Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Acara TV

KPop, Pria, dan Jodoh

Abiel Matthew Budiyanto oleh Abiel Matthew Budiyanto
13 Juli 2019
A A
pria kpop

pria kpop

Share on FacebookShare on Twitter

Saya pikir, persoalan Korean wave, serta wave-wave budaya lainnya tidaklah sesederhana yang kita lihat. Gelombang-gelombang tersebut membawa dan menyentuh banyak sekali aspek. Ada kesan tersendiri yang bisa kita lihat antara masyarakat kita dengan datangnya tren dari luar lewat hiburan. Ya, hiburan yang tujuannya menghibur, ternyata malah menyentuh dinamika gender di Indonesia.

Well, itulah culture shock. Pertanyaannya, siapa yang shock dengan datangnya wave-wave dari negara luar ke Indonesia lewat hiburan—musik, film, selebritas? Izinkan saya memberi alternatif jawaban spekulatif—pria. Ya, pria. Tentu saja anda bisa menambahkan jawaban wanita di sebelahnya. Tidak masalah, tapi saya ingin fokus pada pria. Kenapa?

Datangnya gelombang-gelombang ini patut kita lihat asal muasalnya. Sependek pengetahuan saya, ada 3 gelombang besar yang datang ke sini. Yang tentunya mengefek pada dinamika gender kita.

Pertama, gelombang anak rock dan teman-temannya. Yah, kita tentu tahu model-model seperti ini cukup ngetren di era 90-an, mungkin sampai saat ini juga, karena kadang saya melihat beberapa om-om yang penampilannya masih seperti personil band God Bless. Kedua, gelombang hip hop yang kaosnya kegedean dan celananya kebesaran. Yang di kemudian hari, gaya ini dipakai bocah-bocah belum matang untuk berfoto di akun Fmereka lengkap dengan caption asmara yang kampungan namun lucu. Lalu yang ketiga, gelombang dari—apa ya bilangnya—daerah Tiongkok dan sekitarnya, China Taiwan-Korea. Ya ini jelas, sebut saja Jet Li, Meteor Garden, serta BTS dan teman-temannya.

Tapi, yang menarik, justru stigma negatif yang disematkan pada negara terakhir yang saya sebutkan di atas. Stigma aneh-aneh dilekatkan pada mereka, entah itu gay, banci, ngondek, dan lain-lainnya. Meskipun ada beberapa (pria) yang menanggapinya dengan positif, bahkan mengikuti tren tersebut. Namun saya rasa itu tidak banyak. Sisanya menghujat, menghujat, dan menghujat. Bagian yang paling asyik dari ini semua adalah bertanya. Seperti Socrates yang cukup menyebalkan dengan hobinya mendebat orang di kota yang tidak salah apa-apa. Mungkin kita bertanya kenapa, bagaimana, apa, siapa, apakah kamu sayang padaku, dan sebagainya.

Begini, ada suatu teori yang isinya bilang manusia punya tendensi untuk melihat sesuatu sebagai suatu kesatuan. Terintegrasi, seperti alur TransJakarta. Kalau kita kaitkan, maka yang paling nampak adalah hubungan idola-fans. Idola dengan fans, merupakan suatu kaitan yang terintegrasi.

Bisa jadi, salah satu alasan mengapa terjadi perundungan pada citra pria-pria dari Korea Selatan ini justru karena militansi fans mereka. Saya sih, tidak ingin naïf dengan mengatakan fans KPop itu tidak masif dan militan, sebab kenyataannya memang begitu. Karena setahu saya idola mereka memang digilai dengan segala talenta mereka, bahkan sampai mendunia ke mana-mana. Wajar kalau mereka punya fans yang militan yang kadang ya…menyebalkan.

Jeleknya adalah, beberapa dari kita yang mungkin benci dengan fans mereka, malah jadi ikutan membenci idola mereka. Ya, ibarat Pilpres kemarin begitu, kita nggak suka sama Jokowi atau Prabowo, tapi jadi ikut-ikutan nggak suka sama tetangga kita karena berbeda pilihan politik tersebut.

Baca Juga:

Alasan Mengapa Anak Madura yang Kuliah di Jakarta Lebih Sulit Menemukan Pasangan ketimbang yang Kuliah di Jogja

7 Ide Usaha Paling Laris dan Unik Selama KPop Masih Digemari di Indonesia

Namun, kita belum menyentuh aspek pria di sini. Penjabaran di atas anggaplah sebagai jawaban umum mengapa kita merundung oppa-oppa itu. Sebetulnya nih, kita harus salut dan berterimakasih dengan masuknya gelombang Korea ini. Kenapa? Sebab mereka sebetulnya berhasil mendobrak definisi pria ideal di kebanyakan kepala pria di negara berflower ini.

Mengapa bisa? Opini saya begini—percaya atau tidak, definisi pria ideal di kepala tiap pria akan bergantung pada definisi pria ideal yang ada di kepala wanita. Ya, anda sudah menjadi bucin—budak cinta—sejak dalam pikiran. Bagaimana dengan wanita? Entahlah, saya tidak berani berspekulasi karena saya sendiri bukan wanita.

Sekarang jika ternyata oppa-oppa ini begitu disukai wanita—gebetan anda—maka bisa jadi di kepala anda harus ada revisi mengenai definisi pria ideal itu. Sialnya, di kepala anda sudah terpatri bahwa pria ideal itu adalah yang begini-begitu-pokoknya-tidak-seperti-orang-korea-itu. Sialnya lagi, setelan orang Korea itu susah kita ikuti. Coba lihat kulit mulus mereka, kulit halus mereka, bandingkan dengan kita yang hidup di negara tropis yang suhunya cukup panas. Belum lagi umumnya kulit orang-orang di sini sawo matang. Itu baru dari aspek fisik, belum yang lain-lainnya. Seperti dance misalnya—di sini dance masih identik dengan kegiatan yang wanita banget, sehingga pria-pria mungkin hanya bisa melepaskan hasrat berjoget ini di hadapan biduan dangdut saat acara 17 Agustus di wilayah setempat saja.

Jadi, bagaimana sekarang, pria tampan? Tidak perlu bingung. Karena kita ini negara religius, maka tidak perlu takut soal-soal duniawi macam begitu. Ingatlah kalau dia memang jodoh anda, niscaya seperti pasir di laut bertemu dengan senja di langit, maka ia akan selalu menuju kepada anda.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: idol koreajodohkorean wavekpoppria
Abiel Matthew Budiyanto

Abiel Matthew Budiyanto

ArtikelTerkait

orang jelek cinta pacaran tahu diri Memahami Tweet Jefri Nichol: Ngapain Marah-Marah, kalau Kenyataanya Kita Memang Jelek?

Orang Jelek Emang Berhak Jatuh Cinta, tapi Harus Tahu Diri Dong

9 Juni 2020
Memangnya Kenapa Kalau Orang Jelek Pilih-Pilih Pasangan?

Memangnya Kenapa Kalau Orang Jelek Pilih-Pilih Pasangan?

15 November 2019
ukhti

Ukhti, Mengapa Aku Berbeda?

23 Agustus 2019
#BiroJomblo di Twitter: Alternatif dalam Menemukan Kenalan Hingga Jodoh

#BiroJomblo di Twitter: Alternatif dalam Menemukan Kenalan Hingga Jodoh

16 November 2019
nicholas saputra ganteng bikin repot mojok

Bagi Laki-laki, Nicholas Saputra Adalah Sosok yang Merepotkan

30 September 2020
Pengin Jodoh Kayak Hinata Hyuga? Emang Kamu Bisa Kayak Naruto? terminal mojok.co

Pengin Jodoh Kayak Hinata Hyuga? Emang Kamu Bisa Kayak Naruto?

6 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
4 Hal yang Harus Penumpang Ketahui tentang Stasiun Duri, Si Paling Sibuk dan Melelahkan se-Jakarta Barat

Stasiun Duri Lebih Bikin Stres dari Manggarai: Peron Sempit, Tangga Minim, Kereta Lama Datang

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.