Long Weekend Itu Memang Menyenangkan, kecuali untuk Warga Jogja

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah (unsplash.com)

Pertanyaannya, warga Jogja kalau long weekend ke mana? Ya, di rumah. Mau gimana lagi?

Bulan Mei patut diberi gelar bulan paling murah hati. Tanggal merahnya bertebaran di mana-mana dan beberapa jatuh dengan sangat baik: di akhir pekan. Long weekend yang rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Bagi banyak orang, long weekend adalah tanda untuk pergi. Tapi bagi saya dan mungkin beberapa orang lainnya yang hidup di Jogja dari pagi sampai malam setiap hari, long weekend adalah momen yang pas untuk tidak ke mana-mana atau setidaknya tidak ke pusat keramaian kota.

Entah sejak kapan, Jogja menjadi jawaban otomatis ketika ada orang bertanya “Enaknya liburan ke mana ya?”. Memang, patut kita akui kehebatan Jogja yang palugada ini, apa lu mau gua ada. Mau ke pantai, gunung, kulineran, wisata sejarah tinggal pilih karena semuanya ada di sini. Memang Jogja seperti paket lengkap.

Masalahnya, semua orang Indonesia kayaknya punya pikiran yang sama.

Kota Istimewa tiba-tiba penuh

Setiap long weekend, Jogja tiba-tiba terasa penuh. Kalau ramai memang wajar, setiap hari juga ramai dan macet, tapi saat long weekend rasanya macetnya masuk mode hardcore. Rasanya seperti mau bersaing dengan kemacetannya Jakarta. Jalan Solo, Kaliurang, Magelang, Ring Road, dan jalan tengah kota lainnya jauh lebih padat daripada biasanya. Bahkan jalan-jalan kampung kecil di dekat rumah saya pun tiba-tiba dipenuhi mobil plat luar kota yang kemungkinan besar disesatkan oleh Google Maps.

Kalau diperhatikan jalanan yang super penuh itu didominasi plat B, AD, L, H, dan banyak plat lainnya. Plat AB jelas masih ada, tapi kalau dibandingkan biasanya jumlahnya berkurang signifikan. Seolah-olah warga Jogja kompak memilih untuk minggir sejenak, tidak ikut meramaikan jalanan, dan berdiam di rumah saja.

BACA JUGA: Jogja Itu Membosankan, tapi Saya Nggak Punya Alternatif Kota Wisata Lain

Pindah moda pun rasanya tidak banyak membantu. Stasiun Tugu dan Lempuyangan sama-sama penuh. KRL Jogja-Solo juga jauh lebih padat dibanding hari lainnya yang juga sudah padat. Mentang-mentang mendapat kursi, bisa masuk ke gerbong saja sudah syukur karena kalau tidak siap-siap menunggu KRL berikutnya yang intervalnya bisa 30 menit hingga hampir 2 jam. Walau kadang saat libur datang, interval KRL akan dibuat lebih singkat tapi ya tetap tidak sesingkat interval kereta di Jakarta.

Lalu, warga Jogja ke mana?

Di pusat kota, kondisinya tidak jauh berbeda. Malioboro dipenuhi ribuan orang bahkan di siang hari saat matahari rasanya di atas kepala. Tempat makan hits seperti kopi klotok, sate ratu, gudeg sagan, ayam artomoro, dan banyak lainnya penuh antrean yang rasanya tidak punya ujung.

Bahkan mal yang notabenenya bukan tempat wisata karena mal di segala tempat isinya mirip, juga tidak mau kalah. Pakuwon Mall dan Ambarrukmo Plaza seperti kedatangan manusia dari seluruh Indonesia. Bahkan, saya pernah tidak mendapatkan pakiran motor (Iya motor! Bukan mobil) di Pakuwon yang memiliki parkiran motor seluas itu. Rasanya agak tidak masuk akal, tapi tetap saja terjadi. Itu saja naik motor, apalagi jika naik mobil di mal, kalau di Amplaz sepertinya udah dapat parkiran yang di rooftop samping masjid saking penuhnya.

Pertanyaannya, warga Jogja kalau long weekend ke mana? Ya, di rumah. Mau gimana lagi?

Mungkin kalian akan berpikir, orang Jogja itu terberkahi. Mereka hidup di tempat wisata. Healing adalah kegiatan sehari-hari. Bisa jadi itu benar, bisa jadi itu yang orang Jogja rasakan. Tapi coba simulasikan ini di kepala kalian: bagaimana perasaan kalian jika tiba-tiba tempat tinggal kalian diserbu jutaan orang?

Di titik ini, dengan mempertimbangkan kondisi jalanan, diam di rumah rasanya keputusan paling rasional. Bahkan bisa jadi satu-satunya cara. Ikut plesir bakal terdesak, malah berakhir tak menyenangkan.

Mungkin memang begitu cara warga Jogja menghadapi long weekend. Bukan ikut meramaikan tapi justru memberi ruang bagi para pendatang. Menunggu sampai kota ini kembali ke mode normal yang tidak terlalu padat, tidak terlalu tergesa, dan kembali menjadi Jogja yang mereka kenal sehari-hari.

Penulis: Keysha Rizky Fadilla
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Panduan Berwisata di Jogja agar Terhindar dari Pengalaman Buruk dan Kapok Kembali

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version