Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
19 Agustus 2026
A A
Klaten bukan kota, tapi obat stres warga Jogja (Wikipedia)

Klaten bukan kota, tapi obat stres warga Jogja (Wikipedia)

Share on FacebookShare on Twitter

Kadang saya mikir. Klaten itu bukan kota, tapi obat mujarab untuk mengobati stres warga Jogja yang hidupnya tertekan karena padatnya jalanan.

Ada satu perasaan yang makin sering saya rasakan di Jogja akhir-akhir ini: lelah sebelum sampai tujuan.

ADVERTISEMENT

Saya orang Jogja. Lahir, sekolah, bekerja, dan mungkin kelak pensiun di kota yang orang-orang sebut paling nyaman di Indonesia. Dulu saya percaya sebutan itu. 

Sekarang, setiap keluar rumah pada jam sibuk, saya menyiapkan mental seperti mau ikut balapan. Luas jalanan tidak bertambah, tapi volume kendaraan semakin gila.

Saya tidak sedang baper. Padatnya jalanan di Jogja sudah menjadi data, bukan sekadar keluhan warganya. 

Akademisi Universitas Janabadra, Nindyo Cahyo Kresnanto, mencatat DIY menampung 2,8 juta sepeda motor dan 433 ribu mobil pada 2024. Sementara itu, pertumbuhan panjang jalan hanya 0,2% per tahun. Sekitar 75% penduduk DIY punya sepeda motor. 

Korlantas Polri menghitung 720 ribu kendaraan bermotor terdaftar di Kota Yogyakarta saja per Desember 2025. Dan 599 ribu di antaranya motor. Jalanan tidak bertambah lebar, kendaraan terus bertambah. Hasilnya bisa kalian tebak sendiri.

Kangen jalanan Klaten yang lengang

Di tengah kelelahan seperti itu saya teringat dengan jalanan Klaten. Dulu, saya cukup sering PP ke Klaten setelah menerima pekerjaan freelance menulis dari sebuah lembaga di Klaten. 

Baca Juga:

Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima

Jatinom, sebuah tempat rahasia yang akan membuatmu jatuh cinta berkali-kali sama Klaten

Tugasnya menulis profil, artikel, dan ulasan tentang beberapa produk budaya Jawa. Selama tiga tahun, dua sampai tiga kali seminggu, saya bolak-balik Jogja- Klaten. 

Saya biasanya berangkat sebelum pukul 6 pagi lewat Jalan Solo. Kadang saya pulang menjelang Magrib, dan jalanan Klaten tetap tidak ikut panik. 

Jaraknya sekitar 40 kilometer. Cukup jauh kalau saya menghitungnya dari jok motor, cukup dekat kalau saya menghitungnya dari semangat mencari nafkah. Dan di situlah kejutan itu datang.

Tiga tahun pulang-pergi: dua dunia yang berbeda

Begitu memasuki Klaten, jalanan perlahan terasa lebih lengang. Saya menemukan pengendara yang menyalakan sein sebelum belok, bukan setelah belok. Saya melihat orang-orang yang sabar mengantre di lampu merah tanpa merangsek maju. 

ADVERTISEMENT

Pagi itu, mata saya menikmati pemandangan sawah. Mengamati gerak pengendara motor dan mobil di sekitar bundaran yang menghiasi jalanan di Klaten.

Orang Klaten menjuluki daerahnya Kabupaten Bersinar, dan media menyebutnya kota seribu umbul. Bag saya, julukannya lebih sederhana: tempat jalanannya masih waras.

Aneh memang. Hanya 40 kilometer dari Jogja, rasanya seperti mendarat di negara lain. Lama-lama saya paham, jalanan yang lengang dan tertib bukan sekadar urusan estetika. Dia bekerja untuk dompet dan kepala kita.

Macet itu mahal dan sains ikut menagih

Bappenas bersama JUTPI II menghitung kerugian akibat kemacetan di Jabodetabek mencapai Rp100 triliun per tahun. Ini setara 4% PDB Jabodetabek atau enam kali biaya pembangunan MRT fase pertama. 

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengutip angka itu pada Agustus 2025 dan menyebutnya realita. Bayangkan uang sebesar itu menguap karena orang-orang membuang waktunya di jalan. 

TomTom Traffic Index 2025 menempatkan Jakarta di peringkat 24 kota termacet dunia dengan tingkat kemacetan 59,8%. Perjalanan 10 kilometer butuh waktu 26 menit 19 detik. 

Di jam sibuk, kecepatan rata-rata kendaraan cuma 17,8 kilometer per jam, lebih lambat dari orang bersepeda santai. Bandung bahkan lebih parah: peringkat 16 dunia, termacet se-Indonesia.

Jalanan tertib bekerja sebaliknya. Dia menghemat bensin, waktu, dan umur mesin. Tapi keuntungan terbesarnya justru tidak kasatmata.

Kata psikolog yang bikin Klaten semakin menyenangkan

Para psikolog sudah lama membuktikan macet meracuni kepala. Gary Evans dan Sybil Carrere pada 1991 menemukan paparan lalu lintas padat jangka panjang menaikkan hormon stres kortisol. 

Peneliti Wageningen University pada 2015 membandingkan orang yang berjalan di kawasan urban padat dengan orang yang berjalan di alam. Kadar kortisol kelompok kedua turun, kelompok pertama nyaris tidak berubah. 

The Conversation pada 2019 merangkum berbagai studi internasional dan menyebut warga kota punya risiko 21% lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan umum serta 39% lebih tinggi terkena gangguan suasana hati dibanding warga di daerah non-perkotaan. 

Riset di Semarang dalam Jurnal Riset Ekonomi dan Transportasi 2021 menemukan 56% responden mengaku macet bikin stres, dan 52% menyebut produktivitas mereka ikut turun.

Dua ekonom Swiss, Bruno Frey dan Alois Stutzer, merumuskan “commuting paradox”. Komuter dengan perjalanan satu jam butuh kenaikan gaji 40% agar kepuasan hidupnya setara dengan orang yang tidak berkomuter. Stutzer menyebut komutasi sebagai stres yang tidak pernah membayar. 

Maka, ketika menemukan jalanan yang lengang dan teratur di Klaten, rasanya menyegarkan. Khususnya untuk warga Jogja yang sehari-hari stres karena padatnya jalanan.

Klaten, tempat berobat tanpa resep

Tiga tahun di Klaten membuat saya mengalami sendiri teori-teori itu. Sepulang dari sana, bahu saya tidak kaku, dada tidak sesak, dan saya masih punya energi menulis sampai malam. 

Begitu memasuki lagi jalanan Jogja yang padat, tubuh saya kembali tegang tanpa perlu saya minta. Kontrasnya persis seperti penjelasan para peneliti. Tubuh membaca kemacetan sebagai ancaman, dan membaca ketertiban sebagai istirahat.

Sekarang proyek itu sudah lama sekali selesai. Tapi sesekali saya masih tetap mengingat betapa welcome Klaten kepada siapa saja yang ingin berjuang.

Selama saya aku mengira saya datang ke Klaten untuk bekerja. Belakangan saya sadar, sebenarnya aku datang untuk berobat.

Jogja mengajari saya bahwa macet adalah takdir. Klaten mengingatkan saya bahwa takdir selalu bisa berubah kalau tata kotanya waras.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Agustus 2026 oleh

Tags: freelancejawa tengahJogjaklatentata kota jogjatata kota klaten
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

ArtikelTerkait

Untidar Magelang Bukan Kampus Anak Manja (Unsplash)

Untidar Magelang Bukan Kampus Anak Manja yang Sukses Menanamkan Karakter Kewirausahaan

2 Oktober 2023
Kerja Part Time di Jogja Adalah Jalan Pintas Menuju Perbudakan, Gaji Setengah UMR pun Nggak Ada! umr jogja gaji di jogja gaji umr jogja

Begini Rasanya Hidup dengan Gaji UMR Jogja: Makan Mahal Dikit, Hancur Rencana Keuangan yang Sudah Disusun

10 Oktober 2024
Nggak Semua Perantau di Jogja Doyan Gudeg hingga Sering ke Sarkem! Mojok.co

Nggak Semua Perantau di Jogja Doyan Gudeg dan Sering ke Sarkem!

9 November 2023
Kereta Api Sri Tanjung, Transportasi Terbaik dari Jogja ke Banyuwangi. Jangan Naik Bus!

Kereta Api Sri Tanjung, Transportasi Terbaik dari Jogja ke Banyuwangi. Jangan Naik Bus!

15 Februari 2024

Saya Ikut Sedih Saat Kafe Dixie Jogja Akan Tutup, Meski Saya Belum Pernah ke Sana

6 Mei 2021
Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya Mojok.co

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

29 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warmindo ruang pengaman sosial terakhir buat kamu yang miskin (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Warmindo akan selalu menjadi ruang pengaman sosial terakhir bagi kita yang dompetnya sedang sekarat

14 Agustus 2026
Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa (Unsplash)

Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa hanya demi memuaskan ego merusak milik segelintir orang

17 Agustus 2026
Tradisi lek-lekan di hajatan perkawinan diam-diam bikin biaya bengkak  Mojok.co

Tradisi lek-lekan di hajatan pernikahan diam-diam bikin biaya bengkak 

18 Agustus 2026
Kegelisahan peneliti BRIN tentang keripik, sepatu, dan genteng (Unsplash)

Catatan seorang peneliti BRIN yang hatinya remuk redam melihat koleganya dihina cuma bisa bikin keripik, sepatu, genteng, dan ngabisin anggaran negara

15 Agustus 2026
Nostalgia Stasiun Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya Mojok.co

Nostalgia Stasiun di Kecamatan Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya

19 Agustus 2026
Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.