Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

10 Kosakata Bahasa Sunda yang Sering Disalahpahami Orang Jawa

Ahmad Nadlif oleh Ahmad Nadlif
22 Juli 2025
A A
10 Kosakata Bahasa Sunda yang Sering Disalahpahami Orang Jawa

10 Kosakata Bahasa Sunda yang Sering Disalahpahami Orang Jawa (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pada dasarnya, antara bahasa Jawa dan bahasa Sunda memang memiliki hubungan kekerabatan. Hal ini diperkirakan karena ada beberapa pasangan kata identik. Misalnya “ambekan” dalam bahasa Sunda dan Jawa yang berarti napas, “kabeh” yang berarati semua, hingga “uyah” yang berarti garam.

Akan tetapi kedekatan antara dua bahasa ini tetap saja menimbulkan kesalahpahaman antara dua penutur. Saya dan teman saya yang berasal dari Kuningan saja sering banget salah paham. Khususnya saat dia bicara menggunakan bahasa Sunda. Sebagai orang Jawa, kadang saya salah mengartikan kata yang dimaksud teman saya.

Nah, agar miskonsepsi saya terhadap beberapa kata dalam bahasa Sunda ini tidak menjalar ke banyak orang Jawa, saya telah merangkum setidaknya 10 kata dalam bahasa Sunda yang sering disalahpahami. Khususnya oleh orang Jawa. Berikut daftarnya.

#1 “Gedang” dalam bahasa Sunda berarti pepaya, sementara orang Jawa tahunya pisang

Saya benar-benar terkejut saat teman saya menuturkan bahwa dalam bahasa Sunda, “gedang” berarti pepaya. Aneh, kan? Padahal dalam bahasa Jawa “gedang” artinya pisang. Pepaya sendiri dalam bahasa Jawa adalah “kates” atau “gandul” di beberapa daerah lainnya.

Makanya saat pertama kali mendengar kata “gedang”, saya nggak percaya. Ternyata apa yang dikatakan teman saya betul. Tentu saja kata ini dapat disalahpahami artinya jika orang Jawa yang mendengarnya nggak tahu maksud dalam bahasa Sunda.

#2 “Amis” artinya manis, bukan bau ikan

Suatu ketika saat teman saya sedang makan pisang cokelat, tiba-tiba dia bilang, “Amis pisan, euy.”

Sontak saya mengernyitkan dahi sambil membatin, “Kok amis, sih?” Soalnya begini, dalam bahasa Jawa, “amis” memiliki makna anyir yang mana identik dengan bau ikan. Tentu nggak masuk akal jika dikaitkan dengan jajanan piscok.

Akan tetapi teman saya menjelaskan bahwa dalam bahasa Sunda, “amis” berarti manis. Jadi, teman saya mengatakan piscoknya manis banget, bukan berbau amis. Gitu…

Baca Juga:

7 Istilah Dingin dalam Bahasa Jawa, Mulai dari Adem sampai Sembribit

Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto”

#3 “Jagong” dalam bahasa Jawa berarti hadir di sebuah acara, namun dalam bahasa Sunda artinya jagung

Dalam bahasa Jawa, “jagong” memilki makna hadir ke suatu acara. Namun ternyata artinya jadi berbeda dalam bahasa Sunda. Dalam bahasa Sunda, “jagong” berarti jagung. Makanya saya sempat ngang ngong waktu teman saya bilang pengin “jagong dibeuleum”. Waktu saya tanya maksudnya, ternyata artinya jagung bakar.

#4 “Sampean” dalam bahasa Sunda artinya kaki, sering membuat orang Jawa salah paham

Dulu, saya pernah ngeyel ketika teman saya yang dari Kuningan itu mengatakan “sampean” artinya kaki. Waktu itu saya bolak-balik memastikan padanya. Mungkin maksud dia samparan, soalnya dalam bahasa Jawa “samparan” artinya memang kaki.

Saya malah sempat menuduh dia dan mengatakan kalau dia salah dengar. Jadinya keliru menyebutkan “samparan” jadi “sampean”.

Akan tetapi ternyata saya yang salah. Dalam bahasa Sunda, “sampean” memiliki arti kaki. Tetapi dalam bahasa Jawa, artinya kamu.

#5 “Mamang” dalam bahasa Jawa berarti ragu, tapi bagi orang Sunda itu adalah penyebutan untuk paman

Sampai detik ini, teman saya yang berasal dari Kuningan tersebut akrab dipanggil “mamang”. Awalnya saya sempat merasa janggal, apakah teman saya itu orang yang gampang ragu sehingga dipanggil mamang atau bagaimana.

Akan tetapi setelah mendengar penjelasan darinya, saya baru menyadari kalau “mamang” dalam bahasa Sunda berbeda dengan yang dipahami orang Jawa. Teman saya bilang “mamang” di tempatnya berarti paman. Sementara saya sebagai orang Jawa memahaminya sebagai ragu.

#6 “Lada” artinya pedas, bukan merica sebagaimana yang dipahami orang Jawa

Di asrama, saya dan teman-teman cukup sering masak bersama. Nah, ada satu momen kala teman saya yang berasal dari Kuningan mencicipi sambal yang terbuat dari cabai setan. Dengan wajah memerah, dia bilang, “Lada pisan!”

Saya dan teman lainnya kaget. Kok lada, sih? Maksudnya apa? Ternyata maksud teman saya “pedas banget”. “Lada” dalam bahasanya berarti pedas, beda dengan bahasa Jawa yang memaknai lada sebagai merica.

#7 “Urang” artinya saya, bukan udang

Saya sempat kaget saat teman saya memberi tahu bahwa “urang” dalam bahasa Sunda bisa diartikan sebagai saya. Sebab sebelumnya saya tahunya cuma aing, dewek, dan abdi untuk menyebut saya. Waktu tahu “urang” bermakna saya, saya merasa heran. Soalnya dalam bahasa Jawa artinya udang.

#8 “Geulis” berarti cantik di tanah Sunda

Saat merantau ke Kabupaten Pati, saya kerap mendengar kata “geulis”. Utamanya saat ada seseorang mengantre tidak terlalu lama. Seringnya mereka akan mengatakan, “Geulis men leh.” Bagi orang Jawa, “geulis” berarti melakukan sesuatu dengan cepat.

Akan tetapi waktu saya mendengar teman Sunda saya melontarkan kata tersebut pada seorang perempuan, saya merasa aneh. Kok geulis? Memangnya perempuan itu cepat-cepat apa gimana? Ternyata kata teman saya, dalam bahasa Sunda “geulis” berarti cantik. Ealah, pantes dia mengatakannya pada perempuan.

#9 “Kasep” berarti tampan

Teman saya pernah mengatakan dalam bahasa Sunda, “kasep” berarti tampan. Hal ini tentu beda jauh dengan bahasa Jawa yang memaknai “kasep” sebagai telanjur atau terlambat karena sudah kelewat waktunya. Perbedaan makna ini kadang bikin orang Jawa dan orang Sunda salah paham.

#10 “Atos” dalam bahasa Sunda berarti sudah, sementara orang Jawa memahaminya sebagai keras

Saya pernah bertanya sekali waktu pada teman saya yang berasal dari Kuningan, apakah skripsinya sudah selesai atau belum. Teman saya menjawab, “Atos.”

Jujur saja waktu mendengar jawabannya, saya nggak paham maksudnya. Teman saya lalu menjelaskan kalau “atos” berarti sudah. Barulah saya paham. Soalnya dalam bahasa Jawa, “atos” berarti keras. Jadi nggak nyambung waktu saya bertanya soal skripsi dan teman saya malah menjawab “atos”.

Itulah 10 kosakata bahasa Sunda yang kerap disalahartikan oleh orang Jawa. Tentu saja ini hanya beberapa contohnya. Mungkin masih ada lagi kosakata lainnya yang memiliki makna berbeda antara bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Jika kalian kepikiran kosakata lainnya, boleh tambahkan di kolom komentar, kok.

Penulis: Ahmad Nadlif
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 15 Istilah Bahasa Sunda yang Sering Digunakan Sehari-hari.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Juli 2025 oleh

Tags: Bahasa JawaBahasa Sundakosakata bahasa sunda
Ahmad Nadlif

Ahmad Nadlif

Mas-mas jawa biasa.

ArtikelTerkait

madura

Drama Bahasa Jawa dan Madura di Keluarga Besar Saya

13 Agustus 2019
Orang Sunda Punya Aksen Paling Indah di Indonesia, Terdengar Lembut dan Merdu di Telinga Arek Suraboyo seperti Saya Mojok.co

Orang Sunda Punya Aksen Paling Indah di Indonesia, Terdengar Lembut dan Merdu di Telinga Arek Suroboyo seperti Saya

16 Juni 2024
Hierarki Penyebutan Orang Meninggal dalam Bahasa Jawa

Hierarki Penyebutan Orang Meninggal dalam Bahasa Jawa

13 April 2020
5 Basa-basi Bahasa Sunda, Panduan bagi Pendatang agar Tidak Dikira Sombong  Mojok.co

5 Basa-basi Bahasa Sunda, Panduan bagi Pendatang agar Tidak Dikira Sombong 

16 November 2023
Ungkapan Bahasa Sunda yang Wajib Diketahui Penutur Non-Sunda terminal mojok

Ungkapan Bahasa Sunda yang Wajib Diketahui Penutur Non-Sunda

29 November 2021
panggilan pria bahasa sunda

Panggilan Pria Berdasarkan Usia dalam Bahasa Sunda

20 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penilai Properti: Profesi "Sakti" di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

31 Maret 2026
8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026
Trauma Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Menderita Mojok.co

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

31 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial
  • WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?
  • Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi
  • Gagal Kuliah Kedokteran karena Bodoh dan Miskin, Malah Dapat Telepon Misterius dari Unair di Detik Terakhir Pendaftaran
  • Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif
  • Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.