Rasa lotek yang tidak jelas
Jika gudeg dikenal dengan rasa manis yang dominan, lotek sebaliknya, rasanya sulit dijelaskan dan orang-orang sulit sepakat. Kesepakatan yang bisa dicapai hanyalah “rasanya enak”. Iya, enak, tapi bagaimana menjelaskannya?
Setiap penjual seolah memiliki definisi sendiri tentang rasa yang benar. Ada yang membuatnya lebih manis. Ada pula yang cenderung gurih. Bahkan, ada yang sampai mencoba bermain di antara keduanya tanpa benar-benar berhasil menetapkan arah.
Akibatnya, pengalaman makan kuliner ini tidak pernah konsisten. Hari ini bisa terasa enak, besok bisa terasa biasa saja, dan lusa bisa terasa asing. Di sinilah letak kebingungan itu. Lotek tidak bisa memberimu pegangan pasti, atau definisi yang jelas akan rasanya.
Visual yang kelewat sederhana dan tidak pernah ikonik
Gudeg memiliki tampilan yang langsung dikenali. Warna cokelat keemasan, krecek yang merah, telur yang utuh, dan nasi putih yang menjadi fondasi. Semua itu menciptakan identitas visual yang kuat. Masalahnya, lotek tidak memiliki kemewahan itu.
Sepintas, kuliner ini terlihat seperti campuran sayur dengan saus kacang yang dituangkan begitu saja. Tidak ada elemen yang benar-benar mencuri perhatian. Sayuran rebus yang cenderung pucat, lontong atau nasi yang netral, dan bumbu kacang yang menutupi hampir semua permukaan.
Secara visual, ia tidak menawarkan sesuatu yang khas. Bahkan bagi yang pertama kali melihat, lotek bisa dengan mudah disalahartikan sebagai hidangan lain.
Lotek adalah makanan yang sederhana. Semua orang bisa membuatnya sebagai hidangan yang tidak ribet. Kesederhanaan ini sebenarnya bisa menjadi kekuatan. Namun dalam konteks kuliner Jogja yang kaya simbol, kuliner ini justru tenggelam. Kuliner ini tidak cukup berbeda untuk diingat. Tapi, juga tidak cukup biasa untuk diabaikan sepenuhnya. Posisinya menggantung, seperti identitasnya sendiri.
Saya yakin, kuliner ini tidak akan pernah jadi primadona seperti gudeg. Bahkan, mungkin memang tidak perlu. Di saat kuliner lain sibuk membangun citra dan mencari validasi, lotek tetap berjalan pincang dengan percaya diri.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Lotek Jogja, Kuliner yang Terlampau Inovatif
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















