Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Kalau Kamu Kepikiran Masuk Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus, Pertimbangkan Lagi, Jangan Buat Hidupmu Banyak Drama ala Negara

Moh. Mudhoffar Abdul Hadi oleh Moh. Mudhoffar Abdul Hadi
31 Agustus 2025
A A
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap kali masa ospek selesai, poster-poster ajakan masuk organisasi mahasiswa ekstra kampus selalu bermunculan. Warnanya mencolok, logonya gagah, slogannya heroik: “Membela kaum tertindas!” atau “Hidup mahasiswa! Hidup rakyat!”. Membacanya bikin darah muda mendidih, seolah kita sedang dipanggil untuk menjadi bagian dari sejarah.

Tapi jangan buru-buru daftar. Masuk organisasi mahasiswa ekstra kampus itu kadang lebih mirip ikut negara dalam versi mini. Ada DPR-nya, ada kabinetnya, ada oposisi, sampai intrik politiknya. Bedanya, kalau negara main miliaran, organisasi ini mainnya di level uang kas dua ribu per kepala.

1# Rapat organisasi mahasiswa ekstra kampus = DPR Versi Mini

Kalau kamu kira rapat organisasi mahasiswa ekstra kampus itu produktif, siap-siap aja kecewa. Malam-malam yang dulunya bisa dipakai buat maraton drakor atau push rank mendadak habis untuk rapat yang entah ujungnya di mana. Jam 8 malam rapat dimulai, jam 10 masih bahas pembukaan, jam 12 masih berdebat soal teknis, dan jam 2 dini hari baru sadar bahwa keputusan ditunda ke rapat berikutnya.

Bunyinya mirip banget sama DPR: penuh jargon, penuh wacana, tapi realisasi minim. Malah kadang agenda rapat organisasi mahasiswa ekstra kampus adalah “menentukan jadwal rapat berikutnya”. Serius, ini organisasi mahasiswa atau panitia arisan RT?

Yang bikin tambah miris, banyak anggota baru terjebak dalam lingkaran rapat tanpa ujung ini. Dulu niatnya masuk organisasi buat berjuang, ujung-ujungnya malah jadi penonton setia debat internal. Mirip rakyat kecil yang tiap hari harus nonton drama paripurna di televisi: gaduh, ribut, tapi hasilnya nihil.

2# Senioritas = Feodalisme ala Politik

Di organisasi mahasiswa ekstra kampus, senior itu ibarat pejabat lama: sulit digeser, suka bicara soal “pengalaman panjang”, dan merasa paling paham arah perjuangan. Junior? Ya mirip rakyat jelata: disuruh iya, ngeluh salah.

Ada pepatah tak tertulis: jangan macam-macam sama senior kalau nggak mau disingkirkan. Kritik dianggap pembangkangan, inisiatif bisa dituduh kudeta kecil. Padahal katanya organisasi ini mengajarkan demokrasi, tapi praktik sehari-harinya lebih mirip feodalisme.

Kalau kamu tahan banting, mungkin bisa menikmati proses ini. Tapi kalau kamu mahasiswa idealis yang percaya pada kesetaraan, siap-siap kecewa. Bukannya belajar demokrasi, kamu malah belajar bagaimana tunduk pada kekuasaan. Ya mirip rakyat yang selalu diajak dengar pidato pejabat tentang keadilan, tapi giliran praktiknya: “Yang muda harus sabar, tunggu giliran.” Lah, kapan giliran itu datang? Bisa-bisa nunggu sampai pensiun.

Baca Juga:

Fenomena Alumni Abadi di Organisasi Kampus: Sarjana Pengangguran yang Hobi Mengintervensi Junior demi Merawat Ego yang Remuk di Dunia Kerja

Wajar Banget kalau Mahasiswa Sekarang Mikir 2 Kali Sebelum Masuk Organisasi Mahasiswa

Dan jangan heran, konflik internal akibat senioritas ini sering lebih panas daripada politik nasional. Ada “koalisi” antar senior, ada “oposisi” yang suka nyeletuk, ada pula yang main dua kaki demi selamat. Organisasi mahasiswa ekstra kampus benar-benar miniatur negara dengan segala dramanya.

3# Stempel ideologi organisasi mahasiswa ekstra kampus itu abadi

Begitu kamu gabung, stempel ideologi langsung menempel. “Oh, dia anak kiri, siap-siap ngomongin revolusi.” Atau, “Wah, itu anak kanan, pasti doyan bicara soal moral bangsa.” Padahal kamu masuk cuma karena pengin punya circle nongkrong baru.

Sayangnya, sekali dicap, sulit lepas. Sama kayak politik nasional: dukung kandidat A bisa dianggap musuh bebuyutan kandidat B. Padahal rakyat biasa cuma pengin harga beras turun, listrik nggak naik, dan internet tetap murah.

Akibatnya, hidupmu bisa repot. Di kampus, kamu dipandang dengan kacamata ideologis. Di luar kampus, stigma ikut terbawa. Ada mahasiswa yang gagal magang karena HRD tahu dia aktif di organisasi mahasiswa ekstra kampus tertentu. Alasannya, “Takutnya kamu lebih sibuk demo daripada kerja,” kata HRD dengan senyum kecut. Lah, niatnya belajar organisasi, ujung-ujungnya malah dianggap ancaman.

Polarisasi organisasi mahasiswa ekstra kampus ini persis polarisasi nasional: banyak bicara soal rakyat, tapi ujung-ujungnya sibuk mempertahankan label ideologis. Yang rugi? Kamu sendiri. Karena label itu nempel kayak tato, susah dihapus meski kamu sudah insaf.

4# IPK Jadi Korban = Rakyat Jadi Tumbal

Kalau negara sering bikin kebijakan yang rakyatnya jadi tumbal, organisasi ini pun begitu: anggotanya yang jadi korban. Kuliah terbengkalai, IPK anjlok, skripsi molor.

Pepatah organisasi mahasiswa ekstra kampus bilang, “Nilai bisa dicari, pengalaman nggak bisa dibeli.” Kedengarannya mulia, tapi realitasnya banyak anggota yang justru kesulitan lulus. Katanya membela rakyat, tapi dirinya sendiri belum bisa selamat dari DO.

Bukannya belajar manajemen waktu, malah belajar bagaimana mengorbankan semuanya demi rapat atau aksi. Sama kayak rakyat yang diminta rela berkorban demi pembangunan. Bedanya, pejabat masih bisa liburan ke luar negeri, sementara mahasiswa organisasi mahasiswa ekstra kampus liburannya cuma di sekretariat penuh spanduk usang.

Dan ironisnya, kalau kamu jatuh di tengah jalan—misalnya nilai jeblok atau gagal skripsi—organisasi nggak selalu peduli. Mereka tetap jalan, sementara kamu ditinggal. Sama persis kayak negara yang suka bilang “demi rakyat”, tapi giliran rakyat susah, dibilang kurang bersyukur.

Penutup

Jadi, kalau kamu maba yang lagi galau mau masuk organisasi mahasiswa ekstra kampus, pikirkan baik-baik. Organisasi ini memang bisa bikin kamu matang, tapi juga bisa bikin kamu tenggelam dalam drama tanpa ujung. Jangan sampai kamu masuk dengan mimpi jadi pahlawan mahasiswa, tapi keluar hanya sebagai cameo di drama politik kampus.

Ingat, skripsi saja sudah cukup menyiksa. Jangan sampai kamu menambah beban dengan jadi rakyat di negara kecil bernama organisasi mahasiswa ekstra kampus.

Penulis: Moh. Mudhoffar Abdul Hadi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Organisasi Kampus dan Budaya Sok Sibuk yang Menyebalkan dari Anggotanya, padahal Menghasilkan Sesuatu Saja Tidak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 31 Agustus 2025 oleh

Tags: organisasi mahasiswaorganisasi mahasiswa ekstra kampusrapat organisasi mahasiswa
Moh. Mudhoffar Abdul Hadi

Moh. Mudhoffar Abdul Hadi

Freelancer yang menyelesaikan S1 dalam 13 semester. Mulai menekuni dunia penulisan kreatif secara profesional sejak masa patah hati. saat ini menjadi Aktivis muda. Arsitek dunia literasi.

ArtikelTerkait

Kerugian yang Bakal Diderita Mahasiswa kalau Program KKN Ditiadakan terminal mojok.co presma ketua BEM UGM organisasi mahasiswa

Di Kampus Saya, Menjadi Presma Hanyalah Impian Saat Maba

13 November 2020
Dear Maba, Berikut Kalimat yang Nggak Perlu Kalian Percaya tentang Ormek Mojok.co

Dear Maba, Berikut Kalimat yang Nggak Perlu Kalian Percaya tentang Ormek

4 Agustus 2024
Kasta Mahasiswa di Bangkalan Madura, Ada yang Si Paling Ormek hingga yang Cuma Jadi Remahan Rempeyek

Kasta Mahasiswa di Bangkalan Madura, Ada yang Si Paling Ormek hingga yang Cuma Jadi Remahan Rempeyek

11 September 2025
Menyesal Nggak Jadi Mahasiswa Ambisius Selama Kuliah, Sekarang Jadi Susah Dapat Kerja Mojok.co

Menyesal Nggak Jadi Mahasiswa Ambisius Selama Kuliah, Sekarang Jadi Susah Dapat Kerja

8 April 2024
Bangkalan Kabupaten Seribu Ketua: Organisasinya Banyak, Perubahannya Nol

Bangkalan Kabupaten Seribu Ketua: Organisasinya Banyak, Perubahannya Nol

12 Januari 2024
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Fenomena Alumni Abadi di Organisasi Kampus: Sarjana Pengangguran yang Hobi Mengintervensi Junior demi Merawat Ego yang Remuk di Dunia Kerja

18 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Cawang, Stasiun yang Bikin Saya Nangis Bawang Saking Ramenya yang Nggak Masuk Akal

Stasiun Cawang, Stasiun yang Bikin Saya Nangis Bawang Saking Ramenya yang Nggak Masuk Akal

26 Januari 2026
Kawali, Kecamatan Istimewa di Kabupaten Ciamis yang Jarang Dilirik. Hanya Dilewati Wisatawan yang Fokus ke Pangandaran

Kawali, Kecamatan Istimewa di Kabupaten Ciamis yang Jarang Dilirik. Hanya Dilewati Wisatawan yang Fokus ke Pangandaran

26 Januari 2026
8 Alasan Jurusan Psikologi Pantas Disebut sebagai Jurusan Paling Green Flag Mojok.co

8 Alasan Jurusan Psikologi Pantas Disebut Jurusan Paling Green Flag

27 Januari 2026
Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

27 Januari 2026
6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar Mojok.co

6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar

26 Januari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Kalau Saya Nggak Merantau ke Sidoarjo, Saya Nggak Tahu 3 Sisi Gelap Sidoarjo Ini

26 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Sebagai “Alumni” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung 
  • Memfitnah Es Gabus Berbahaya adalah Bentuk Kenikmatan Kekuasaan yang Cabul
  • Waste to Energy (WtE): Senjata Baru Danantara Melawan Darurat Sampah di Perkotaan
  • AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah
  • Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita
  • Pengamat Imbau Bulog untuk Revisi Pengadaan GKP agar Petani Tak Setor Gabah “Aneh-aneh”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.