Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Kesehatan

Ketimbang Pemerintah Terburu-buru tentang RUU Kesehatan, Bagaimana kalau Fokus Berobat Murah Dulu?

Christian Evan Chandra oleh Christian Evan Chandra
18 Mei 2023
A A
Haruskah Menteri Kesehatan Seorang Dokter? terminal mojok.co

Haruskah Menteri Kesehatan Seorang Dokter? terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Kita harus salut terhadap teman-teman buruh. Meskipun terkadang unjuk rasa (alias demo) menimbulkan kemacetan yang menyebalkan, mereka memedulikan banyak hal terkait kita semua dan tidak hanya diri mereka sendiri. Dan kali ini, kesehatan menjadi salah satu fokus mereka, mengapa?

Jaminan kesehatan menjadi sasaran unjuk rasa May Day tahun ini. Buruh menolak pertanggungjawaban manajemen BPJS Kesehatan yang sebelumnya langsung kepada Presiden menjadi beralih melalui Menteri Kesehatan. Bagi mereka, dana kesehatan tidak hanya bersumber dari APBN tetapi juga iuran masyarakat dan pemberi kerja.

Ini hanyalah salah satu dari sekian banyak pro dan kontra terkait RUU Kesehatan oleh berbagai pihak. Terbaru, tenaga kesehatan juga menyerukan kekhawatiran terkait potensi kriminalisasi terhadap diri mereka.

Akan tetapi, sebelum berpikir dan melakukan analisis terlalu jauh, ada baiknya kita melihat nasib kita sebagai orang biasa. Ya, orang biasa yang harus menghadapi mahalnya berobat tanpa kepesertaan BPJS Kesehatan dan/atau asuransi swasta. Kebutuhan membayar iuran BPJS dan terkadang masih membeli asuransi swasta karena rumah sakit terdekat tidak bekerja sama dengan BPJS, sampai pelayanan “beda kasta” yang terjadi di fasilitas kesehatan tertentu ketika menggunakan layanan BPJS.

Sampai-sampai, pengelola BPJS harus pintar-pintar mengelola dana agar cukup membayar klaim. Sebagian masyarakat memilih berobat di luar negeri karena lebih murah. Perusahaan asuransi pun menyesuaikan premi karena biaya medis yang semakin menggila.

Dasawarsa yang bikin mengelus dada

Sepanjang dasawarsa ini berlangsung, dua perusahaan konsultan aktuaria internasional yaitu Willis Tower Watson dan Mercer Marsh mencatat bahwa rata-rata inflasi medis tahunan di Tanah Air mencapai lebih dari sepuluh persen. Ini lebih tinggi dari rata-rata keseluruhan di Asia dan juga inflasi nasional secara keseluruhan. Ditambah lagi, pengalaman mereka yang pernah berobat ke Penang (Malaysia) menunjukkan bahwa biaya laboratorium, tindakan, dan obat-obatan di sana jauh lebih murah dibandingkan di Tanah Air.

Sampai-sampai biaya satu orang diobati di sini bisa jadi cukup untuk mengobati beberapa orang di sana. Ya, setelah ditambahkan biaya akomodasi dan transportasi pun tetap lebih murah kecuali di musim liburan.

Hal ini menjadi pekerjaan rumah Pemerintah untuk memastikan bahwa biaya berobat di dalam negeri terjangkau. Ya, agar Pak Jokowi tidak perlu lagi mengeluhkan dua juta orang membawa lebih dari 100 triliun Rupiah ke luar negeri.

Baca Juga:

Ruang Merokok Changi Airport Singapura Adalah yang Terbaik Dibandingkan Soekarno-Hatta dan Bandara-bandara Lain yang Pernah Saya Sambangi

QRIS Cross-Border Pembayaran Lintas negara yang Memangkas Banyak Keribetan tapi Menyimpan Bahaya Jika Kamu Nggak Hati-hati

Bekerja sama dengan tenaga dan pengelola fasilitas kesehatan, Pemerintah perlu mempelajari hal apa saja yang menyebabkan berobat itu mahal. Tapi, menurut saya, ada beberapa hal yang bikin berobat begitu mahal.

Konsultasi yang selangit

Pertama, biaya konsultasi dokter relatif tinggi. Durasi pendidikan yang panjang hingga siap praktik dan biaya yang mahal jika tidak menempuhnya di perguruan tinggi negeri, terlebih terkait pendidikan spesialis, menjadi salah satu faktor di baliknya.

Tapi, memaksakan semua dokter untuk mau dibayar sesuai tarif maksimal dalam skema BPJS Kesehatan berisiko menurunkan motivasi pelayanan dokter itu sendiri. Jadi, ke depannya Pemerintah perlu memikirkan bagaimana perguruan tinggi negeri bisa menyerap lebih banyak mahasiswa kedokteran dengan biaya yang tetap relatif terjangkau. Pemberian beasiswa baik dengan maupun tanpa kontrak kerja untuk lebih banyak mahasiswa juga penting agar mereka tidak terbebani dengan kebutuhan “balik modal”.

Biaya obat harus ditekan

Kedua, biaya obat, tindakan, dan pemeriksaan juga mahal. Pemerintah perlu memikirkan kembali besar pajak yang dikenakan untuk obat dan alat kesehatan karena keberadaannya berpengaruh terhadap biaya berobat masyarakat. Memaksimalkan kemampuan produksi domestik dengan kualitas yang terjaga dan bersaing itu penting.

Misalnya saja, sekelompok orang lebih memilih untuk mengandalkan “jastip” Panadol dari kerabat yang berlibur ke Singapura meskipun ada Panadol juga di dalam negeri. Alasannya? Tentu saja karena perbedaan keampuhan. Belum lagi, kasus kontaminasi etilen glikol yang pernah terjadi terhadap beberapa jenis obat sirup. Untuk kebutuhan ini, Pemerintah juga tentunya dapat mempertimbangkan anggaran untuk mendukung biaya pendidikan dan penelitian tenaga ahli di bidang farmasi dan teknologi medis.

Kompetensi dokter perlu ditingkatkan

Ketiga, memastikan kompetensi dokter itu sendiri. Tidak hanya soal medis, mereka juga perlu dipastikan memiliki kemampuan komunikasi yang baik agar pasien dapat memahami kondisi kesehatannya. Bahasa yang terkadang terlalu rumit hanya membuat pasien bingung dan panik, ditambah dengan kurang piawainya dokter mengelola emosi. Hal itu dapat membuat kecemasan berlebihan pasien terhadap penyakitnya atau justru tidak menyadari keparahan penyakit. Hal ini dapat menyebabkan pasien menginginkan tindakan kesehatan yang tidak perlu dan berujung pada pengeluaran medis yang berlebih.

Jika tiga hal ini bisa ditangani dan tentu diimbangi dengan gaya hidup sehat masyarakat, biaya medis di Tanah Air bisa ditekan dan bahkan bersaing dengan negara tetangga. Bukan rakyat kita yang melakukan wisata medis ke Penang atau Singapura, tetapi justru tetangga kita yang datang ke sini dan mendatangkan devisa. Hal ini dapat menurunkan pengeluaran medis dan premi asuransi kesehatan, baik pada peserta BPJS Kesehatan maupun program swasta. BPJS Kesehatan.

Penulis: Christian Evan Chandra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA RUU Kesehatan yang Begitu Tergesa-Gesa: Apa Itu Proses? Apa Itu Asas Keterbukaan?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Mei 2023 oleh

Tags: berobatmurahpanadolruu kesehatansingapura
Christian Evan Chandra

Christian Evan Chandra

Narablog di akhir pekan ketika tidak bekerja. Memperhatikan dan menulis berbagai hal, mulai dari pariwisata, teknologi, sampai otomotif.

ArtikelTerkait

5 Rekomendasi Grinder Kopi Manual di Bawah 300 Ribu

5 Rekomendasi Grinder Kopi Manual di Bawah 300 Ribu

21 Desember 2022
Pengesahan RUU Kesehatan Bukan Salah DPR Saja, tapi Juga Salah Rakyat

Pengesahan RUU Kesehatan Bukan Salah DPR Saja, tapi Juga Salah Rakyat

12 Juli 2023
4 Alasan Orang Madura Bakal Sulit Betah di Singapura

4 Alasan Orang Madura Bakal Sulit Betah di Singapura

3 Desember 2022
jakarta bebas rokok rokok andalan iklan sampoerna rokok mojok

Rokok Andalan, Pilihan Tepat bagi Penikmat Filter yang Seret Keuangan

27 Agustus 2021
12 Blush On Murah di Bawah 20 Ribu yang Bikin Riasanmu Makin Cetar Terminal Mojok

12 Blush On Murah di Bawah 20 Ribu yang Bikin Riasanmu Makin Cetar

13 Januari 2022
RUU Kesehatan yang Begitu Tergesa-Gesa: Apa Itu Proses? Apa Itu Asas Keterbukaan?

RUU Kesehatan yang Begitu Tergesa-Gesa: Apa Itu Proses? Apa Itu Asas Keterbukaan?

20 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sragen Daerah yang Cuma Dilewati, Tak Pernah Jadi Tujuan Orang karena Tidak Punya Apa-apa

Sragen Daerah yang Cuma Dilewati, Tak Pernah Jadi Tujuan Orang karena Tidak Punya Apa-apa

20 Januari 2026
Bekasi Justru Daerah Paling Nggak Cocok Ditinggali di Sekitaran Jakarta, Banyak Pungli dan Banjir di Mana-mana

Bekasi: Planet Lain yang Indah, yang Akan Membuatmu Betah

13 Januari 2026
Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

13 Januari 2026
Kasta Nescafe Kaleng di Indomaret dari yang Berkelas sampai yang Mending Nggak Usah Ada

Kasta Nescafe Kaleng di Indomaret dari yang Berkelas sampai yang Mending Nggak Usah Ada

19 Januari 2026
5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama

5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama

17 Januari 2026
Jalan Daendels Jogja Kebumen Makin Bahaya, Bikin Nelangsa (Unsplash)

Di Balik Kengeriannya, Jalan Daendels Menyimpan Keindahan-keindahan yang Hanya Bisa Kita Temukan di Sana

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.