Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kisah Pilu Kudus-Semarang: Macet 4 Jam Akibat Banjir Rob yang Tak Kunjung Ditangani dan Terkesan Dianggap Sepele

Budi oleh Budi
14 Juli 2025
A A
Kisah Pilu Kudus-Semarang: Macet 4 Jam Akibat Banjir Rob yang Tak Kunjung Ditangani dan Terkesan Dianggap Sepele

Kisah Pilu Kudus-Semarang: Macet 4 Jam Akibat Banjir Rob yang Tak Kunjung Ditangani dan Terkesan Dianggap Sepele

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap minggu, perjalanan dari Kudus ke Semarang yang saya lakukan selalu dihantui oleh satu hal: banjir rob. Hal ini bukan lagi fenomena musiman, melainkan tamu harian yang datang tanpa undangan. Khususnya di wilayah Sayung, Demak, genangan air laut yang merangsek ke darat sudah menjadi pemandangan biasa. Padahal, dulu, banjir rob mungkin hanya terjadi sebulan sekali, cukup mengganggu, tapi masih bisa diprediksi.

Sekarang, rasanya seperti laut tak mau lagi mengikuti aturan pasang surut dan memutuskan untuk tinggal permanen di jalanan. Dan mirisnya, itu jalan utama Pantura.

Kalau ditanya resah, ya pasti. Sebab waktu yang saya tempuh molor karena kondisi jalan juga semakin mengenaskan. Retakan-retakan panjang menghiasi jalur Kudus-Semarang, yang memang dulunya disebut daerah rawa. Jika dulu saya lebih memilih naik motor untuk fleksibilitas saat menuju Semarang atau balik ke Kudus, sekarang bus menjadi pilihan yang lebih masuk akal.

Bukan cuma karena takut motor mogok di tengah genangan banjir rob yang kini tiap hari hampir terjadi, tapi juga karena karat yang menggerogoti rangka dan body motor. Air asin atau air banjir rob itu seperti punya dendam pribadi terhadap kendaraan. Perlahan-lahan melahap logam dan mengubahnya menjadi serpihan rapuh, berkarat.

Banjir rob: bencana yang dianggap sepele oleh pemangku kebijakan

Anehnya, meski sekarang banjir rob terjadi hampir setiap hari, respons terhadapnya justru terasa biasa-biasa saja. Seolah-olah ini sudah menjadi takdir yang harus diterima, bukan masalah yang perlu diselesaikan segera. Warga yang rumahnya terendam mungkin sudah pasrah, pemerintah pun malah sibuk dengan proyek-proyek lain.

Sementara para pengendara seperti saya hanya bisa mengeluh sambil mencari jalur alternatif, yang sayangnya, sering kali sama parahnya.

Padahal, akibat rob ini juga, kemacetan mengular panjang. Kemarin saat saya balik dari Semarang menuju Kudus yang seharusnya bisa ditempuh kurang lebih satu jam, harus molor sampai empat jam. Saya tertahan satu jam dari Terboyo ke pintu Tol Demak untuk jarak 10 km.

Sampai kapan Pemerintah akan menormalisasi bencana?

Banjir rob bukan sekadar soal genangan air di jalanan. Ini tentang tanah yang terus tenggelam (land subsidence), tentang perubahan iklim yang membuat permukaan laut naik, tentang tata kelola wilayah pesisir yang mungkin kurang tepat atau bahkan enggak pernah diurus. Tapi yang paling menyakitkan adalah melihat bagaimana masalah ini seolah-olah hanya menjadi bahan obrolan warung kopi, bukan prioritas yang mendesak padahal banyak warga yang mobilitasnya sangat-sangat terganggu.

Baca Juga:

3 Hal yang Jarang Orang Katakan Soal Berkendara di Semarang, Tantangannya Tak Hanya Banjir Rob dan Banjir Dadakan

Alasan Kenapa Saya Tidak Betah Tinggal di Demak

Solusi? Jangan tanya saya, tanya yang punya kuasa dong

Ketika masalah banjir rob dibahas oleh pemangku kebijakan, selalu ada solusi yang terdengar bagus di atas kertas: tanggul raksasa lah, normalisasi sungai, penghijauan mangrove, atau bahkan relokasi warga. Tapi fakta di lapangan, yang terlihat hanyalah tambal sulam.

Tanggul dibangun? Kayaknya baru wacana, dan akhirnya rob tetap datang. Mangrove ditanam, tapi tidak cukup untuk menahan laju abrasi karena mungkin waktunya yang kurang dini. Warga diimbau waspada, tapi tidak diberi alternatif nyata cuman omongan belaka.

Tapi setidaknya bisnis cuci motor dan bengkel tetap bisa survive di tengah air rob. Karena siapa pun yang nekat melewati banjir rob pasti akan berakhir dengan motor yang berkarat atau mesin yang bermasalah. Mungkin ini salah satu niat Pemerintah yang ingin mengatakan, “Kalau Pemerintah tidak bisa mengatasi banjir, setidaknya ada lapangan pekerjaan yang diuntungkan.”

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Mungkin kita tidak bisa langsung menyelesaikan masalah banjir rob. Tapi setidaknya, kita terus mendesak Pemerintah untuk bertindak lebih serius contohnya saja satire lewat media sosial biar viral.

Dan sudah selayaknya proyek penanggulangan banjir rob harus menjadi prioritas Pemerintah terkait, bukan sekadar wacana. Jika perlu, ajak akademisi dan pakar lingkungan untuk terlibat dalam perencanaan yang lebih matang.

Atau, bisa juga Pemerintah mencari solusi transportasi yang jalurnya lebih aman banjir. Bikin jalur kereta lagi seperti dulu pas tahun 80-an mungkin?

Banjir rob dan ironi kemajuan

Semarang adalah ibu kota yang terus berkembang. Tapi di balik gedung-gedung tinggi dan pertumbuhan ekonomi, ada ironi pahit: kita kalah melawan air laut. Terutama daerah pesisirnya yang lamat-lamat hilang. Kita bangga dengan pertumbuhan industri, tapi lupa bahwa infrastruktur dasar justru tenggelam perlahan.

Sementara Pemerintah Demak dengan kawasan Industrinya yang makin berkembang juga malah tambah slow banget merespons Sayung yang makin mirip dengan waterpark daripada jalan raya.

Mungkin suatu hari nanti, banjir rob benar-benar akan menjadi bagian dari keseharian yang kita terima tanpa protes keras. Tapi sebelum sampai di titik itu, tidak ada salahnya untuk tetap resah, tetap marah, dan terus mempertanyakan: kapan solusi nyata benar-benar datang?

Penulis: Budi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Nestapa para Pelaju Semarang-Demak, Tiap Hari Cemas karena Banjir Rob Sayung Demak Semakin Mengerikan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Juli 2025 oleh

Tags: banjir robkudusSemarang
Budi

Budi

Seorang montir tinggal di Kudus yang juga menekuni dunia kepenulisan sejak 2019, khususnya esai dan fiksi. Paling suka nulis soal otomotif.

ArtikelTerkait

UNDIP dan UNNES Bukan Kampus Terbaik di Semarang, tapi UIN Walisongo (Unsplash)

Menolak UNDIP dan UNNES Menjadi Kampus Terbaik di Semarang karena Status Itu Milik UIN Walisongo

6 Maret 2024
Stasiun Kudus, Kenangan yang Tertinggal di Rel Waktu (Unsplash)

Stasiun Kudus: Kenangan yang Tertinggal di Rel Waktu

30 Juni 2025
Semarang Langganan Banjir, Sudah Saatnya Ibu Kota Provinsi Pindah ke Bawen biar Warga Nggak Senewen

Semarang Langganan Banjir, Sudah Saatnya Ibu Kota Provinsi Pindah ke Bawen biar Warga Nggak Senewen

15 Oktober 2025
Lawang Sewu Semarang (Unsplash.com)

5 Fakta Keliru Terkait Semarang yang Telanjur Dipercaya Banyak Orang

21 Juni 2022
Surabaya dan Malang Superior, Malang Remahan Peyek (Unsplash)

Surabaya dan Semarang Memang Superior, Apalagi di Depan Malang yang Kayak Remahan Peyek

18 Juli 2023
Jalur Boja-Sumowono, Jalan Tembusan ke Semarang yang Cocok untuk Uji Nyali dan Ketahanan Motor

Jalur Boja-Sumowono, Jalan Tembusan ke Semarang yang Cocok untuk Uji Nyali dan Ketahanan Motor

15 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Masuk UIN Saizu Purwokerto yang Saya Benci setelah Ditolak Kampus Impian Bukanlah Akhir dari Segalanya Mojok.co

Masuk UIN Saizu Purwokerto yang Saya Benci setelah Ditolak Kampus Impian Bukanlah Akhir dari Segalanya

22 Juni 2026
7 Rokok Murah Harga di Bawah 15 Ribu yang Masih Enak Dinikmati In This Economy  

7 Rokok Murah Harga di Bawah 15 Ribu yang Masih Enak Dinikmati In This Economy  

20 Juni 2026
Kandang Ayam Datang Belakangan, Rusak Kenyamanan (Unsplash)

Rumah Saya Perlahan Kehilangan Rasa Nyaman Akibat Kandang Ayam yang Datang Belakangan

21 Juni 2026
Sidang Skripsi Nggak Perlu Dirayakan Berlebihan, Ingat Ada Revisi Mojok.co

Jangan Bangga Skripsi Nggak Banyak Revisi, Bisa Jadi Itu Pertanda Salah Arah yang Bikin Repot Saat Sidang Nanti  

20 Juni 2026
Sisi Gelap Budak Elite di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta (Unsplash)

Sisi Gelap Budak Korporat di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta: Ketika Pekerja Menggadai Kewarasan demi Terlihat Elite

20 Juni 2026
Terminal Cileungsi Bogor Merekam Nasib Angkot Rute Pendek yang Makin Sekarat Mojok.co

Terminal Cileungsi Bogor Merekam Nasib Angkot Rute Pendek yang Makin Sekarat

17 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.