal bus di kota tersebut. Kelelahan selama dalam perjalanan dalam busakan sedikit hilang ketika disambut dengan keramahan sebuah terminal.

Keramahan sebuah terminal bisa ditinjau dari fasilitasnya. Mulai dari fasilitas ruang tunggu yang nyaman dan bersih, ruang toilet yang tidak jorok, penempatan setiap bus antar kota yang tertib dan rapi, ruang keberangkatan bersistem zonasi, bersih dari calo tiket bus, aman dari tindak kriminalitas, dan terintegrasi dengan angkutan dalam kota.

Semua itu akan menghadirkan kesan positif bagi pendatang saat pertama kali menginjakan kaki di sebuah kota. Para pendatang akan merasa disambut dengan ramah ketika sebuah terminal busmampu menghadirkan fasilitas-fasilitas tersebut.

Baca Juga:

Lomba kebersihan kampung di Jogja hanya berefek sesaat, saat lomba mendadak bersih, selesai lomba kembali ke setelan pabrik

Pelajaran mahal buat kamu yang ingin buka usaha rumahan berupa warung makan di Surabaya supaya cepat balik modal

Namun, Semarang, dengan predikatnya sebagai ibu kota provinsi yang masyarakatnya memiliki tingkat mobilitas yang cukup tinggi terlihat tidak pernah menjadikan Terminal sebagai prioritas dalam menyambut para pendatang.

Semarang seperti mengeksklusifkan diri dengan hanya fokus pada terminal-terminal kecil dalam kota dan membiarkan para pendatangnya terbengkalai dan menjadi mangsa para calo di Terminal antar kotanya yang kumuh itu.

Meski sebenarnya Terminal Terboyo telah dialih fungsikan oleh Pemkot Kota Semarang sebagai terminal peti kemas, dan terminal busnya dipindah ke Terminal Penggarong, tapi ketidakjelasan kebijakan dari pihak Pemkot terutama Dishub membuat Terminal Penggarong seperti anak baru yang dikucilkan oleh teman-temannya. Bus-bus yang datang dari luar kota tetap memilih Terminal Terboyo sebagai lokasi ngetem untuk mencari penumpang. Sementara Terminal Penggarong terlihat sepi dengan bangkai-bangkai bus yang memenuhi pekarangannya.

Sebagai kota besar yang menjadi ibu kota provinsi, Semarang harusnya malu dengan kota-kota lainnya di Jawa Tengah. Malu dengan Bawen yang mampu menghadirkan Terminal Bawen yang elegan, malu terhadap Kota Solo dengan terminal Tirtonadinya yang didapuk sebagai terminal terbaik dan terlengkap se-Indonesia, malu dengan Terminal Bulupitonya Purwokerto yang begitu tertib.

Terlebih ketika Surabaya dengan Terminal Purbayanya mampu berbenah dan kini menjadi terminal yang begitu mewah, Semarang masih begitu nyaman dengan kekumuhan dan kejorokan yang diperlihatkan melalui terminal-terminalnya. Begitu tega menyambut para pendatangnya dengan suasana terminal yang bus-busnya tak beraturan di pinggir jalan, calo yang mengancam dompet para pendatang yang terlihat polos, dan pemandangan banjir yang selalu menghantui ketika musim penghujan tiba.

Kota Semarang adalah destinasi yang sering didatangi oleh orang dari luar daerah. Mereka yang bekerja, membawa harapan positif ketika tiba di Semarang, mereka yang menempuh pendidikan membawa cita-cita yang ingin diwujudkan, mereka yang ingin berlibur membawa tekanan hidup yang ingin dihilangkan. Semua itu harusnya disambut dengan fasilitas dan kejelasan dari terminal-terminal bus yang menyambut mereka.

Jika Semarang tetap nyaman dengan terminal-terminalnya sekarang, jangan salah apabila di benak para pendatang, Semarang adalah kota yang tidak ramah karena menyambut tamunya dengan terminal yang terlihat seperti sebuah tambak ikan. Berbau amis, banjir, dan kumuh.

Sumber gambar: Akun Twitter @detikcom

BACA JUGA Yang Suka Mengeluh One Piece Sering Break Adalah Pembaca Nggak Tahu Diri! dan tulisan Muhammad Iqbal Haqiqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2020 oleh

Tags: JogjaSemarangSurabayaterminal bisterminal terboyo
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Jalan Adisucipto Jogja Diam-diam Menyedihkan di Balik Keramaiannya Mojok.co

Jalan Adisucipto Jogja Diam-diam Menyedihkan di Balik Keramaiannya

18 November 2025
4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Liburan ke Surabaya Mojok.co bandung

Culture Shock Warga Bandung ketika Menjadi Arek Suroboyo: Motoran Pake Sarung? Nasi Goreng Merah?

27 Juni 2025
5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama

5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama

17 Januari 2026
5 Rekomendasi Angkringan Enak di Gunungkidul terminal mojok.co

5 Rekomendasi Angkringan Enak di Gunungkidul

26 November 2021
4 Alasan Saya Malas Belanja ke Transmart Maguwo Jogja yang Pernah Dipuja-puja Warga mojok.co

4 Alasan Saya Malas Belanja ke Transmart Maguwo Jogja yang Pernah Dipuja-puja Warga

5 Juli 2024
Coffee Shop Jogja Merusak Anak Muda Desa (Unsplash)

Benarkah Coffee Shop Jogja Adalah Sumber Ketimpangan Sosial Sekaligus Perusak Anak Muda Desa?

7 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Maganghub Kemnaker, program waras pemerintah yang layak dipertahankan Mojok.co

Maganghub Kemnaker, program waras pemerintah yang layak dipertahankan 

8 Juli 2026
Orang Madura Serasa “Tamu” di Universitas Trunojoyo Madura, Mahasiswa hingga Dosen Isinya Pendatang Mojok.co

Nasib Alumni Universitas Trunojoyo Madura: Balik ke Rumah Menanggung Ekspektasi Orang Sekampung, Merantau Malah Jadi Insecure

7 Juli 2026
Orang tua masa kini lebih percaya sekolah swasta daripada sekolah negeri Mojok.co

Orang tua masa kini lebih percaya sekolah swasta daripada sekolah negeri

14 Juli 2026
Menjadi Tutor Bahasa Inggris untuk Anak TK dan SD Membuat Saya Sadar, "Hello" Jauh Lebih Penting daripada "Open Your Book"

Menjadi Tutor Bahasa Inggris untuk Anak TK dan SD Membuat Saya Sadar, “Hello” Jauh Lebih Penting daripada “Open Your Book”

7 Juli 2026
Pelajaran mahal bisnis rumahan di Surabaya biar cepet balik modal (Unsplash)

Pelajaran mahal buat kamu yang ingin buka usaha rumahan berupa warung makan di Surabaya supaya cepat balik modal

13 Juli 2026
Pantai Semilir Tuban, Tetap Menawan di Tengah Kepungan Industri

Pantai Semilir Tuban, Tetap Menawan di Tengah Kepungan Industri

9 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.