Bukannya tidak suka menonton kesenian tradisional barongan. Saya justru termasuk orang yang tumbuh bersama suara gamelan, topeng besar, dan aroma kemenyan yang samar-samar ikut terbawa angin sore. Tapi entah sejak kapan, menonton barongan di Kendal rasanya seperti beli tiket nonton seni, bonusnya malah tontonan tambahan menjadi ajang silaturahmi berantem antarpenonton.
Dan ini bonus yang jelas-jelas tidak saya minta.
Dulu, menonton barongan itu soal menikmati gerak, irama, dan suasana kampung yang mendadak ramai. Sekarang, beberapa kali datang ke acara barongan, fokus saya justru terpecah. Bukan karena atraksi barongannya, tapi karena waswas ini nanti pulangnya damai atau malah ada keributan lagi.
Masa ketika penonton barongan masih anak-anak
Kalau mengingat masa remaja, penonton barongan di Kendal itu mayoritas bocah-bocah SD dan SMP. Anak-anak yang datang beramai-ramai, tertawa cekikikan, dan merasa paling berani di dunia. Hiburan mereka sederhana menggodai pemain barongan atau dawangan.
Godaannya juga khas bocah kampung. Teriak-teriak, mendekat lalu kabur. Kalau dawangan atau pemain barongan mulai mengejar, mereka lari terbirit-birit sambil tertawa bangga karena merasa berhasil “mengganggu” orang dewasa.
Keributan? Ada, tapi dalam skala bocah. Paling banter jatuh, nangis sebentar, lalu ikut nonton lagi. Tidak ada yang pulang dengan kepala bocor atau dendam berkepanjangan. Barongan tetap barongan tontonan rakyat yang meriah, riuh, tapi aman.
Penonton barongan bergeser, niatnya ikut berubah
Sekarang, penontonnya sudah beda generasi. Anak-anak masih ada, tapi mulai tersisih oleh remaja ABG yang datang berombongan. Niat mereka pun bermacam-macam. Ada yang memang ingin menonton kesenian, ada yang sekadar ikut teman, ada pula yang datang dengan misi khusus hunting cewek.
Kalau sekadar cari kenalan, itu masih tergolong wajar. Acara barongan di Kendal memang ruang sosial terbuka. Semua orang berkumpul, musik keras, suasana ramai. Tapi masalah mulai muncul ketika sebagian penonton datang dengan niat lain minum minuman keras.
Ini yang jadi pemantik utama masalah. Minum, lalu berjoget. Awalnya masih santai. Tapi ketika joget sudah diiringi senggolan kecil, tatapan sinis, dan emosi yang naik tanpa rem, barongan berubah fungsi. Dari panggung seni jadi arena adu gengsi dan nyali.
Musik dangdut dan campursari: salah siapa?
Tidak bisa dimungkiri, barongan di Kendal sekarang banyak yang berubah. Beberapa kelompok di Kendal mulai memainkan musik dangdut dan campursari. Gamelan yang dulu identik dengan gending Jawa kini bercampur dengan beat dangdut yang menghentak.
Sebagian orang menyalahkan perubahan ini. Katanya, inilah biang kerok keributan. Tapi menurut saya, menyalahkan kelompok barongan itu kurang adil. Mereka hanya beradaptasi. Zaman berubah, selera penonton juga berubah. Kalau masih memaksakan format lama tanpa inovasi, bisa-bisa barongan ditinggal penonton.
Musik dangdut dan campursari jadi cara supaya kesenian ini tetap hidup dan diterima generasi sekarang. Masalahnya bukan di musiknya, tapi di mental sebagian penontonnya. Begitu beat dangdut dimainkan, suasana memang langsung berubah. Arena penonton mendadak mirip konser dangdut Palapa.
Orang berjoget, teriak-teriak, dan semakin larut dalam euforia. Kalau semua sadar diri, harusnya aman. Tapi ketika alkohol ikut campur, senggolan kecil bisa berubah jadi ajang adu pukul.
Oknum penonton, bukan kesenian
Yang perlu digarisbawahi yang salah itu oknum penonton, bukan kesenian barongannya. Barongan Kendal hanya menyediakan panggung. Soal rusuh atau tidak, itu tergantung siapa yang datang dan bagaimana mereka membawa diri.
Sayangnya, stigma keburu melekat. Setiap ada barongan, orang-orang mulai waswas. “Nanti pasti ribut.” Padahal tidak semua acara barongan berakhir ricuh. Banyak juga yang berjalan tertib dan penuh apresiasi seni.
Masalahnya, yang rusuh selalu lebih diingat daripada yang tertib.
Untungnya, tidak semua kelompok barongan di Kendal ikut arus memainkan musik dangdut dan campursari. Masih ada kelompok yang tetap menonjolkan sisi seni. Bahkan, mereka justru meng-upgrade pertunjukan dengan memasukkan unsur reog dan leak.
Hasilnya menarik. Penonton tidak hanya disuguhi jogetan, tapi juga atraksi yang memancing rasa kagum. Gerakannya lebih variatif, kostumnya lebih niat, dan ceritanya lebih terasa. Kelompok seperti ini biasanya menarik penonton yang memang ingin menikmati kesenian, bukan sekadar cari hiburan murah atau pelampiasan emosi. Suasananya pun cenderung lebih kondusif.
Dari pagi–sore ke siang–malam
Perubahan lain yang cukup terasa adalah soal waktu pementasan. Dulu, barongan di Kendal biasanya ditanggap dari pagi sampai sore. Begitu matahari mulai turun, acara selesai. Penonton bubar, kampung kembali tenang.
Sekarang, banyak barongan digelar dari siang sampai malam. Bahkan ada yang lewat tengah malam. Semakin malam, risikonya juga semakin besar. Penonton yang datang sore hari beda dengan yang datang tengah malam.
Kalau siang masih banyak keluarga dan anak-anak, malam mulai didominasi anak muda. Dan lagi-lagi, alkohol sering jadi faktor pembeda antara tontonan seni dan keributan.
Soal biaya dan aturan anti rusuh
Menanggap barongan di Kendal bukan perkara murah. Biayanya bervariasi, mulai dari 5 juta sampai puluhan juta rupiah. Tergantung kelompok, durasi, dan kelengkapan pertunjukan. Oleh karena itu, tuan rumah sekarang mulai lebih tegas. Beberapa membuat aturan siapa yang bikin rusuh harus mengganti seluruh biaya hiburan barongan.
Aturan ini sebenarnya masuk akal. Keributan tidak hanya merugikan secara moral, tapi juga materi.
Sayangnya, aturan ini sering hanya jadi ancaman lisan. Saat kejadian benar-benar terjadi, Ada yang mau bertanggung jawab tapi juga ada yang lari dari tanggung jawab. Yang ribut kabur, yang nanggung malu dan rugi tetap tuan rumah.
Dulu kesurupan, sekarang apresiasi seni
Ada satu hal menarik yang berubah. Dulu, daya tarik barongan salah satunya adalah adegan kesurupan dan makan beling. Penonton menunggu momen itu dengan antusias, setengah ngeri setengah penasaran.
Sekarang, minat penonton mulai bergeser. Banyak orang justru lebih tertarik pada keseniannya gerak tari, kostum, dan musik yang dimainkan para penabuh gamelan atau sekarang lebih tepat disebut pemain musik.
Dangdutnya memang tetap jadi magnet, tapi apresiasi terhadap seni mulai tumbuh, meski perlahan. Ini sebenarnya kabar baik, asal tidak dirusak oleh oknum yang datang hanya untuk bikin kisruh.
Menonton barongan di Kendal tanpa rasa waswas
Barongan adalah kesenian rakyat. Ia lahir dari kampung, untuk kampung. Sudah seharusnya menjadi ruang hiburan yang aman, ramah, dan menyenangkan. Kalau sekarang menonton barongan malah harus siap mental menghadapi keributan, berarti ada yang salah bukan pada seninya, tapi pada cara kita menjaganya.
Saya masih ingin menonton barongan tanpa harus berdiri di pinggir sambil waspada. Ingin menikmati irama, gerak, dan suasana tanpa khawatir tiba-tiba ada kursi melayang atau orang terkapar.
Barongan pantas mendapatkan penonton yang datang untuk menikmati, bukan mencari masalah. Dan kita, sebagai penonton, punya peran besar menentukan apakah barongan tetap jadi kesenian, atau berubah jadi sekadar panggung keributan.
Penulis: Andre Rizal Hanafi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















