Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Logika New Normal Jelas Nggak Cocok sama Kehidupan Pesantren, Titik!

Rusda Khoiruz Zaman oleh Rusda Khoiruz Zaman
13 Juni 2020
A A
Mempertanyakan Mengapa Santri Dilarang Punya Rambut Gondrong terminal mojok.co

Mempertanyakan Mengapa Santri Dilarang Punya Rambut Gondrong terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Perlahan tapi pasti, ‘new normal’ atau kelaziman baru semakin menemukan bentuknya. Sejak idenya digulirkan pada pertengahan bulan lalu, efeknya mulai terasa. Jalanan mulai dipadati, kantor-kantor dibuka, pasar kian ramai, tempat wisata diserbu dsb. Lalu, bagaimana dengan kehidupan pesantren yang berbasis komunitas dan cenderung komunal, apakah juga akan mengikuti new normal yang condong menghendaki tata kehidupan yang individualistik itu?

Sebut saja Sugik, teman saya satu ini ketar-ketir seandainya pesantren kami mengikuti (anjuran) tren new normal. Artinya, dia sudah tidak bisa lagi bertukar atau minjam barang milik temannya. Bagaimana tidak, nantinya pasti banyak protokol-protokol kesehatan segala, peraturan pondok saja sudah banyak, eh, ini malah mau ditambahin protokol yang bikin ribet itu, katanya.

Puncak kenikmatan ngobrol via whatsapp dengan teman yang nggak lama ketemu memang mengghibah, sambat, dan sebangsanya. Tiba pada satu titik (ghibahan), si Sugik mencoba ngungkit-ngungkit kelakuan si Arman (nama samaran) yang kelewat batas kalau pinjam itu. Saya nggak yakin Arman akan taat protokol new normal andai kata pesantren jadi masuk. Boro-boro bawa peralatan makan pribadi, vitamin C, madu, nutrisi, masker, hand sanitizer, sajadah (meski tipis) dsb. Haaa wong seumpama semua barang yang ia pinjam diminta oleh sang empu saja sudah barang tentu ia bakalan telanjang!

Saya membaca pesan Sugik sambil cekikan seraya bibir ini tergerak sendiri kemudian berujar: Ooo cah kucluk!

Hampir seluruh anak komplek Mawar sudah mafhum bahwa sekujur tubuh Arman selalu dibalut dengan barang pinjaman, mulai ujung kepala sampai pucuk kaki. Peci, koko, kaos, sarung, bahkan sempak pun kadang ia rela joinan, lur. Yang jelas, ini bukan sekedar anggapan, melainkan fakta. Buktinya, pakaian anak se komplek yang jumlahnya sekitar 250an sudah khatam ia gilir selama tiga tahun belakangan ini. Semua pernah jadi korban. Itu baru soal pakaian. Kabar baiknya, santri modelan Arman begini nggak hanya satu tapi turah-turah.

Mungkin, yang dimaksud Gus Nadir jangan mau sekadar latah ikut-ikutan protokol new normal yang dibuat oleh “mereka yang bahkan tidak paham” dunia pesantren seperti apa via unggahan Instagramnya. Mereka yang tidak paham (((dunia perjoinan sempak))), Gus. Sebagai orang yang lahir dari tradisi pesantren tulen, Gus Nadhir musti khawatir dengan bahaya laten kelakuan santri macam Arman bila protokol new normal diterapkan bagi pesantren.

Sudah jelas pula alasan pemulangan santri yang mendadak itu sejalan dengan kaidah fiqh: dar’ al-Mafasid Muqoddam ‘ala Jalb al-Mashalih (menghindari kemudaratan lebih diutamakan daripada mengambil manfaat) semata untuk menghindari bahaya Covid-19, kok. Kenapa Kemenag sejak awal nggak mengimbau saja untuk menginisiasi lockdown secara mandiri di dalam pesantren alih-alih memulangkan para santri. Lah sekarang, sudah aman di rumah, eh, malah disuruh kembali sesuai dengan protokol new normal. Ramashoook. Apa nggak takut pesantren menjelma jadi episentrum dan bom waktu penularan Covid-19?

Logika new normal ini jelas tidak cocok dengan kehidupan pesantren. Lebih cocok untuk pasar dan mall. Ngapain juga ada protokol new normal di pesantren kalau emang sudah steril dari Covid-19. Lagipula, meski protokol Covid-19 diterapkan, juga nggak bakal tuh menjamin menahan penyebaran kalau di dalam pesantren saja sudah ada yang positif.

Baca Juga:

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

Persamaan Kontroversi Feodalisme Pondok Pesantren dan Liverpool yang Dibantu Wasit ketika Menjadi Juara Liga Inggris

Coba di angan-angan, logika new normal ala jaga jarak yang individualistik itu kelak terpatahkan oleh kelakuan para santri sendiri.

Sepengalam saya selama 9 tahunan jadi santri, perkara tidur nggak pernah saya pusingkan, asal ada tempat datar di situlah tempat tidur. Saya terbiasa tidur berdesakan tanpa alas alih-alih mencari kehangatan. Bahkan, saking berdesakannya, tahu-tahu pas bangun salah satu tangan saya masuk ke dalam sarung teman, jempolan badek kaki mendarat persis di hidung saya, dan yang menggelikan, kadang, ada juga posisi tidur yang menyerupai orang saat bercinta. Berhadap-hadapan. Mirip-mirip sedang cip*kan, lah. Hus saru.

Untuk urusan makan, saya nggak pernah ambil pusing. Asalkan ada talam, makan berdelapan melingkar pun jadi.

Soal mandi, agar mempersingkat waktu, mandi bareng-bareng dalam sepetak kamar mandi jadi solusi utama biar nggak telat mengikuti kegiatan. Sehari bisa mandi 2 kali saja itu sudah sangat paripurna mengatasi kelembaban selangkangan di dalam sarung ini. Belum lagi peralatan mandi seperti sabun, sikat, handuk seringkali kami pakai bergantian.

Haisss, tenan, protokol kopet cuman diguyu karo santri, lur. Hahaha. Itu baru soal keseharian belum infrastruktur.

Jangan ditanya bagaimana kesiapan klinik pesantren. Sekali waktu saya pernah periksa sakit demam menunggu sampai 2 jam gara-gara antrian membludak. Obat yang diberikan pun tidak main-main: Amoxilin. Mau sakit gudik, gatal, panu, demam dsb obatnya tetap amoxilin, lur!

Kendati gedung-gedung pesantren beserta sekolahnya menjulang tinggi dan banyak, tetap saja untuk menampung santri yang jumlahnya ribuan akan tetap berdesakan. Pesantren nggak seperti di rumah, yang sepetak kamar bisa kita gunakan salto-salto sendiri. Kelas sekolahan acapkali diterapkan sistem shift karena kurangnya ruang.

Kalaupun masih ngotot new normal  harus diterapkan di pesantren. Apakah Kemenag siap membiayai pembangunan ataupun pelebaran pesantren? Biar bisa social distancing, gitu. Ups. Jika sanggup, masih ada pertanyaan lain menunggu, membangun pesantren bukan hanya soal kesanggunpan materi (uang) tapi dibutuhkan laku tirakat pak Kyai. Apa bapak Menag mampu? Ah sudahlah jangan kebanyakan tanya, bisa berabe nanti kalau yang menjawabnya pak Isilove.

Pendek kata, pesantren adalah lembaga yang berdiri di atas semua golongan! Jangan seenaknya ngatur pesantren pakai prorokol kelaziman baru, bisa kualat tuan dan puan nanti! Apalagi pakek logika pasar dan mall. Duh, double-double kualat e!?

BACA JUGA Nggak Usah Tersinggung kalau Pesantren Diasumsikan sebagai Bengkel Moral atau tulisan Rusda Khoiruz Zaman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Juni 2020 oleh

Tags: kehidupan pesantrennew normalPesantrensantri
Rusda Khoiruz Zaman

Rusda Khoiruz Zaman

Sedang mencari genre hidup yang pas.

ArtikelTerkait

lomba video new normal pemerintah mojok.co

Daripada Kemendagri Repot Bikin Lomba Video New Normal, Mending Bikin 4 Lomba Ini

23 Juni 2020
Pahit Getir Bertahan Jadi Santri Pondok di Rentang Usia 25 ke Atas terminal mojok.co

Pahit Getir Bertahan Jadi Santri Pondok di Rentang Usia 25 ke Atas

9 Februari 2021
Belumlah AfdStereotip Menyebalkan Masyarakat Awam pada Lulusan Pondok Pesantren terminal mojok.coal Nyantrinya Seseorang Kalau Belum Gudikan santri pondok pesantren gudik terminal mojok.co

Stereotip Menyebalkan Masyarakat Awam pada Lulusan Pondok Pesantren

28 Januari 2021
lembaga dakwah kampus

Jadi Anak Pendakwah Itu Nggak Selalu Menyenangkan

24 Juni 2021
Bahkan Deddy Corbuzier dan Romi Rafael pun Skeptis dengan Hal Gaib tidak percaya santet hipnotis gendam hantu penampakan horor terminal mojok.co

Pesantren Saya dan Keluarga Tak Kasat Mata yang Meneror tiap Malam Ganjil

27 Mei 2020
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

30 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

9 Rekomendasi Mobil Bekas di Bawah 100 Juta Terbaik untuk Pemula Berkantong Cekak

Cari Mobil Bekas Murah buat Lebaran? Ini Motuba di Bawah 60 Juta yang Terbukti Nggak Rewel

14 Maret 2026
Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial Mojok.co

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial

16 Maret 2026
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi (Unsplash)

KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi

17 Maret 2026
Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran   pemilik kos

4 Kelakuan Pemilik Kos yang Bikin Jengkel Penyewanya dan Berakhir Angkat Kaki, Tak Lagi Sudi Tinggal di Situ

13 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa
  • Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin
  • Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 
  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.