Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

LGBT, Penyebab Bencana dan Penghuni Neraka

Perdana Nanda oleh Perdana Nanda
6 Agustus 2020
A A
LGBT lesbian gay MOJOK.CO

LGBT lesbian gay MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Kok gini amat ya jadi seseorang yang punya orientasi seksual bereda dari mayoritas orang. Selalu sakit hati dan tak jarang dirundung ketakutan. Gimana nggak sakit hati kalau LGBT selalu digambarkan sebagai makhluk menjijikan dan amoral.

Mustahil juga gue nggak takut kalau LGBT selalu dituduh akan membuat Indonesia bernasib sama seperti Sodom dan Gomora, gunung meletus, banjir, Tsunami, dan longsor terjadi. Untungnya, sampai sekarang, belum bisa dibuktikan klaim super ngawur itu. Kalau sampai terbukti, mungkin gue akan mengutuk diri gue sendiri, juga kaum LGBT laknat yang lain.

LGBT juga seolah mendapat hak paten menjadi penghuni neraka. Bahkan sebelum pengadilan mengeluarkan putusan di mana Tuhan yang menjadi Hakimnya. Duh, Tuhan, malang bener nasib gue.

Tapi Seandainya bisa memilih, gue nggak bakalan mau lahir ke dunia di mana gue dipaksa mengisi peran antagonis. Sementara itu, orang-orang bebas, sebebas-bebasnya memaki dan menghakimi sesuka hati. Seandainya sebelum gue lahir, Tuhan memberi kebebasan memilih, sudah pasti gue akan memilih supaya orang melihat dan memperlakukan gue layaknya manusia, sesederhana itu.

Tapi sayang, keberuntungan itu belum mau berpihak ke gue. Keberuntungan itu masih sibuk melayani mayoritas orang di luar sana. Tinggalah gue berselimut kabut pekat plus bahan gunjingan dan olok-olok oleh mereka yang mengkultuskan diri sebagai orang yang paling suci nihil dosa, walau gue juga nggak tau sih defenisi SUCI dan DOSA itu apa.

Sejak memutuskan untuk stop pura-pura dan coming out ke orang-orang perihal orientasi seksual, gue bukan tidak menyadari risiko yang bakalan muncul. Dan ternyata, kekhawatiran gue itu memang menjelma menjadi kenyataan.

Gue menerima penghakiman, tidak hanya dari lingkungan sekitar, tapi juga dari orang terdekat, di mana gue sebelumya begitu naif bahwa mereka yang notabene keluarga bakalan nerima orientasi gue dan akan merangkul gue dengan memberi dukungan dan semangat. Tapi ternyata jauh panggang dari api.

Gue tambah hancur ketika melihat nyokap bercucuran air mata dan sangat kentara bahwa dia begitu kecewa. Menyakitkan, ketika kualitas hidup gue dinilai sebatas orientasi seksual yang tidak diterima masyarakat umum. Hari-hari gue benar-benar kontras dengan sebelumnya.

Baca Juga:

5 Dosa Shopee yang Merugikan Seller, Lama-lama Bikin Bangkrut!

Suara Hati Anak Haram: Berhentilah Mengaitkan Saya dengan Dosa yang Tidak Saya Lakukan dan Jelas Tidak Saya Inginkan

Teman-teman gue yang biasanya militan, perlahan-lahan menjauh dan hanya segelintir tertinggal. Seolah-olah gue adalah wabah penyakit yang harus dibasmi agar tak menjangkiti orang-orang, atau kriminal yang selekasnya ditangkap dan diadili agar tak bikin resah. Tak peduli walau organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyatakan kalau LGBT bukan penyakit atau gangguan jiwa.

Sayang sekali, negara juga segendang sepenarian dengan orang yang mencaci-maki gue. Nyaris tak ada ramah-ramahnya negara memperlakukan LBGT.

“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonsesia“, hanya slogan indah yang tak diindahkan. Beberapa kali negara bahkan berniat memasukkan larangan LGBT ke KUHP. Jelas, negara memandang LGBT sebagai bentuk tindakan kriminal.

Ada juga kepala daerah yang mengelurkan PERDA diskriminatif dengan spesifik mengatur larangan LGBT. Lewat praktik nyata ini, jelas kalau sikap negara yang kontradiktif dengan amanatkan konstitusi, di mana negara wajib melindungi hak tiap-tiap warga negara.

Yang disebutkan hak tiap-tiap warga negara, bukan kelompok apalagi mayoritas. Negara mengingkari dan tutup mata dengan realita yang jelas berseberangan dengan konstitusi. Negara masih abai dalam melindungi hak-hak minoritas, seperti kaum LGBT.

Jika negara memang peduli kepada minoritas, persekusi terhadap Mira sang traspuan yang dibakar hidup-hidup di Cilincing, Jakarta utara, pada April lalu, tak akan terjadi. Dan Mira hanya satu dari banyak kasus persekusi yang menimpa traspuan di negeri tercinta ini.

Sangat disayangkan, ketika negara yang seharusnya menjamin hak tiap individu, tapi terjebak dalam suara-suara yang kencang dan nyaring (baca: mayoritas). Saking sibuknya negara “menjaga perasaan” mayoritas , Mira harus kehilangan nyawa, dan mungkin gue akan jadi kandidat selanjutnya. Negara terlalu lama fokus pada pada satu titik, tapi lupa kalau di titik lain ada manusia, WNI, terseok-seok, nafas tersengal, berdarah-darah, untuk mengejar Keadilan.

Dan jika kembali membahas hidup gue yang malang, begitu banyak hal yang memang sudah gue pertaruhkan ketika memutuskan untuk mewartakan kalau gue LGBT ke dunia. Apakah gue menyesal? Jawabanya, tidak.

Sudah 20 tahun gue hidup memakai topeng. Pura–pura normal dengan memaksakan diri menyukai kaum hawa, kencan dengan mereka, pasang senyum semringah agar terlihat bahagia, tapi ujung-ujungnya gue tersiksa sendiri karena gue tak ubahnya seorang penipu. Menjadikan mereka alat untuk menutupi “borok” gue, jelas tidak adil bagi mereka.

Seandainya gue tetap memaksa pura-pura “normal” dan sampai tahap gue harus menikah karena mengikuti konstruksi sosial, jelas semakin tidak adil buat mereka. Bayangkan jika suatu hari mereka tahu bahwa partner/suami mereka ternyata bukan jati dirinya yang sebenarnya. Apa tidak kasian?

Setelah banyak pertimbangan, gue nggak menyesal sudah coming out ke publik. Walau hidup rasanya pahit, sulit ,dan ruang gerak menjadi terbatas. Gue percaya manusia itu paling mudah beradaptasi walaupun dalam kondisi tidak ideal. Semoga gue akan baik-baik saja, hari ini, dan sampai kiamat tiba.

BACA JUGA LGBT, Ngakunya Menolak, Tapi Ternyata Nggak Anti Sama Lesbian atau tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Agustus 2020 oleh

Tags: dosagaylgbtpenghuni neraka
Perdana Nanda

Perdana Nanda

Lahir dan besar di Jakarta. Hijrah ke Medan pada 2017. Hobi membaca dan menulis.

ArtikelTerkait

Surat untuk Anakku, jika Kelak Kau Seorang Gay ataupun Transgender terminal mojok.co

Surat untuk Anakku, jika Kelak Kau Seorang Gay ataupun Transgender

11 September 2021
Koch justin netizen indonesia @txtdaricoachy ted lasso coach justin pendapat opini assist mojok

Netizen Indonesia Memang Kayak Bocah. Sukanya Merisak, Dirisak Balik Ngambek

13 April 2021
5 Dosa Saat Memakai Foundation yang Sebaiknya Dihentikan Terminal Mojok

5 Dosa Saat Memakai Foundation yang Sebaiknya Dihentikan

12 April 2022
welas asih tuhan

Jangankan yang Cuma Berdosa, yang Nggak Beriman Saja Tetep Kebagian Welas Asih Tuhan, Kok

15 Mei 2020
7 Dosa Besar Optik yang Bikin Pelanggan Minggat

7 Dosa Besar Optik yang Bikin Pelanggan Minggat

7 Desember 2023
4 Dosa Saat Masak Nasi Goreng yang Nggak Disadari Terminal Mojok

4 Dosa Saat Masak Nasi Goreng yang Nggak Disadari Banyak Orang

22 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

Surat Terbuka untuk KAI: War Tiket Lebaran Bikin Stres, Memainkan Perasaan Perantau yang Dikoyak-koyak Rindu!

7 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.