Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Konflik Pencak Silat Madiun dari Cerita Pelaku: Pertempuran Tak Akan Pernah Berakhir

Geza Xiau oleh Geza Xiau
2 Desember 2022
A A
Branding Madiun Kampung Pesilat Indonesia yang Berlebihan

Branding Madiun Kampung Pesilat Indonesia yang Berlebihan (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Konflik pesilat SH Terate dan Winongo di Madiun sepertinya tak akan berakhir, selama akar masalah tak segera diselesaikan

Bagi masyarakat Madiun, pertikaian perguruan silat bukan lagi tragedi, ia sudah jadi wisata tahunan yang di dalamnya memuat makian, pekik ketakutan, bahkan kematian. Di tanah lahirnya 14 perguruan silat, perdamaian hanyalah khayalan, yang abadi benih pertikaian. Narasi damai hanyalah peluru diplomasi yang kian lama kian basi. Mereka berhasil mengelaborasi olahraga, seni, bela diri, dan kejernihan rohani, yapi lupa dan sering gagal dalam mewujudkan persaudaraan.

Datangnya bulan Suro bukanlah kabar bahagia bagi saya. Bulan yang penuh keberkahan yang menitikberatkan kedamaian malah jadi bulan yang mencekam dan menakutkan. Saat daerah lain merayakan Malam 1 Suro dengan ritual pembacaan doa, Madiun berani tampil beda. Kota ini merayakan suro dengan bisingnya suara knalpot. Keramaian tersebut, bahkan, bikin TPA dibubarkan sementara, agar anak-anak yang mengaji tak kenapa-kenapa.

Pencak silat, bagi warga Madiun adalah cinta, wujud cintanya terpampang oleh tugu kokoh yang ada di tiap perempatan desa, gang kecil rumah warga, serta melekat dengan kain cotton combed 24s dalam wujud kaos. Mencintai pencak silat bagi orang Madiun sama halnya dengan rasa cinta penduduk Surabaya terhadap Persebaya, rasa cinta warga Malang dengan Arema.

Saking cintanya warga Madiun terhadap pencak silat, mereka sampai lupa dengan adagium lama yang sering digembar-gemborkan sesepuhnya, “Bedo guru ojo nesu, tunggal guru ojo padu.” Narasi perdamaian semacam ini hanya bisa diucapkan, mustahil untuk diwujudkan. Karena memang, tidak pernah serius untuk diwujudkan.

Kubu Kuning vs Kubu Putih

Hari yang tidak saya inginkan akhirnya tiba. Tenda-tenda keamanan berdiri kokoh, aparat berjaga sesuai tugasnya, Polisi dan TNI bersiap dengan strategi pengendalian masa terbaik yang telah mereka rencanakan. Warga desa pucat ketakutan, anak kecil hanya bengong dan bertanya-tanya. Dan inilah golongan yang paling membara, pemuda dengan jiwa “pendekar” bersiap dengan segala konsekuensi lapangan. Hari itu benar benar menakutkan, pesilat dari kubu “putih” bersiap di pinggir jalan untuk menunggu dan mengawasi pesilat kubu “kuning” yang rencananya bakal konvoi dengan tujuan akhir nyekar di makam sesepuh.

Sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, pesilat kubu “kuning” bakal melintas di desa yang mayoritas “putih” pada pukul 09.00 WIB. Desa ini tak lain tak bukan ya desa saya tercinta. Beberapa pesilat berlambangkan hati bersinar dan bersiap dengan mindset “mbleyer kepruk” atau dalam bahasa mudahnya, kalau ada pesilat kubu “kuning” yang melintas dan menggeber motornya, itu pertanda genderang perang dimulai. Hal yang tidak saya inginkan akhirnya terjadi. Kira kira 09.12 WIB salah satu dari ratusan pesilat kubu ”kuning” menggeber motornya dengan penuh bangga. Yang jelas tindakan ini memancing emosi kubu “putih” untuk meluapkan kebencian.

Baca Juga:

Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos

Membayangkan Pensiun di Madiun, Kota yang Nggak Banyak Drama dan Cocok untuk Hari Tua

“Jancok, lewat yo lewat wae, ora usah mblayer mblayer garai rusuh!”, pekik makian kubu putih. Kondisi makin memanas, beberapa pesilat adu pukul, rombongan konvoi yang masih di atas motor dan tidak bersalah juga ikut ditendang. Ibu-ibu yang berdiam diri di dalam rumah akhirnya keluar dan panik. Polisi sibuk mengamankan beberapa pesilat yang arogan, pengendalian massa gagal, rumah warga rusak, darah berceceran, tangis di mana-mana.

Hal ini terus berulang dengan pola yang sama, mengedepankan ego sektoral di atas semuanya. Cerita kali ini bukan soal kubu “putih” yang kita kenal dengan Persaudaraan Setia Hati Terate melawan kubu “kuning” atau biasa disebut Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo Madiun. Ini cerita pertikaian yang terjadi saat Subuh, saya masih ingat persis kisah ini, sebab saya ikut andil dalam pertempuran ini. Pengalaman masa kelam, bermodalkan ikut-ikutan, biar keren dan diakui tongkrongan.

Oke kita mulai. Cerita berawal saat saya dan kawan kawan desa kumpul jagongan, obrolan yang kami bahas ya obrolan pos ronda pada umumnya, hingga nyeletuklah salah satu dari kami “eh, engko Pandan Alas mudun lo!” Mudun di sini diartikan turun gunung. FYI, Pandan Alas Madiun ini punya Padepokan Pusat di Kecamatan Kare yang terletak pada dataran tinggi. Jadi kalau mereka habis pengesahan dan perjalanan pulang mereka bakal turun untuk kembali ke rumah.

Muncullah narasi untuk begadang sampai Subuh guna menunggu para pesilat Pandan Alas. Ingat, kami tak sekadar menunggu. Kami siap menyergap siapa saja yang mbleyer dan mengganggu tata aturan yang kami ciptakan.

Malam itu kami mengatur pola pengamanan berbalut penyerangan dengan sistematis. Ada yang turun ke tengah jalan untuk menghadapi rombongan pendekar face to face. Ada yang berjaga di gang-gang desa, ada yang bersiap di atas motor, jaga-jaga kalau nanti ada rombongan polisi yang mengejar kami.

“Kalau ada yang mbleyer dan tidak dikawal polisi, sikat! Mengganggu kenyamanan desa itu namanya!”

Komando dari kawan kami pegang dengan teguh. Dan tak lama berselang, rombongan Pandan Alas datang dan tak dikawal. Terbit senyum tanpa kami sadari. Tanpa kawalan polisi, artinya, kami bisa leluasa menghajar mereka.

Yang terjadi selanjutnya adalah pertempuran, tentu saja. Suara erangan karena dihajar, dan teriakan beringas lah yang terdengar malam itu. Namun di antara semua itu, ada satu tindakan kejam yang kami lakukan. Ada “mori” salah satu rombongan yang dibuang kawanku ke sungai. Saya yang menyaksikan peristiwa itu tanpa sadar ikut sedih. Mori bukanlah sembarang kain bagi pendekar, ia adalah hidup dan mati, ia adalah pegangan hidup yang penuh filosofi.

Kenapa mori begitu berarti bagi para pendekar? Karena ia bukan sekadar kain. Ia memuat filosofi kehidupan, tanda perjuangan, dan pengingat kematian. Singkatnya, kain ini, adalah pengingat untuk selalu jadi manusia yang baik.

Dan pengingat akan kebaikan tersebut, dibuang ke sungai, seakan kehidupan tak ada artinya. Sejak itulah, saya tak ingin lagi ikut andil.

Menyelisik akar masalah permusuhan

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 2 Desember 2022 oleh

Tags: konflikmadiunpencak silatSH Teratetubir-mjkWinongo
Geza Xiau

Geza Xiau

Pemuda males ibadah tapi percaya Tuhan.

ArtikelTerkait

Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos Mojok.co

Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos

20 Juli 2026
5 Hal Menyebalkan di Madiun yang Bikin Wisatawan Pikir Dua Kali sebelum Berkunjung

5 Hal Menyebalkan di Madiun yang Bikin Wisatawan Pikir Dua Kali sebelum Berkunjung

9 November 2025
Percayalah, Berjalan di Atas Air Lebih Mudah daripada Menyatukan Surabaya dan Madura Menjadi Satu Provinsi

Percayalah, Berjalan di Atas Air Lebih Mudah daripada Menyatukan Surabaya dan Madura Menjadi Satu Provinsi

8 Maret 2024
gusti ahmad pelarian HB V mojok kraton jogja

Kisah Gusti Ahmad: Ayahnya Dibunuh Selir, Takhtanya Direbut Sultan HB VI, Hidupnya Diburu Sultan HB VII

29 Januari 2024
Meluruskan Salah Kaprah Soal Julukan Madiun Kota Gadis terminal mojok

Sisi Gelap Julukan ‘Madiun Kota Pendekar’

6 Oktober 2021
Ahmad Dhani vs Once yang Harusnya Tak Perlu Terjadi: Semua karena EO yang Tak Patuh Royalti

Ahmad Dhani vs Once yang Harusnya Tak Perlu Terjadi: Semua karena EO yang Tak Patuh Royalti

7 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

6 Agustus 2026
Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

Di Tasikmalaya, jadi tukang parkir liar itu wajar, sebab lapangan kerja di kota ini begitu langka!

3 Agustus 2026
Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua Mojok.co

Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua

7 Agustus 2026
Tinggal dekat Ringroad Barat itu nggak nyaman, tiap malam diteror suara blayer motor yang meresahkan Mojok.co

Tinggal dekat Ringroad Barat itu nggak nyaman, tiap malam diteror suara blayer motor yang meresahkan

3 Agustus 2026
Cipatat, kecamatan di Bandung Barat yang kontribusinya sering luput dari perhatian orang-orang Mojok.co

Kasihan Kecamatan Cipatat lebih sering diingat buruknya, padahal punya banyak kontribusi lain bagi Bandung Barat

31 Juli 2026
Ide bisnis buat pebisnis Semarang kalau punya punya 100 miliar (Unsplash)

Ide bisnis yang muncul di kepala saya kalau punya uang 100 miliar adalah bikin rumah kesejahteraan khusus anjing di Semarang

2 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.