Saya kurang sepakat dengan tulisan Mas Teddy yang terbit di Terminal Mojok kemarin. Bagi sebagian besar anak muda lulusan S2 seperti dia, pertanyaan kapan merantau ke Jakarta mungkin terdengar cringe. Namun, menurut hemat saya, bertahan di Surabaya seperti yang dipilihnya juga bukan pilihan terbaik, apalagi sebagai akademisi.
Seandainya pilihan Surabaya atau Jakarta itu dihadapkan pada saya, jujur saya lebih memilih pulang ke Bangkalan Madura saja. Sekalipun sudah mengantongi ijazah S2, saya tetap memilih pulang ke kampung halaman. Jakarta mungkin menawarkan banyak kesempatan, tapi itu semua sepaket dengan banyak hal merepotkan lain. Sementara Surabaya, berdasar pengalaman 4 tahun kuliah di sana dan cerita kawan-kawan saya yang bertahan, kondisinya pun tidak lebih baik dari Jakarta.
Lingkungan akademik Surabaya memang sudah terbentuk, tapi …
Mari kita bedah argumen tulisan Mas Teddy. Salah satu alasan dia bertahan di Surabaya karena ekosistem akademik di Surabaya sudah terbentuk. Kota Pahlawan memang punya banyak kampus besar seperti. Sebut saja, Unair, ITS, Unesa, Uinsa, UPN, PENS, dan lainnya. Semua kampus itu terkumpul di kota yang luasnya cuma 333 km persegi ini. Belum lagi kampu-kampus swasta lain yang nggak kalah mentereng.
Nah, hal ini membuat kampus-kampus di Surabaya terasa berdempet-dempetan, ya seperti tetanggaan. Misalnya di Ketintang saja, Uinsa dan Unesa hanya perlu menyeberang Jalan Raya Ahmad Yani. Depan Unesa, ada Universitas Telkom. Samping Uinsa, ada Universitas Bhayangkara. Kemudian ITS dan PENS, aduh seperti kakak-adik, satu halaman. Lulusan S2 mana yang nggak tertarik sama lingkungan akademik yang semasif itu!
Akan tetapi, jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Bisa jadi keputusan kalian sama seperti ribuan orang lain.
Persaingan jadi akademisi itu berat
Banyaknya jumlah kampus di Surabaya jadi satu faktor penarik banyaknya akademisi ingin berkarier di Kota Pahlawan ini. Sementara, jumlah lulusan S2 dari tahun ke tahun semakin besar. Dan, sebagian besar lulusan S2 berharap jadi akademisi. Sebab, tidak banyak lowongan kerja yang mau menerima pemegang ijazah ini, overqualified katanya.
Sudah hukum ekonomi, ketika kuantitasnya naik, maka nilainya akan turun. Demikianlah kondisi tenaga kerja di Surabaya, termasuk lulusan S2 yang mau jadi akademisi. Karena banyak yang ingin menjadi dosen di Surabaya, akhirnya jumlahnya terlalu tinggi. Bersaingnya sulit, pas sudah dapat, eh gajinya seuprit.
Saya tak memaksa kalian percaya pada saya, tapi itulah yang terjadi pada teman saya yang saat ini menjadi dosen di salah satu universitas negeri di Surabaya. Gajinya sebagai dosen honorer tidak lebih tinggi dari gaji saya sebagai guru honorer di Bangkalan Madura. Belum lagi biaya hidup di Surabaya yang tinggi. Haduh, boncos!
Ya, sejak mendengar gaji teman saya itulah, saya tidak muluk-muluk pengen jadi dosen di Surabaya. Jika suatu saat saya bisa lulus S2, saya akan pulang ke kampung halaman saya saja, menjadi akademisi di Bangkalan Madura. Hehehe. Gaji cukup, persaingannya juga nggak muluk-muluk!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
