Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Kronologi Pengepungan Desa Wadas: Sekeras Andesit Berjuang Menolak Tambang

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
9 Februari 2022
A A
Kronologi Pengepungan Desa Wadas: Sekeras Andesit Berjuang Menolak Tambang terminal mojok.co

Kronologi Pengepungan Desa Wadas: Sekeras Andesit Berjuang Menolak Tambang (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Wadas adalah kata dari bahasa Jawa yang berarti cadas alias bebatuan keras. Desa Wadas yang menyandang nama cadas ini memang keras. Selain menyimpan deposit batu andesit yang keras, masyarakat di sini juga keras menolak penambangan batu andesit tadi di desanya. Meskipun, ini harus mengorbankan kedamaian dan ketentraman.

Desa Wadas masih jauh dari hidup damai dan gemah ripah loh jinawi. Setiap bulan, selalu saja ada kabar menyesakkan dari perbukitan andesit Purworejo ini. Seolah lagu duka belum berakhir sampai setiap batuan andesit di Wadas diledakkan sebagai sumber material pembangunan proyek Bendungan Bener. Dan pengepungan Desa Wadas pada 8 Februari 2022 menjadi satu dari sekian geger gedhen di Wadas.

Jika Anda luput mengikuti kisah pilu desa ini, semua memang dimulai dari pembangunan Bendungan Bener. Sebagai calon bendungan tertinggi di Indonesia, proyek bendungan yang diapit dua bukit ini diproyeksikan mampu mengairi lahan sawah seluas 15 ribu hektar. Selain itu, bendungan ini akan menyuplai air baku untuk Purworejo, Kebumen, dan Kulonprogo. Bonusnya, tentu pembangkit listrik tenaga air yang menghasilkan listrik 6 megawatt.

Proyek Strategis Nasional (PSN) tentu membutuhkan material dalam jumlah besar, salah satunya batuan andesit. Untuk menyuplai kebutuhan batuan andesit bagi bendungan setinggi 159 meter ini, Desa Wadas dipilih menjadi lokasi tambang andesit ini. Keputusan ini berdasarkan SK Gubernur Jawa Tengah Nomor 509/41/2018.

Keputusan inilah sumber polemik dan geger gedhen di Desa Wadas. Metode penambangan menggunakan blasting atau peledak ini dikhawatirkan akan mengancam keberadaan 27 sumber mata air di desa ini. Rusaknya sumber mata air ini berpotensi merusak lahan pertanian yang selama ini menghidupi masyarakat Wadas.

Berbagai upaya baik dari masyarakat maupun pemerintah terus bergesekan. Terakhir adalah kisruh proses pengukuran tanah Desa Wadas yang diikuti dengan pengepungan oleh aparat kepolisian. Berdasarkan rilis dari Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempadewa), kisruh ini dimulai pada Senin (7/2) dengan upaya aparat kepolisian memasuki Desa Wadas. Malam harinya, terjadi pemadaman listrik di Desa Wadas. Sementara listrik desa lain sekitar Wadas tetap menyala.

Pada Selasa (8/2) pukul 07.00, pasangan suami istri warga Wadas yang akan ke kota Purworejo sarapan di warung dekat Polsek Bener sambil melihat situasi Polsek. Tiba-tiba mereka didatangi beberapa polisi. Sang suami dibawa ke Polsek Bener dan sampai rilis Gempadewa keluar, ia belum diketahui nasibnya. Sedangkan sang istri berhasil lolos dan kembali ke Desa Wadas.

Selisih satu jam, pukul 08.00 ribuan polisi bersenjata lengkap dengan anjing polisi melakukan apel di Lapangan Kaliboto. Pukul 09.00, tim pengukur dari Kantor Pertanahan Purworejo mulai memasuki Desa Wadas. Akses masuk desa di sekitar Polsek Bener telah dipadati aparat. Tidak hanya itu, pukul 10.00 beberapa mobil Polisi memasuki desa ini dan merobek serta mencopot poster penolakan tambang.

Baca Juga:

Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi

Ribuan aparat berhasil  memasuki Wadas pada pukul 10.48. Pukul 12 siang, aparat kepolisian mengepung dan menangkap warga yang sedang mujahadah di masjid Dusun Krajan. Proses ukur tanah di hutan Desa Wadas tetap berjalan. Pukul 12.24, aparat kepolisian mendatangi ibu-ibu yang membuat besek (kotak anyaman bambu) di posko-posko jaga dan merampas besek, pisau, dan peralatan pembuatan besek tadi. Enam puluh orang juga ditangkap polisi tanpa alasan yang tidak jelas.

Saya beri waktu bernafas sejenak. Dalam waktu 5 jam saja, peristiwa yang menyesakkan ini terjadi. Belum lagi beberapa “oknum” aparat berkeliling dan merangsek masuk ke rumah warga dengan paksa.

Pukul 13.05, polisi kembali menangkapi puluhan warga dan anak kecil. Polisi juga menangkap para pemuda yang hendak menuju masjid. Pada momen tersebut sampai rilisan Gempadewa ini, masyarakat susah berkomunikasi melalui handphone karena ada indikasi sinyal di-takedown atau di-jammer. Hingga pukul 17.30, banyak warga Wadas terutama ibu-ibu yang terjebak di Masjid Dusun Krajan. Beberapa warga yang membantu ibu-ibu ini keluar, juga diamankan aparat. Warga yang lain pun mencoba mengantar makanan dan minuman bagi warga di dalam masjid.

Sampai tengah malam, setidaknnya ada 60 lebih warga yang ditangkap. Kuasa hukum dari LBH Yogyakarta masih belum diberikan kesempatan mendampingi dengan alasan harus swab test. Muncul juga beberapa kabar bahwa warga yang memulai aksi yang berakhir riuh ini. Padahal menurut rilisan Gempadewa, ribuan aparat yang mengawali dengan menyebar di berbagai titik. Kepungan aparat ini yang menimbulkan ketakutan sehingga warga berkumpul di Masjid Dusun Krajan. Sementara sisanya diawasi bahkan dikejar orang yang diduga intel.

Sampai pagi ini, situasi di Desa Wadas masih belum damai. Menurut cnnindonesia.com, hari ini makin banyak aparat kepolisian yang masuk ke Desa Wadas. Listrik di Desa Wadas masih belum tersedia sehingga handphone warga mulai mati. Entah kapan pengepungan ini berakhir. Dan lebih dari itu, kapan polemik di desa sekeras cadas ini berakhir damai dan kembali gemah ripah loh jinawi.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Audian Laili

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2022 oleh

Tags: AndesitBendungan BenerDesa Wadaspilihan redaksitambang
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Pasar Malam Sekaten di Alun-alun Dilarang, tapi Dibuka di Mal? Jogja Memang Istimewa!

15 Oktober 2021
Plang Tempik Gundul dan Salah Kaprah Lainnya tentang Gunungkidul Terminal Mojok.co

Plang Tempik Gundul dan Salah Kaprah Lainnya tentang Gunungkidul

25 Maret 2022
9 Mi Instan Murah di Bawah Dua Ribu Rupiah Terminal Mojok

9 Mi Instan Murah di Bawah Dua Ribu Rupiah

10 April 2022
Cara Licik Tukang Tambal Ban Menipu Pelanggan untuk Meraih Keuntungan, Salah Satunya dengan Sengaja Nambah Lubang!

Metode Curang Tukang Tambal Ban Menipu Pelanggan untuk Meraih Keuntungan, Ban Bukannya Beres, Malah Makin Rusak!

28 Juli 2024
9 Hal Menarik yang Bisa Dilakukan di Klaten Timur Minimal Sekali Seumur Hidup

9 Hal Menarik yang Bisa Dilakukan di Klaten Timur Minimal Sekali Seumur Hidup

2 Oktober 2024
Golda Coffee, Kopi Botolan Terbaik Pesaing Kopi Saku Indomaret

Golda Coffee, Kopi Botolan Terbaik Pesaing Kopi Saku Indomaret

14 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya (Wikimedia Commons)

8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya

10 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

7 April 2026
Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa Mojok.co

Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.