Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

Abdur Rohman oleh Abdur Rohman
11 Maret 2026
A A
Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah Mojok.co

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya kurang sepakat dengan tulisan Mas Teddy yang terbit di Terminal Mojok kemarin. Bagi sebagian besar anak muda lulusan S2 seperti dia, pertanyaan kapan merantau ke Jakarta mungkin terdengar cringe. Namun, menurut hemat saya, bertahan di Surabaya seperti yang dipilihnya juga bukan pilihan terbaik, apalagi sebagai akademisi. 

Seandainya pilihan Surabaya atau Jakarta itu dihadapkan pada saya, jujur saya lebih memilih pulang ke Bangkalan Madura saja. Sekalipun sudah mengantongi ijazah S2, saya tetap memilih pulang ke kampung halaman. Jakarta mungkin menawarkan banyak kesempatan, tapi itu semua sepaket dengan banyak hal merepotkan lain. Sementara Surabaya, berdasar pengalaman 4 tahun kuliah di sana dan cerita kawan-kawan saya yang bertahan, kondisinya pun tidak lebih baik dari Jakarta. 

Lingkungan akademik Surabaya memang sudah terbentuk, tapi …

Mari kita bedah argumen tulisan Mas Teddy. Salah satu alasan dia bertahan di Surabaya karena ekosistem akademik di Surabaya sudah terbentuk. Kota Pahlawan memang punya banyak kampus besar seperti. Sebut saja, Unair, ITS, Unesa, Uinsa, UPN, PENS, dan lainnya. Semua kampus itu terkumpul di kota yang luasnya cuma 333 km persegi ini. Belum lagi kampu-kampus swasta lain yang nggak kalah mentereng.

Nah, hal ini membuat kampus-kampus di Surabaya terasa berdempet-dempetan, ya seperti tetanggaan. Misalnya di Ketintang saja, Uinsa dan Unesa hanya perlu menyeberang Jalan Raya Ahmad Yani. Depan Unesa, ada Universitas Telkom. Samping Uinsa, ada Universitas Bhayangkara. Kemudian ITS dan PENS, aduh seperti kakak-adik, satu halaman. Lulusan S2 mana yang nggak tertarik sama lingkungan akademik yang semasif itu!

Akan tetapi, jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Bisa jadi keputusan kalian sama seperti ribuan orang lain. 

Persaingan jadi akademisi itu berat

Banyaknya jumlah kampus di Surabaya jadi satu faktor penarik banyaknya akademisi ingin berkarier di Kota Pahlawan ini. Sementara, jumlah lulusan S2 dari tahun ke tahun semakin besar. Dan, sebagian besar lulusan S2 berharap jadi akademisi. Sebab, tidak banyak lowongan kerja yang mau menerima pemegang ijazah ini, overqualified katanya. 

Sudah hukum ekonomi, ketika kuantitasnya naik, maka nilainya akan turun. Demikianlah kondisi tenaga kerja di Surabaya, termasuk lulusan S2 yang mau jadi akademisi. Karena banyak yang ingin menjadi dosen di Surabaya, akhirnya jumlahnya terlalu tinggi. Bersaingnya sulit, pas sudah dapat, eh gajinya seuprit.

Saya tak memaksa kalian percaya pada saya, tapi itulah yang terjadi pada teman saya yang saat ini menjadi dosen di salah satu universitas negeri di Surabaya. Gajinya sebagai dosen honorer tidak lebih tinggi dari gaji saya sebagai guru honorer di Bangkalan Madura. Belum lagi biaya hidup di Surabaya yang tinggi. Haduh, boncos!

Baca Juga:

Lulusan S2 Masih Dituntut Merantau ke Jakarta oleh Keluarga, Seolah-olah Nggak Ada Harapan Jadi Akademisi di Surabaya

Tuhan Bersama Mahasiswa yang Sibuk Mengejar IPK, tapi Masih Bingung Mau Jadi Apa

Ya, sejak mendengar gaji teman saya itulah, saya tidak muluk-muluk pengen jadi dosen di Surabaya. Jika suatu saat saya bisa lulus S2, saya akan pulang ke kampung halaman saya saja, menjadi akademisi di Bangkalan Madura. Hehehe. Gaji cukup, persaingannya juga nggak muluk-muluk!

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Hal-hal yang Harus Diketahui Calon Perantau sebelum Pindah ke Surabaya agar Tidak Terjebak Ekspektasi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2026 oleh

Tags: akademisiDosenkarierkerjaKuliahMahasiswaptnPTSSurabayauniversitasuniversitas surabaya
Abdur Rohman

Abdur Rohman

Seorang warga sipil Bangkalan dengan selera yang kontradiktif: mencintai segala jenis olahan mie, namun memiliki alergi akut terhadap mie-literisme.

ArtikelTerkait

BG Junction, Mall Sejuta Umat di Surabaya selain Royal Plaza yang Sering Terlupakan

BG Junction, Mall Sejuta Umat di Surabaya selain Royal Plaza yang Terlupakan

22 November 2023
pers watchdog

Mahasiswa Jurnalistik Harapan Kembalinya Pers Sebagai “Watchdog”

19 Juni 2019
karya fiksi UT kuliah ekonomi kuliah sastra kuliah online mahasiswa s-1 dan s-2 Sebagai Penulis, Saya Sering Disangka Romantis dan Bisa Menjadi Sekretaris kuliah online

4 Perbedaan UT dengan Universitas Lain

23 Agustus 2021
Outfit Mahasiswa FISIP UI Membuat Saya Sadar bahwa Kuliah Tidak Mesti Pakai Kemeja dan Celana Bahan

Kuliah di Mana pun Itu Sama Saja Adalah Omong Kosong yang Terus Dipertahankan

15 Agustus 2024
4 Hal yang Membuat Saya Malu Mengaku Kuliah di Jurusan Jurnalistik Mojok.co

4 Hal yang Membuat Saya Malu Mengaku Kuliah di Jurusan Jurnalistik

21 November 2023
Saya Hanya Bilang Manukan sebagai Daerah Ternyaman di Surabaya, Bukan Sempurna

Saya Hanya Bilang Manukan sebagai Daerah Ternyaman di Surabaya, Bukan Sempurna

17 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Lexi Tercipta Untuk Orang Malang, Santai tapi Tegas (Wikimedia Commons)

Yamaha Lexi Adalah Motor yang Terlalu Santai tapi Sebenarnya Tegas, Paling Cocok Dipakai oleh Orang Kota Malang

8 Maret 2026
4 Tips Menikmati Lumpia Semarang Tanpa Terganggu Bau Pesing dari Rebungnya Terminal

4 Tips Menikmati Lumpia Semarang Tanpa Terganggu Bau Pesing dari Rebungnya

9 Maret 2026
Sebaiknya Warga Malang Tidak Terlalu Marah kalau Matos Disebut sebagai Mall Terkecil, Masih Banyak Urusan Lain yang Lebih Penting

Sebaiknya Warga Malang Tidak Terlalu Marah kalau Matos Disebut sebagai Mall Terkecil, Masih Banyak Urusan Lain yang Lebih Penting

7 Maret 2026
Lontong Balap Makanan Khas Surabaya Paling Normal, Pendatang Pasti Doyan Mojok.co

Lontong Balap Makanan Khas Surabaya Paling Normal, Pendatang Pasti Doyan

8 Maret 2026
KA Sri Tanjung, Kereta Ekonomi Tempatnya Penumpang-penumpang “Aneh” Mojok.co ka kahuripan

KA Sri Tanjung dan KA Kahuripan, Kereta Api Paling Nanggung dan Melelahkan bagi Penumpang

10 Maret 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Menyiksa Suzuki Swift di Jalanan Pantura yang Tak Pernah Mulus dari Kudus ke Rembang

9 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga
  • Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara
  • Habiskan Waktu 78 Jam di Bus untuk Mudik Berujung Kapok dan Frustrasi: Harus Tahan Bau Badan, BAB, hingga “Ditakuti” Teman Sebangku
  • Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya
  • Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga
  • Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.