Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Konsekuensi Memberi Predikat ‘Paling’ dalam Menilai Film atau Serial

Sirojul Khafid oleh Sirojul Khafid
21 Oktober 2020
A A
Konsekuensi Memberi Predikat “Paling” dalam Menilai Film atau Serial terminal mojok.co

Konsekuensi Memberi Predikat “Paling” dalam Menilai Film atau Serial terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Pada 4 Agustus 2020 lalu, Terminal Mojok mengunggah tulisan kak Rifky Aritama berjudul Kimetsu no Yaiba, Anime Paling Bagus dari Segi Kualitas Animasinya. Sebelum membaca inti tulisannya, saya terlebih dahulu melihat kolom komentar. Dugaan saya benar, banyak yang komen, dan kebanyakan mempertanyakan predikat “paling” yang penulis sebutkan. Ada yang mengatakan bahwa animasi lain lebih bagus. Ada pula yang berkomentar lebih sinis macam, “Boleh aku ketawa???” atau “Lagi ngelawak nih?” Memberikan predikat “paling” dalam menilai film atau tontonan memang punya konsekuensi dan pemberian predikat “paling” pada Kimetsu no Yaiba saya rasa kurang layak.

Apabila penulis (atau mungkin redaktur) dalam memberikan kata “paling” bertujuan agar banyak yang membaca tulisan itu, peluang berhasilnya memang akan besar. Terlebih orang yang suka anime dan punya idola tertentu. Mereka akan membaca karena merasa penasaran dengan argumen yang ada. Apabila lagi-lagi tulisan itu untuk menggaet banyak pembaca, maka diskusi bisa berhenti di sini. Tapi, misal ingin menilai apakah Kimetsu no Yaiba memang animasi terbaik atau tidak, tentu banyak yang bisa kita bicarakan lagi.

Saya belum menonton Kimetsu no Yaiba atau dua anime yang kak Rifky Aritama sebutkan sebagai pembanding: Boku no Hero Academia dan Attack on Titan. Tanpa perlu menonton anime-nya terlebih dahulu, melihat poin-poin dalam tulisannya, terdapat argumen yang lemah untuk membuktikan bahwa Kimetsu no Yaiba merupakan anime terbaik.

Secara garis besar, kak Rifky Aritama memberikan dua argumen. Pertama, bahwa Kimetsu no Yaiba memiliki kualitas animasi yang memanjakan mata. Kedua, terkait cerita yang sangat bagus.

Poin pertama berhenti pada kalimat yang cukup ambigu, “memanjakan mata”. Tidak jelas maksud dari memanjakan mata di sini. Apakah animasinya detail? Apakah warnanya realistis? Apakah pemilihan angle-nya yang unik? Tidak ada penguat dari argumen menilai film dengan kalimat “memanjakan mata”. Kak Rifky Aritama justru lebih sibuk membahas bahwa animasi ini berasal dari studio ini dan mendapatkan penghasilan segini.

Dua hal itu tidak terkait langsung dengan kualitas animasi. Kita sedang membahas animasinya sebagai hasil akhir, bukan studionya. Studio besar juga berpotensi gagal dalam menggarap film atau serial. Kita juga sedang membahas animasinya, bukan pendapatannya. Nyatanya banyak film atau serial yang laku keras tapi kualitasnya nggak bagus-bagus amat.

Poin kedua yaitu cerita yang “sangat bagus”. Ini juga tidak ada pembuktian alasan bahwa ceritanya sangat bagus. Apakah animenya memiliki konteks sejarah, atau menyuarakan rakyat tertindas, atau mengangkat karakter yang jarang terungkap atau apa. Kak Rifky Aritama hanya memberikan sedikit sinopsisnya.

Dua poin itu menjadi lemah karena tidak membandingkan dengan dua anime yang sebelumnya telah disebutkan. Umumnya, apabila menggunakan kata “paling” dalam menilai film, perlu adanya perbandingan. Misal si Budi nilainya paling tinggi di antara Ani dan Rhoma. Budi mendapat nilai 90, sementara Ani 70 dan Rhoma 80. Jadi, jelas mengapa sesuatu menjadi “paling” di antara yang lain.

Baca Juga:

ASN Bisa Bersuara, Bisa “Mati” Maksudnya

ASN Boleh Mengkritik Negara, karena Digaji oleh Rakyat dan Diminta Setia pada Negara

Memang dalam resensi film atau serial tidak ada hal yang obyektif. Adanya subyektif yang dipertanggungjawabkan. Argumen dalam mempertanggungjawabkan ini akan lebih kuat apabila terdapat di konten yang ada di film atau serial. Semisal Kimetsu no Yaiba bagus dalam hal animasinya. Kita bisa melihat detail-detail tubuh setiap karakter bahkan sampai helai rambut.

Kita paham bahwa menonton merupakan “ibadah” yang setiap orangnya memiliki pengalaman berbeda. Sebagian orang lain merasa biasa saja, bagi sebagian lain bisa sangat menyentuh. Bisa jadi karena cerita dalam film atau serial itu sangat relate dengan hidupnya. Konteks sosial, pengetahuan, banyaknya referensi pun akan berpengaruh dalam menilai film atau serial. Penilaian yang berbeda sah dan sering terjadi.

Ada satu kalimat yang saya ingat betul saat mengikuti pelatihan kritik film, bunyinya kurang lebih, “Tidak masalah kamu berbeda dalam menilai film. Misal banyak orang bilang jelek, tapi kamu merasa film itu bagus, nggak masalah. Tulis aja kalau film itu bagus. Tapi, buktikan kanapa itu bagus. Jangan berhenti sampai kata sifat.”

Sehingga memberi predikat “paling” perlu tanggung jawab dan argumen yang lebih jelas. Perlu punya indikator yang jelas sebagai alat untuk membandingkan. Ceritakan juga perbandingan setiap film dan serialnya. Apa yang membuat anime ini lebih bagus dari anime itu. Bukan untuk menyenangkan orang lain yang membaca, tapi untuk lebih adil dalam menilai.

Saya tidak punya masalah dengan kak Rifky Aritama ya. Tulisan itu hanya saya ambil sebagai contoh untuk mengutarakan opini. Bahkan saya senang di Terminal Mojok semakin banyak tulisan yang membahas film dan serial. Semakin banyak bahan untuk bacaan. Bisa jadi justru tulisan saya yang “paling” sok tahu.

BACA JUGA Nasib Imigran yang Berjaya, Terlunta, dan Menderita di Film Martin Scorsese dan tulisan Sirojul Khafid lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2020 oleh

Tags: kritikReview Film
Sirojul Khafid

Sirojul Khafid

Suka makan kepala ikan.

ArtikelTerkait

4 Alasan Kuliah di UNS Itu Menyenangkan

Surat Terbuka untuk Rektor UNS yang Baru: Selesaikan 5 Masalah Ini Secepatnya, Pak!

16 November 2022
Pejuang Kita Tidak Minta Izin Belanda Waktu Bikin Mural

Pejuang Kita Tidak Minta Izin Belanda Waktu Bikin Mural

16 Agustus 2021
‘The White Tiger’ Menelanjangi Kemiskinan Struktural India dengan Cara non-Bollywood terminal mojok.co

The White Tiger: Menelanjangi Kemiskinan Struktural India dengan Cara Non-Bollywood

5 Februari 2021
Serial Dokumenter Kematian Elisa Lam Menunjukkan Tingkat Kepo Netizen bisa Berbuah Keji terminal mojok.co

Serial Dokumenter Kematian Elisa Lam Menunjukkan Tingkat Kepo Netizen yang Keterlaluan

8 Maret 2021
jadi presiden selama sehari lambang negara jokowi nasionalisme karya anak bangsa jabatan presiden tiga periode sepak bola indonesia piala menpora 2021 iwan bule indonesia jokowi megawati ahok jadi presiden mojok

Jokowi Jadi Presiden Biar Aman Saat Mengkritik Negara: Sebuah Plot Twist

31 Mei 2021
Cara Menikmati Film Science of Fictions meski Awam Sejarah dan Konflik Politik terminal mojok.co

Cara Menikmati Film ‘The Science of Fictions’ meski Awam Sejarah dan Konflik Politik

19 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kredit Motor Memang Jauh Lebih Menyiksa daripada Kredit yang Lainnya, bahkan Bikin Kredit Rumah Keliatan Masuk Akal

Kredit Motor Memang Jauh Lebih Menyiksa daripada Kredit yang Lainnya, bahkan Bikin Kredit Rumah Keliatan Masuk Akal

12 Juli 2026
Pengalaman transit di Changi Airport Singapura jadi tak terlupa karena bisa ikut tur gratis hingga dikira TKI Mojok.co

Pengalaman transit di Changi Airport Singapura jadi tak terlupa karena bisa ikut tur gratis hingga dikira TKI 

13 Juli 2026
Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

17 Juli 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Sleman semakin mahal, tetapi narasi kota mahasiswa murah tetap dipelihara

15 Juli 2026
Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial yang kerap terlewatkan Terminal

Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial, tapi kerap terlewatkan

12 Juli 2026
Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

16 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.