Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Liberalisasi Ekonomi Ditinjau dari Peluit Tukang Parkir

Dion Kristian Cheraz Pardede oleh Dion Kristian Cheraz Pardede
30 Mei 2021
A A
scan barcode juru parkir Pengalaman Berurusan dengan Tukang Parkir yang Nggak Mau Kepanasan terminal mojok.co

juru parkir Pengalaman Berurusan dengan Tukang Parkir yang Nggak Mau Kepanasan terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

“Priiit… “ Sederhana namun menggelisahkan. Betapa tidak, bunyi itu adalah tanda untuk mengocek kantong dan/atau membuka dompet untuk mengambil uang dua ribu untuk bayar parkir.

Tidak hanya berlaku di mall atau kantor. Minimarket, ATM, bahkan warung miso di jalan Adam Malik Siantar pun bayar (enak, Fren). Saya pengin sebut namanya, tapi nggak usah. Jasa misonya tidak akan saya lupakan hanya karena saya disakiti bangabang parkir.

Di paragraf sebelumnya dapat dibaca bahwa parkir berbayar di mal atau kantor adalah hal yang lumrah. Tapi, kalau dipikir-pikir makin kurang ajar jugak. Kita menggocek kantong bukan lagi untuk memarkirkan kendaraan, bahkan sekadar lewat atau mengantar penumpang. Portal parkir kini shares the same energy dengan pintu tol. Mau lewat bayar.

Tapi, bukan cuma parkir kerah putih yang makin kurang ajar. Bangabang parkir pun kuliat makin sukaknya.

Saya ambil contoh warung miso di jalan Adam Malik Siantar di seberang tadi. Misonya enak, nggak usah dibahas. Parkirnya yang kurang ajar. Nggak peduli mau sebentar atau lama, mau bungkus atau makan di situ, atau mau beli atau enggak. Berhenti = bayar.

Saya tidak keberatan membayar parkir tidak peduli resmi atau tidak. Terlebih parkir on street maupun off–street yang retribusi maupun pajaknya masuk ke dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD). Saya ini anaknya into kemandirian daerah banget.

Tapi, makin ke sini sepertinya ada pergeseran yang geser kali. Dulu, logika parkir harus bayar di toko-toko, atau warung-warung ya karena selama kita berbelanja, kendaraan kita dijaga. Jadi, lahan parkir itu gratis disediakan oleh toko atau warung. Itu bahkan cuma sebagian, karena sebagian besar malah menggratiskan lahan parkir sekaligus pelayanannya.

Tapi sekarang, kita membayar untuk berhenti. Sesaat setelah kunci sepeda motor diputar ke kiri hingga berbunyi “klik” atau “c’tek”, saat itulah bangabang parkir bangkit dari kursi plastiknya. Bangabang parkir beranjak sangat cepat, bak hiu ketika mencium darah.

Baca Juga:

4 Tabiat Tukang Parkir yang Disukai Pengendara. Sebenarnya Sederhana, tapi Tidak Semua Tukang Parkir Bisa Melakukannya 

Surat Terbuka untuk Kampus yang Menambah Mahasiswa dan Gedung, tapi Lahan Parkirnya Tetap Sempit, Logikanya di Mana?

Kadang saya cuma bonceng kakak atau ibu saya ke warung miso. Nggak makan di situ. Bungkus. Saya menunggu di motor karena memang nggak bakal lama. Lima menit selesai. TAAAPIII, pas saya mulai mundur; “Priiiit” pun mulai berbunyi dengan syahdu. Saya be like “hello!?, kan saya dari tadi di atas motor, ini duit buat apaa?? Like seriously? Omg hellow”. Tentu saja saya ucapkan itu dalam hati. Saya introvert.

Saya merasa hancur. Filosofi parkir yang seharusnya adalah sesungguhnya pada hakekatnya dan sebenar-benarnya merupakan bentuk pelayanan konsumen kini telah terkomodifikasi.

“Priiiit” bukan lagi lambang pelayanan serta pemantik senyum dan “makasih bang, *klakson dua kali*”. Seiring perkembangan zaman ia malah jadi penghuni catatan pengeluaran.

Keengganan pemilik usaha untuk menggratiskan lahan parkir ini merupakan gambaran nyata liberalisasi ekonomi. Seolah-olah terpatri di kepala bahwa asal bisa diuangkan dan menambah penghasilan, kenapa harus gratis?

Memang dalam ilmu ekonomi ada frasa terkena “there’s no such things as free lunch”. Tapi, hey! Kan saya udah bayar misonya. Mau lunch, dinner, atau breakfast juga bukan urusan anda! Pokoknya saya bayar. Kenapa pas saya pulang ditagih duit lagi?

Protes saya ini bukan semata soal angka. Ini soal filosofi. Mengkomersialkan sesuatu yang seharusnya sudah bagian dari pelayanan adalah gejala. Cara pandang kita sebagai makhluk ekonomi makin parah, hingga mengatasi peran kita sebagai makhluk sosial.

Di atas, saya mendeklarasikan dukungan terhadap parkir on street maupun off street karena menyumbang nominal yang cukup besar ke dalam Pendapatan Asli Daerah. Namun, bukan berarti tidak terdapat masalah.

Parkir on street tampaknya masih perlu dibuatkan regulasi baru. Ya, keuntungan daerah itu satu hal. Tapi, memakan bahu jalan hingga menyebabkan kemacetan itu outcome yang tidak main-main. Sekali lagi ini gejala. Bahkan pemerintah yang memang peran utamanya melayani menomorduakan pelayanan setelah keuntungan.

Sebenarnya tidak perlu ada hirarki soal mana yang lebih perlu. Namun, gap yang sudah tidak masuk akal antara pelayanan dan pencarian keuntungan meniscayakan hal tersebut.

Kembali lagi kepada kita manusia secara umum, ini merupakan gejala. Bukan tidak mungkin jika suatu saat pemilik warung miso langganan saya di atas menjadi Presiden Republik Indonesia, lahir tarif berjalan di atas trotoar, raskin seharga caviar, atau bahkan sekolah negeri ber-SPP setara tarif bimbel logo gajah.

Untuk hal kemacetan mungkin bisa dihadirkan regulasi yang mewajibkan pemilik usaha menyediakan lahan parkir sekian meter untuk mencegah kemacetan. Nggak papa lah bayar, asal jangan dibentak orang lewat pas mau keluar parkir.

Cara pandang “kalau bisa mendatangkan duit, kenapa harus gratis” pada hakikatnya memang berbahaya. Bagaimana jika suatu siang saya sangat lapar dan memutuskan ke warung miso tadi dengan uang pas satu porsi miso?

BACA JUGA Saya Anti-kapitalisme, Bukan Orang Gila dan tulisan Dion Kristian Cheraz Pardede lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Desember 2021 oleh

Tags: Keuangan Terminalkomersialisasi layananlahan parkirTukang Parkir
Dion Kristian Cheraz Pardede

Dion Kristian Cheraz Pardede

Mahasiswa FH USU. Ayah saya petani, ibu saya jual mi babi.

ArtikelTerkait

Perempuan yang Nggak Pakai Emas-emasan di Kampung Saya Sering Dianggap Hidupnya Susah dan Nggak Bahagia terminal mojok

Perempuan yang Nggak Pakai Emas-emasan di Kampung Saya Sering Dianggap Hidupnya Susah dan Nggak Bahagia

19 Juli 2021
Biaya Admin Makin Mencekik, Mending Jadi Tukang Parkir Indomaret daripada Jualan di Marketplace

Biaya Admin Makin Mencekik, Mending Jadi Tukang Parkir Indomaret daripada Jualan di Marketplace

20 Februari 2024
scan barcode juru parkir Pengalaman Berurusan dengan Tukang Parkir yang Nggak Mau Kepanasan terminal mojok.co

Pengalaman Berurusan dengan Tukang Parkir yang Nggak Mau Kepanasan

12 November 2020
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

Jangan-jangan, Kita Ini Sebenarnya Butuh Tukang Parkir dan Nggak Benci sama Mereka

8 Desember 2025
Malang Kota Wisata Parkir, Tiap Sudut Kota Kini Dikuasai Tukang Parkir Semakin Nggak Nyaman

Malang Kota Wisata Parkir: Tiap Sudut Kota Kini Dikuasai Tukang Parkir, Semakin Nggak Nyaman

25 Agustus 2024
5 Pekerjaan yang Menghasilkan Banyak Cuan dalam Hitungan Jam selain Tukang Parkir dan Pak Ogah

Yang Fana Itu Waktu, yang Abadi Adalah Tukang Parkir ATM yang Tetap Minta 2 Ribu sekalipun Mereka Tak Berguna

1 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Surabaya Belum Setara Jakarta: Cukup 2 Alasan Kenapa Kota Terbesar Kedua Ini Belum Siap Jadi Venue Konser Kpop

Surabaya Belum Setara Jakarta: Cukup 2 Alasan Kenapa Kota Terbesar Kedua Ini Belum Siap Jadi Venue Konser Kpop

29 April 2026
Bandung Setelah Lebaran Jadi Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk Warlok Mojok.co semarang

4 Hal yang Lumrah di Bandung tapi Tampak Aneh di Mata Orang Semarang

30 April 2026
IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat mojok.co

IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat

30 April 2026
kecamatan pedan klaten tempat tinggal terbaik di jawa tengah (Wikimedia Commons)

Kecamatan Pedan Klaten: Tempat Tinggal Terbaik di Kabupaten Klaten yang Asri, Nyaman, Penuh Toleransi, dan Tidak Jauh dari Kota

29 April 2026
Vario 125, Motor Honda yang Bikin Sesal, tapi Nggak Tergantikan (Wikimedia Commons)

Saya Menyesal Nggak Pakai Vario 125 dari Dulu karena Motor Honda Ini Nggak Bikin Bangga tapi Nyatanya Nggak tergantikan

1 Mei 2026
Banyumas yang Semakin Maju Bikin Warga Cilacap Iri

Guyonan “Banyumas Ditinggal Ngangenin, Ditunggoni Ra Sugih-sugih” Adalah Fakta Buruk yang Dipaksa Lucu

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing
  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.