Banyak orang sering mengatakan bahwa Kota Malang punya suasana yang mirip dengan Bandung. Katanya sama-sama sejuk, sama-sama kota pelajar, dan sama-sama dikelilingi pegunungan. Awalnya saya tidak terlalu percaya dengan perbandingan itu. Dalam bayangan saya, setiap kota pasti punya karakter yang berbeda. Rasanya terlalu berlebihan jika Malang disebut-sebut sebagai “Bandung versi lain”.
Namun rasa penasaran akhirnya membuat saya memutuskan untuk datang langsung ke Malang. Bukan sekadar mampir satu atau dua hari, saya sengaja mengambil waktu liburan cukup lama, sekitar tujuh hari. Tujuannya sederhana ingin melihat sendiri apakah benar suasana Malang memang mirip dengan Bandung seperti yang sering diceritakan banyak orang.
Hari pertama di Malang
Hari pertama tiba di Malang, kesan yang langsung terasa adalah udaranya yang adem. Tidak terlalu panas seperti beberapa kota lain di Jawa Timur. Ketika pagi hari, udara terasa segar dan cukup dingin, terutama jika kita berjalan di area yang banyak pepohonan. Saat itu saya langsung teringat dengan suasana pagi di Bandung yang juga terkenal sejuk.
Tetapi setelah beberapa hari berjalan-jalan di berbagai sudut kota, saya mulai merasakan perbedaan yang cukup jelas. Malang memang punya udara yang mirip dengan Bandung, sama-sama berada di daerah yang dikelilingi pegunungan. Namun ada satu hal yang menurut saya cukup menonjol: kota ini terasa lebih rapi dan terawat.
Di beberapa ruas jalan utama, tata kotanya terlihat cukup tertib. Trotoarnya relatif bersih, taman-taman kota terlihat dirawat, dan banyak area hijau yang membuat kota terasa lebih nyaman dipandang. Ketika berjalan kaki di sekitar pusat kota, suasananya terasa santai dan tidak terlalu semrawut.
Saya juga sempat mengunjungi beberapa taman kota yang cukup terkenal di Malang. Salah satunya adalah Alun-Alun Kota Malang. Tempat ini menjadi ruang publik yang cukup menyenangkan. Rumputnya tertata rapi, banyak keluarga yang datang untuk bersantai, dan suasananya terasa hidup tanpa terasa terlalu padat.
Berbeda dengan pengalaman saya saat berada di Bandung, yang dalam beberapa tahun terakhir terasa semakin padat dan ramai. Kemacetan di beberapa titik kota sering membuat suasana terasa lebih hectic. Malang juga tentu punya keramaian, tetapi skalanya terasa sedikit lebih santai.
BACA JUGA: Malang Menyiapkan Banyak Jebakan bagi Mahasiswa Baru yang Nggak Siap dan Tidak Kuat Iman
7 hari di Malang
Selama tujuh hari di Malang, saya mencoba berjalan-jalan ke berbagai tempat, mulai dari kawasan kampus, pasar, hingga beberapa tempat wisata di sekitarnya. Yang menarik, kota ini terasa cukup nyaman untuk ditelusuri tanpa harus selalu terburu-buru. Banyak jalan yang dipenuhi pohon besar, membuat suasana kota terasa teduh.
Kehidupan kotanya juga terasa cukup hidup karena Malang dikenal sebagai kota pelajar. Banyak mahasiswa dari berbagai daerah datang untuk kuliah di sini. Kehadiran mereka membuat banyak tempat makan, kafe kecil, dan warung sederhana berkembang di sekitar kampus. Suasananya mengingatkan saya pada beberapa kawasan mahasiswa di Bandung.
Namun lagi-lagi, kesan yang saya tangkap selama berada di Malang adalah keteraturan kotanya. Mungkin tidak semua sudut kota sempurna, tetapi secara umum terasa cukup tertata. Bahkan beberapa kawasan perumahan dan jalan kecil terlihat bersih dan nyaman.
Hal lain yang saya rasakan adalah ritme hidup yang sedikit lebih santai. Orang-orang terlihat menjalani aktivitas sehari-hari dengan tempo yang tidak terlalu terburu-buru. Mungkin karena ukuran kotanya tidak sebesar Bandung, sehingga tekanan lalu lintas dan kepadatan penduduk juga terasa lebih ringan.
Setelah 7 hari
Setelah tujuh hari berada di Malang, akhirnya saya mulai memahami kenapa banyak orang mengatakan kota ini mirip dengan Bandung. Kesamaan itu memang ada, terutama pada udara yang sejuk, suasana kota pelajar, dan banyaknya tempat nongkrong yang nyaman.
Namun menurut saya, Malang bukan sekadar “Bandung versi lain”. Kota ini punya karakter sendiri. Jika Bandung terasa lebih besar, lebih ramai, dan lebih dinamis, maka Malang terasa sedikit lebih tenang, rapi, dan nyaman untuk dinikmati dengan santai.
Liburan tujuh hari di Malang akhirnya membuat pandangan saya berubah. Awalnya saya datang dengan rasa tidak percaya pada perbandingan itu. Tetapi setelah melihat langsung, saya bisa memahami kenapa banyak orang menyebut Malang mirip Bandung meskipun dengan kelebihan tersendiri.
Bagi saya pribadi, Malang adalah kota yang menawarkan kesejukan, kenyamanan, dan suasana yang cukup tertata. Sebuah kota yang mungkin tidak sepopuler Bandung dalam hal pariwisata urban, tetapi justru memberikan pengalaman yang terasa lebih santai dan menyenangkan.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sisi Gelap Malang Hari ini: Masih Cantik, tapi Semakin Toxic
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat



















