Kalau kamu kebetulan lagi perjalanan dari Jogja ke Solo atau sebaliknya, Klaten biasanya cuma dianggap sebagai “kota antara”. Paling banter mampir makan Sop Ayam Pak Min. Padahal, kalau mau sedikit melirik ke kanan-kiri jalan yang masih didominasi hijaunya sawah, Klaten itu sebenarnya raksasa pertanian yang lagi “flexing” halus.
Sebagai warga tetangga Klaten yang tiap hari menghirup debu Merapi sekaligus aroma padi, saya berani bilang: Klaten itu bukan cuma soal wisata air umbul. Klaten adalah bukti kalau sektor pertanian kita punya masa depan yang lebih cerah dari masa depan cintamu yang digantung itu.
Primadona yang naik kelas: Dari Rojolele ke Srinar-Srinuk
Ngomongin Klaten tanpa nyebut beras Rojolele itu dosa besar. Dulu, Rojolele Delanggu itu legendaris, tapi masa tanamnya lama banget, bisa sampai 5 sampai 6 bulan. Petani kita putar otak. Bekerja sama dengan BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional), lahirlah varietas Rojolele Srinar dan Srinuk.
Hasilnya? Masa tanam jadi lebih pendek (sekitar 110-120 hari), tahan hama, tapi pulen dan wanginya tetap juara dunia.
Ini bukan cuma soal urusan perut, tapi soal kedaulatan benih lokal. Beras ini sudah punya Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT). Jadi, kalau daerah lain mau ngaku-ngaku, maaf ya, ndak bisa. Klaten sudah satu langkah di depan dalam urusan inovasi pangan.
Tembakau Vorstenlanden: Cerutu dunia dari tanah Klaten
Mungkin banyak yang nggak tahu kalau tembakau terbaik untuk balutan cerutu (wrapper) di dunia itu asalnya dari Klaten. Namanya tembakau Vorstenlanden.
Tembakau ini diekspor sampai ke Eropa, terutama Jerman, untuk membungkus cerutu-cerutu mahal kelas dunia.
Tanah vulkanik Merapi di sisi utara Klaten itu berkah. Zat haranya bikin kualitas daun tembakau kita punya elastisitas dan warna yang unik. Ini adalah komoditas elite yang bikin Klaten punya posisi tawar di pasar internasional. Jadi, kalau kamu lihat bos-bos di film Hollywood lagi isap cerutu, ada kemungkinan besar “baju” cerutunya itu hasil keringat petani dari Manisrenggo atau Kebonarum.
Tantangan: Tol Solo-Jogja dan estafet petani muda
Tentu jalan menuju “Percontohan Pertanian Nasional” nggak selalu mulus kayak aspal tol baru. Justru, Tol Solo-Jogja adalah salah satu tantangan nyata. Proyek strategis nasional ini memakan banyak Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Klaten. Ratusan hektar sawah produktif harus berganti jadi beton.
Lalu, siapa yang mau nerusin? Anak muda Klaten sekarang lebih milih kerja di pabrik di Ceper atau merantau ke Jakarta daripada berjemur di sawah. Ini masalah klasik, tapi Klaten punya cara sendiri buat melawannya.
Kenapa Klaten bisa menjadi percontohan?
Klaten nggak menyerah dengan keadaan. Ada beberapa alasan kenapa kabupaten ini bisa jadi kiblat pertanian.
Pertama, integrasi pertanian dan wisata (agrowisata): Lihat saja daerah Polanharjo dan Tulung. Sawah nggak cuma ditanami padi, tapi memadukannya dengan resto dan wisata air. Petani dapat nilai tambah, nggak cuma dari jual gabah, tapi dari sektor jasa.
Kedua, manajemen air yang canggih. Klaten punya ribuan mata air. Pengelolaan irigasi lewat sistem subak versi lokal di sini sangat rapi. Air dari umbul dikelola sedemikian rupa supaya semua sawah kebagian, bahkan saat musim kemarau panjang.
Ketiga, modernisasi alat. Pemkab Klaten termasuk yang paling rajin membagikan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) dan mendorong penggunaan pupuk organik lewat “Sekolah Lapang”.
Masa depan yang cerah
Ke depan, Klaten bukan lagi soal kuantitas, tapi kualitas dan branding. Kita nggak perlu punya lahan seluas Kalimantan, tapi kita punya beras organik terbaik, tembakau kelas dunia, dan bawang merah yang melimpah di wilayah Cawas.
Kabupaten lain seharusnya belajar dari Klaten soal bagaimana mempertahankan identitas agraris di tengah gempuran industrialisasi. Klaten membuktikan bahwa jadi petani itu bisa keren, bisa ekspor, dan bisa jadi tulang punggung ekonomi daerah tanpa harus mengemis-ngemis perhatian.
Jadi, besok lagi kalau lewat Klaten, jangan cuma terpaku sama spion. Lihatlah hamparan sawahnya. Di sana, ada harapan Indonesia buat tetap bisa makan enak 10 atau 20 tahun lagi.
Klaten itu kecil-kecil cabai rawit. Eh, ngomong-ngomong soal cabai, harga cabai di pasar Klaten juga lagi bagus, lho. Petani kita senyumnya lagi lebar-lebarnya. Mari kita jaga senyum itu tetap ada.
Penulis: Moddie Alvianto W.
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
