Kisah Orang Indonesia yang Mengabdi Hingga ke Afrika

Menurut mereka, orang Afrika itu hobinya pesta namun rajin belajar dan berpengetahuan luas. Waktu luang diisi dengan baca, baca dan terus baca buku.

Artikel

Saya punya beberapa teman yang hidup, tinggal dan makan bersama dengan orang Afrika. Menurut mereka, orang Afrika itu hobinya pesta namun rajin belajar dan berpengetahuan luas. Waktu luang diisi dengan baca, baca dan terus baca buku. Kebetulan teman-teman saya yang dari Indonesia ini tinggal bersama dengan mereka dan kuliah di universitas yang sama di Filipina.

Jika ada konflik sedikit, maka akan diselesaikan dengan berdebat. Bahkan untuk menentukan siapa yang makan duluan pun harus lewat berdebat. Parahnya lagi, hal tersebut bukan terjadi sekali atau dua kali melainkan berulang-ulang kali.

Nah, itu adalah sedikit gambaran tentang orang Afrika yang tinggal di luar Afrika. Lantas, bagaimana dengan orang Afrika yang tinggal di negaranya? Jangan takut, saya pun punya beberapa teman yang bermisi (mereka ini dinamakan misionaris) di Afrika. Jika ingin dibandingkan dengan Indonesia, Afrika ketinggalan jauh dengan negara kita.

Menurut pengakuan teman saya yang kebetulan tinggal di Kamerun, di sana tak ada mall atau Alfamart, sekalipun itu adalah ibukota negaranya. Mungkin teman-teman pernah melihat foto atau membaca artikel tentang beberapa anak-anak Afrika yang bahagia karena mendapat parsel berisi buku serta mainan robot bekas yang tangan dan kakinya telah copot. Mereka bahagia, sekalipun mainan tersebut dianggap sampah oleh kita.

Mendengar cerita tentang menderitanya hidup di Afrika membuat rekan saya yang lainnya mengeluarkan pertanyaan menggelitik yang dijawab dengan jawaban yang tak kalah menggelitik juga bagi saya.

“Lalu, kira-kira apa hal positifnya hidup di Afrika di tengah hal-hal yang bisa dibilang masih terbelakang?” tanya rekan saya.

“Bahagia,” jawabnya singkat.

Ya, betul sekali jawabannya hanya satu kata yakni ‘bahagia’. Sekalipun tampak berkekurangan namun mereka hidup bahagia. Sayangnya, kebahagiaan itu tak berlaku ketika ada orang luar yang berusaha berbaur dengan mereka. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menyatu dan ikut bahagia bersama mereka.

Baca Juga:  Mardiyah, Orang Kaya Tegal yang Jadi Bukti Kaya Belum Tentu Bikin Bahagia

Singkat cerita, lantas apa hubungan semua cerita di atas dengan sebutan Cina bagi orang Indonesia? Baiklah, mari kita mulai. Kurang lebih ada 7 orang teman dari Indonesia yang bermisi di Kamerun dan Kongo. Sejak pertama tiba sampai dengan saat ini, mereka terus dipanggil Cina oleh masyarakat di Kongo, Kamerun dan Afrika pada umumnya. Entah berkulit hitam atau putih akan disebut Cina asalkan dia berasal dari Indonesia.

Sebagaimana orang kita yang terlihat sangat terpana dengan bule di Indonesia, hal yang sama pun terjadi di Afrika. Mereka jadi ‘bule’ di negeri orang. Tentunya ada hal positif dengan menjadi berbeda di antara orang-orang Afrika, namun kebanyakan tidak semenarik yang kita pikirkan. Berbaur dan ikut bahagia bersama mereka tak segampang membalikan telapak tangan.

Pemikiran bahwa orang Cina itu kaya dan memiliki banyak uang rupanya tertanam dalam pemikiran orang Afrika. Pernah suatu saat, 5 orang teman dari Indonesia coba menghirup udara malam di Afrika. Dalam perjalanan, tiba-tiba mereka dikepung oleh puluhan orang-orang berkulit hitam yang membawa senjata tajam.

Semua barang-barang yang mereka bawa saat itu dirampas. Bahkan salah satu dari mereka digores dengan pisau di bagian dada. Beruntungnya, tak ada hal lebih parah yang terjadi.

“Sejak saat itu saya trauma mau keluar rumah. Sering curiga ketika ada orang tak dikenal yang membuntuti ketika sedang jalan-jalan sama teman,” lanjutnya.

Ternyata pemikiran bahwa orang Cina itu kaya raya tidak hanya ada di Indonesia saja. Di Afrika pun kebanyakan orang berpikir demikian. Padahal kenyataannya tidak seperti yang terjadi. Banyak dari mereka yang hidup pas-pasan. Bedanya, mereka berpikir bagaimana menyimpan uang yang ada dengan baik sementara kebanyakan dari kita hanya berpikir tentang bagaimana menghabiskan uang yang ada dengan baik.

Baca Juga:  Saya Nggak Suka Ngopi, Apa Saya Nggak Boleh Jadi Anak Indie?

By the way, teman yang tadinya bermisi di Afrika kini harus pindah ke negara lain. Tentunya bukan karena masalah penodongan melainkan karena mendapat tempat tugas yang baru. Untuk semua teman-teman Indonesia, jangan berkecil hati jika kamu dianggap orang kampung, jangan kecewa ketika kamu tak mampu mendapat apa yang kamu inginkan saat ini. Karena di luar sana, ada yang lebih ‘kampung’ dari kamu dan ada yang lebih kecewa dari kita. Bahagialah menjadi orang Indonesia, tanpa perlu banyak mengeluh.

---
4


Komentar

Comments are closed.