Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Mencermati Rasisme Sesama Orang Jawa dari Ngapak, Mataraman, sampai Arekan

Nar Dewi oleh Nar Dewi
27 Januari 2025
A A
Rasisme Jawa Itu Nyata Dari Ngapak, Mataraman, sampai Arekan (Pexels)

Rasisme Jawa Itu Nyata Dari Ngapak, Mataraman, sampai Arekan (Pexels)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai orang yang pernah singgah di berbagai kota di Indonesia, saya melihat fenomena rasisme orang Jawa sebagai sesuatu yang tak terhindarkan. Mau marah sulit, karena kadang yang saya hadapi adalah sopir bus sampai staf kecamatan.

Syukurnya, kebanyakan celetukan yang saya terima masih dalam batas wajar. Bahkan, umumnya hanya bercanda. Misal, pernah ada yang menyebut saya sebagai perempuan idaman. Alasannya karena mereka menganggap saya sebagai sosok yang submisif khas wanita dari suku saya.

ADVERTISEMENT

Selain rasisme antarsuku, tak jarang juga saya mendapati rasisme “intra-suku.” Khusus untuk suku saya, yakni jawa, saya sampai hafal dengan stereotip yang bersifat generalisasi orang Jawa di daerah X dan Y. Misalnya:

Orang Jawa menganggap ngapak itu pelawak

Saya sudah terlalu sering melihat penutur dialek ngapak ditertawakan oleh orang-orang, termasuk di kota saya, Jogja. Buat mereka, Jawa ngapak itu lucu dan karenanya normal dianggap sebagai objek candaan.

Jujur, awalnya saya juga begini. Bahkan saat mendengar orang ngapak marah pun, saya merasa mereka masih lucu dan tidak ada garang-garangnya sama sekali.

Di telinga saya, aksen ngapak terkesan unik dan polos. Sampai suatu ketika saya membaca bahwa tindakan seperti ini bisa sangat mengganggu bagi para ngapakers.

“Loh kan cuma dianggap lucu? Di mana rasisnya?” pikir saya waktu itu.

Memang terkesan tak penting, namun persepsi bahwa dialek ngapak itu lucu membuat orang ngapak rentan disepelekan. Bayangin deh, mereka lagi bicara serius, eh orang-orang, sesama Jawa, malah menertawakan logatnya.

Baca Juga:

Tinggal dekat Ringroad Barat itu nggak nyaman, tiap malam diteror suara blayer motor yang meresahkan

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Orang Jogja dan Solo dianggap hipokrit

Di RL maupun di dunia maya, tak sekali dua kali saya membaca komentar bahwa orang Jogja dan Solo (kadang termasuk area Mataraman lain) adalah orang yang hipokrit. Secara langsung, bahkan saya pernah bertemu dengan seorang guru asal Jawa Timur yang mengatakan bahwa kami, murid-muridnya, “Memang halus, tapi munafik.”

Tak salah bila ada yang menganggap bahwa orang Mataraman memang tidak blak-blakan dengan perasaannya. Kami sangat diplomatis dengan apa yang kami ucapkan.

Akibat dari budaya ini, beberapa orang Jawa mataraman sering menunjukkan sikap yang berbeda di belakang dan di depan. Tapi apakah lantas semua orang mataraman begitu? Saya pernah ke Sumatera sampai Sulawesi, dan percayalah, di tiap tempat orang bermuka 2 itu ada!

Secara pribadi, saya pun adalah tipe orang yang selalu berusaha konsisten. Apa yang berani saya katakan di depan adalah apa yang akan saya katakan di belakang.

Sebagai orang Jawa, saya memang punya kecenderungan memperhalus ucapan supaya tidak jadi masalah berlarut-larut. Jadi yang orang bilang hipokrit, buat saya hanyalah cara mencegah konflik yang tidak penting.

Orang arekan dianggap kasar

Terakhir, orang Jawa arekan juga sering dianggap kasar. Baru-baru ini, bahkan warga Jatim sering dipandang norak karena fenomena sound horeg, silat, sampai gus-gusan.

Saya juga sempat membaca postingan di Facebook yang menyebut bahwa Jawa Timur itu bukan Jawa, melainkan “India”. Entah kenapa orang Indonesia suka mengaitkan sesuatu yang dianggap negatif dengan India.

Di tempat saya sendiri, orang Jawa Timur memang sering dianggap galak karena intonasi bicara yang cenderung keras. Seorang teman saya dari Ponorogo yang masih masuk area Jawa mataraman bahkan sering mengeluh dianggap kasar oleh teman-temannya. Padahal dia merasa bicara dengan nada yang biasa saja.

Lantas apakah orang arekan memang kasar dan norak? Duh. Jelas jawabannya tidak. Orang arekan hanya memiliki filter yang lebih sedikit saat bicara dibanding orang Jawa mataraman dan ngapak.

Mereka adalah tipe orang Jawa yang menurut saya paling ekspresif. Baik dengan perasaannya maupun dengan intonasi bicaranya yang naik turun. Belum lagi volume bicara mereka juga lebih keras.

Pada akhirnya, menurut saya, adanya pandangan-pandangan seperti ini merupakan fenomena yang wajar. Mengingat gesekan budaya akan selalu ada. Kita tidak bisa selalu berharap bahwa setiap interaksi sosial selalu menghasilkan persepsi positif.

Yang terpenting adalah kita selalu berusaha bersikap open minded. Jadi ketika ada orang Jawa ngapak yang keberatan ditertawakan misalnya, ya kita stop menertawakannya. Bukan malah ngeyel dan close minded dengan persepsi kita sendiri.

Penulis: Nar Dewi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Membongkar Stigma Orang Jawa adalah Pemalas

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2025 oleh

Tags: arekanJawajawa arekanjawa mataramanjawa ngapanjawa timurJogjasolo
Nar Dewi

Nar Dewi

IRT suka nulis

ArtikelTerkait

Adakah Dana Istimewa untuk Sampah yang Tidak Istimewa? TPST Piyungan, ASEAN Tourism Forum, Jogja krisis sampah di jogja bantargebang

TPST Piyungan Ditutup Lagi, Kapan Jogja akan Benar-benar Menemukan Solusi untuk Sampah yang Makin Melimpah?

22 Juli 2023
Sidoarjo dan Surabaya Isinya Salah Paham, Bikin Kecewa Saja (Unsplash)

Kebohongan Surabaya yang Bikin Sidoarjo Kelihatan Terbelakang Padahal Lebih Lengkap Sebagai Sebuah Daerah

21 Januari 2026
ereveld makam korban perang belanda jogja sulitnya cari makam kuburan mojok

Sulitnya Mencari Makam di Jogja

6 Oktober 2020
Jogja Katanya Romantis, tapi kok Kisah Cinta Saya Kandas Melulu?

Jogja Katanya Romantis, tapi kok Kisah Cinta Saya Kandas Melulu?

3 Agustus 2022
arti plat nomor kendaraan kode plat kendaraan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor mojok.co

Daftar Kode Plat Nomor yang Digunakan di Pulau Jawa

29 Desember 2022
Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis

Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026
Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura Mojok.co

Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura

3 Agustus 2026
5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu pindah ke Salatiga (Unsplash)

5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu banget mau pindah ke Salatiga

2 Agustus 2026
Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda

Purworejo, kota yang menyambutmu bukan dengan gapura selamat datang, tapi dengan jalan berlubang

5 Agustus 2026
Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

1 Agustus 2026
Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung Mojok.co

Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung

3 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.