UNESA Terima Banyak Maba, Mahasiswa di Ketintang Makin Menderita

UNESA Terima Banyak Maba, Mahasiswa di Ketintang Makin Menderita

UNESA Terima Banyak Maba, Mahasiswa di Ketintang Makin Menderita (Unsplash.com)

Transformasi UNESA menjadi PTN-BH berimbas pada penambahan kuota mahasiswa baru. Pada tahun 2023, UNESA masuk dalam 20 PTN penerima maba terbanyak di SNBT dengan jumlah kurang lebih 10 ribu orang. Saya juga sempat membaca di beberapa media bahwa pada tahun ini UNESA menyediakan kuota hampir 30 ribu mahasiswa. Saat membaca berita itu, saya kaget bukan main. Masalahnya, penambahan kuota ini jelas akan berdampak bagi mahasiswa yang ada di Ketintang.

Saya yakin, sebagian dari kalian pasti sudah banyak yang mengetahui dan merasakan bagaimana ketimpangan kondisi fisik kampus UNESA di Ketintang dan Lidah Wetan. Bahkan, akhir-akhir ini suara mahasiswa makin menggaung di media sosial terkait ketimpangan tersebut. Sekarang coba bayangkan gimana kondisi Ketintang dengan adanya penambahan maba sebanyak itu?

Ketintang jadi macet banget!

Masalahnya, imbas dari maba UNESA yang membludak ini bikin sepanjang jalan di Ketintang jadi kayak jembatan shiratal mustaqim. Sudah jalannya sempit, padat kendaraan, ditambah terik matahari Surabaya yang nyelekit kalau kena kulit, berkendara di Ketintang di siang hari itu menyebalkan.

Lebih menjengkelkan lagi ketika berada di pertigaan menuju UNESA Ketintang, wah, kendaraan yang lewat sini rasanya nggak ada yang mau mengalah. Bunyi klakson bersahut-sahutan di sini, belum lagi umpatan khas warga Surabaya bolak-balik saya dengar. Jarak tempuh yang semula hanya butuh waktu 4 menit dari kos menuju kampus UNESA Ketintang berubah jadi 12 menit. Saya kira penderitaan berakhir sampai di sini, tapi ternyata belum berakhir, Gaes.

Lahan parkir kampus UNESA Ketintang full

Setelah melalui jalanan Ketintang yang rasanya bikin tobat, akhirnya saya sampai di kampus UNESA Ketintang. Saya agak bingung, kenapa beberapa mahasiswa diperbolehkan masuk dan beberapa justru diarahkan untuk tetap lurus. Ternyata parkiran fakultas sudah penuh!

Gila, ini gila sekali, begitu pikir saya. Seharusnya sebelum memutuskan menambah kuota maba, pihak kampus memperluas lahan parkir terlebih dulu. Parkiran di UNESA Ketintang benar-benar penuh, hampir di semua fakultas. Cari parkir susah, keluar kampus pun sama susahnya.

Di UNESA Ketintang, mahasiswa pengguna motor yang keluar dari fakultas wajib menunjukkan STNK pada petugas yang berjaga. Biasanya, sebelum ada maba tahun 2023, antrean motor paling panjang hanya 3-5 motor. Sekarang gimana? Ya jelas jadi makin panjang dan tentu saja menguras kesabaran.

Nggak cuma parkiran fakultas yang penuh kendaraan. Parkiran area foodcourt juga jadi ikutan penuh.

Baca halaman selanjutnya: Susah cari makanan…

Susah cari makanan

Tak dapat dimungkiri bahwa banyak sekali penjual makanan di lingkup kampus UNESA Ketintang. Ada food court fakultas, food court kampus, Sentra Wisata Kuliner (SWK), pedagang kaki lima, dll. Tapi, gara-gara membludaknya kuota maba, mahasiswa yang berkegiatan di Ketintang jadi makin sengsara.

Gimana nggak sengsara, makan di food court fakultas penuh. Makan di SWK, wah, makin nggak karuan ramainya. Melihat area parkirannya aja rasanya sudah nggak ada tenaga untuk mencari makan di sana. Pergi agak jauh dari kampus pun sama aja, tetap ketemu mahasiswa Ketintang yang sedang cari makan. Kalau dulu saya beli makanan paling lama antre 10 menit, sekarang minimal harus menunggu 20 menit. Keburu laper!

Kekurangan ruang kelas

Berdasarkan pengalaman pribadi, beberapa program studi di UNESA Ketintang memang nggak memiliki fasilitas yang mumpuni bagi mahasiswanya. Apalagi masalah ruang kelas. Tak jarang, kuliah tatap muka dialihkan menjadi kuliah online akibat keterbatasan ruang kelas. Mahasiswa juga harus bergantian dengan prodi lain untuk mendapatkan ruang kelas. Ada kalanya juga harus antre dengan adik tingkat atau kakak tingkat.

Nah, karena tahun ini kuota maba ditambah, gimana coba nasib kuliah di kampus Ketintang? Tolong, dong, mau ditaruh di mana nih mahasiswanya?

Harga kos-kosan di Ketintang jadi melejit

Penambahan kuota maba UNESA jadi ladang rezeki bagi para pemilik kos di Ketintang. Gimana nggak ladang rezeki, hampir 10 ribu maba berbondong-bondong mencari kos-kosan dan kontrakan. Di satu sisi, para pemilik kos mungkin akan bergembira, sementara di sisi lain mahasiswa akan menderita.

Fyi, range harga kos di Ketintang mulai Rp250 ribu sampai Rp700 ribu untuk kamar mandi luar. Sedangkan untuk kamar mandi dalam non-AC biasanya harga sewanya Rp800 ribu sampai Rp1 juta per bulan. Kalau mau pakai AC dan kamar mandi dalam tentu harganya lebih mahal, berkisar Rp1,3 juta hingga Rp2,6 juta.

Tapi itu dulu. Sekarang, harga kos di Ketintang perlahan naik. Kalau dulu harga sewanya Rp900 ribu per bulan sekarang naik jadi Rp1,2 juta tanpa adanya penambahan fasilitas. Bahkan teman saya ada yang cerita kalau dia dapat kos dengan harga Rp1,5 juta per bulan tapi kosongan dan kamar mandi luar. Derita ini tentu nggak cuma dirasakan mahasiswa di Ketintang, tapi juga orang tua yang membiayai.

Lebih banyak menghirup udara tak sehat

Seperti yang kita ketahui bersama, Surabaya sudah dipenuhi bangunan-bangunan dan pabrik sehingga menyebabkan udara tercemar. Penambahan kuota maba di UNESA Ketintang juga otomatis meningkatkan jumlah kendaraan di jalanan dan menambah polusi udara. Akibatnya, kita jadi lebih sering menghirup udara yang tak sehat. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan penyakit pada saluran pernapasan.

Begitulah derita baru yang menimpa mahasiswa di UNESA Ketintang. Saya penasaran, apakah mahasiswa di Lidah Wetan merasakan hal serupa mengingat secara fisik, kondisi kampus Lidah Wetan lebih luas.

Penulis: Audea Septiana
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Pengalaman Saya Menjadi Maba UNESA: Rambut Digunduli hingga Disuruh Berendam di Sungai. Terlihat Menderita, tapi Tetap Bisa Tertawa.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Exit mobile version