Dear Lembaga Bimbingan Belajar, Tolong Pekerjakan Guru Les Privat dengan Layak

Dear Lembaga Les Privat, Tolong Kasih Upah yang Layak ke Pengajar Mojok.co

Dear Lembaga Les Privat, Tolong Kasih Upah yang Layak ke Pengajar (unsplash.com)

Sudah sejak lama les privat jadi penunjang prestasi belajar anak. Salah satu tulisan di Terminal Mojok bahkan mengatakan kalau les itu bengkel rapor sekolah atau pelarian dari pendidikan formal yang tidak efektif. Pokoknya bimbel jadi opsi alternatif pendidikan anak.

Tidak heran kalau lembaga bimbingan belajar atau bimbel kian menjamur, termasuk di Jogja. Di daerah ini ada banyak palajar dan sebagian besar pelajar mengisi waktu luang dengan ikut les umum maupun les privat. Berharap kegiatan ini bisa bermanfaat memperbaiki prestasi sekolah.

Tidak semua lembaga bimbel punya gedung yang megah dan banyak karyawan. Beberapa lembaga bimbel, hanya dijalankan oleh satu hingga dua orang di tempat yang sedrhana, bahkan tidak ada kantornya. Namun, saya tetap menyebutkan dengan lembaga karena begitulah mereka menyebut usaha mereka sendiri.

Mengingat latar belakang saya di bidang pendidikan, saya pernah iseng mendaftar sebagai guru les privat di salah satu lembaga bimbel.

Saya mendaftar sebagai guru les di sebuah lembaga bimbingan belajar. Dan, setelah setahun menjadi guru les, ada banyak hal yang membuat saya merasa bahwa lembaga bimbel terkadang tidak manusiawi.

Sudah menerima murid les, tetapi belum ada gurunya

Hal yang unik dari beberapa bimbel, mereka baru mencari guru les privat setelah mendapatkan murid. Biasanya, lembaga bimbel akan mencari guru yang diikuti spesifikasi sesuai siswa. Misal, sedang butuh guru untuk les fisika dengan area alamat tertentu dan honor sekian.

Bagi saya, ini lucu karena belum ada guru les kok bisa-bisanya menerima siswa. 

Guru dan pemilik bimbel tidak pernah bertemu sama sekali

Meskipun sudah setahun lebih saya menjadi guru les privat, saya belum pernah melihat muka pemilik lembaganya. Dalam artian, saya tidak tahu wajah orang yang menggaji saya. Terlihat aneh, tapi ini memang terjadi.

Semua itu terjadi karena lembaga les tidak memiliki kantor. Alias hanya beroperasi secara online. Dari mulai mencari murid, registrasi, sampai pembayaran dilakukan secara online.

Mungkin saya kalau berpapasan di jalan dengan pemilik lembaga les juga tidak akan sadar, saking tidak pernah bertemu.

Honor untuk guru les sering tidak manusiawi

Hal yang kurang saya senangi dari mitra dengan lembaga les privat adalah honornya yang terkadang tidak manusiawi. Saya pernah iseng bertanya kepada murid les saya mengenai biaya yang dia bayar kepada lembaga. Dan, setelah mendengarnya, saya terkejut. Lembaga ternyata memotong honor per pertemuan sebanyak 30%. Saya merasa bahwa potongan ini terlalu besar.

Saya juga pernah bertanya pada teman saya yang punya lembaga bimbel. Ternyata dia hanya memotong biaya dari wali murid sebesar 14%. Teman saya juga kaget saat saya cerita bahwa honor saya dipotong 30%.

Sebagai guru les privat yang mengajar, tentu saya membutuhkan bensin untuk datang ke rumah siswa dan banyak hal lain. Selain bensin saya juga meluangkan waktu dan tenaga untuk mengajar.

Sedangkan lembaga les? Apakah dia mengajar? 

Tidak ada kompensasi apapun dan kebanyakan peraturan

Suatu ketika saat sudah sampai di rumah siswa saya pernah batal les karena tidak dibukakan pintu rumah. Entah karena murid ketiduran atau capek saya tidak tahu.

Dan, saat setelah menjelaskan kepada lembaga bahwa murid tidak jadi les hari itu, saya tidak dapat kompensasi apapun. Padahal saya sudah datang ke tempat les, yang tentu pasti menggunakan bahan bakar.

Selain tidak ada kompensasinya, lembaga les juga sering kebanyakan peraturan. Yang peraturannya juga kadang aneh-aneh. Bukannya saya malas taat peraturan, tapi kalau ngasih honor belum manusiawi sebaiknya jangan berlebihan.

Itulah beberapa hal yang saya rasakah sebagai guru les privat dari sebuah lembaga les. Tentu tidak semua punya penglaman seperti saya, hanya saja, semoga pengalaman ini bisa jadi pembelajaran bersama.

Penulis: Muhammad Ubaidillah Hanan
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Kalau Mau Anak Pintar Cukup Ikut Les atau Bimbel Saja, Sekolah Cuma buat Formalitas.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version