Kepada Sony Pictures, Spider-Man Sudah Tak Membutuhkanmu Lagi Meski Pernah Jalan Bersama

Kalau dipikir-pikir, penyebab sesungguhnya terletak pada Sony Pictures yang disebut-sebut sebagai biang keladi atas hengkangnya Spider-Man dari Marvel.

Artikel

Aditya Mahyudi

Tahun 2019 adalah tahun yang sangat istimewa bagi Marvel. Selain memperkenalkan superhero fase 4, peluncuran serial bertemakan Avengers adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh penggemarnya. Namun di balik semua itu, ada kabar yang kurang membanggakan di dunia Marvel. Salah satu anggota Avengers yaitu Spider-Man sang superhero yang selalu mengeluarkan jaring laba-laba dikabarkan harus meninggalkan keluarga Marvel untuk selamanya. Hal ini disebabkan karena dua perusahaan terkemuka di dunia yaitu Disney dan Sony Pictures telah gagal mencapai kesepakatan kontrak sehingga memengaruhi film Spider-Man di masa mendatang.

Supaya lebih adil, ada dua pilihan dalam menentukan nasib Spider-Man yaitu melanjutkan sekuel film bersama Marvel atau membuat film sendiri tanpa melibatkan campur tangan Marvel.

Kalau dipikir-pikir, penyebab sesungguhnya terletak pada Sony Pictures yang disebut-sebut sebagai biang keladi atas hengkangnya Spider-Man dari Marvel. Alasannya mereka menuntut pembayaran biaya produksi dengan sistem bagi rata sebesar 50:50. Sementara, Disney tetap bersikukuh untuk menolak tawaran Sony Pictures sehingga lebih memilih untuk negoisasi ulang atas biaya produksi beserta pendapatan film agar tidak mengalami kerugian besar.

Sayangnya, tidak ada satupun dari mereka yang ingin mengalah. Dampaknya adalah mereka saling berdebat satu sama lain tanpa ada jalan keluar serta mereka terancam membawa kasus tersebut di meja pengadilan apabila berakhir deadlock atau tidak ada kata “setuju.” Andaikan mereka akur, mungkin film-film produksi Sony Pictures dan Disney sudah pasti akan berjalan mulus tanpa memikirkan nasib Spider-Man.

Aktor Jeremy Renner selaku pemeran Hawkeye mengutarakan dukungannya agar Spider-Man tetap berada di lingkaran Marvel. Melalui akun Instagramnya, Renner mengungkapkan bahwa Spider-Man sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh Stan Lee dan Marvel. Baginya, kehilangan sosok superhero laba-laba sama saja membuat Marvel kembali bangkrut meskipun hal itu bersifat mustahil.

Baca Juga:  Pembimbing Skripsimu Bilang ACC, Pas Ujian Kamu Dibantai

Biarpun banjir dukungan dalam bentuk apapun, keputusan Spider-Man berpisah dari Marvel memang sudah dibulat dan tidak bisa diganggu gugat. Namun, ada kalanya dapat bergabung kembali jika berakhir damai seperti dulu.

Sekedar info, nama Sony Pictures mulai booming di dunia perfilman ketika berhasil memproduksi Spider-Man di awal millenium. Kemunculan filmnya pada saat itu menembus peringkat 10 besar di Box Office. Walaupun masih kalah jauh dengan Titanic yang telah memegang titel film termahal sepanjang masa di era 1990-an, Spider-Man mampu mencari perhatian pada penonton dari kalangan remaja di tengah dominasi film bertema romantis dan serial telenovela. Jadi bisa dibilang superhero laba-laba ini telah menyelamatkan nyawa Sony Pictures dari keterpurukan sekaligus menepis anggapan bahwa Sony Pictures sangat identik dengan film yang berbau serba ngantuk.

Berkat polesan Sony Pictures, kehadiran Spider-Man seakan membangkitkan lagi gairah perfilman superhero sekaligus merindukan aksi yang mendebarkan. Karena film superhero sebelumnya masih terasa kurang greget ceritanya dan cenderung membosankan sehingga tidak layak untuk ditonton. Selain itu, aksinya melewati gedung tinggi memang patut diperbincangkan.

Di balik semua itu, Spider-Man tidak akan meraih keberhasilan tanpa kehadiran pemain utamanya. Tobey Maguire salah satu pemeran yang pertama sukses menghayati peran Spider-Man di beberapa sekuel versi Sony Pictures. Meskipun awalnya ragu, dia tidak menyangka bahwa Spider-Man telah melambungkan namanya sekaligus mensejajarkan dirinya dengan aktor Hollywood yang kenyang pengalaman meskipun masih berstatus pendatang baru.

Konsekuensinya, banyak penggemar yang lebih mengingat dirinya sebagai Peter Parker alias Spider-Man ketimbang nama aslinya. Fenomena inilah yang dinamakan move on atau tidak bisa dipisahkan dari idolanya walaupun pemerannya silih berganti dalam setiap filmnya.

Pastinya, strategi Sony Pictures telah mengubah jalan hidupnya dari pemain figuran menjadi seorang superstar. Seiring berjalannya waktu, Spider-Man mulai mengalami penurunan rating pasca mundurnya Tobey Maguire dari franchise Spider-Man dikarenakan proyek sekuel Spider-Man 4 yang resmi dibatalkan akibat aksi walkout Sam Raimi. Begitu juga dengan Andrew Garfield yang merasakan dampaknya dipecat sebagai Spider-Man akibat tidak menyukai jalan ceritanya yang amburadul.

Baca Juga:  Improvisasi: Memaafkan Charlie Hunnam, Tom Holland dan Marisa Tomei

Belajar dari kegagalan, saya rasa memilih Aktor untuk memerankan superhero ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kalaupun ada yang sukses mungkin hanya beberapa saja yang tahan mental dengan tekanan publik.

Bagi saya, Tom Holland adalah aktor yang paling baik dalam memerankan Spider-Man maupun Peter Parker di era Marvel. Selain mewakili kalangan muda, Holland berhasil mematahkan stereotip bahwa anak yang kurang gaul bisa menyelamatkan dunia dalam kondisi apapun tanpa membeda-bedakan orangnya. Meskipun dianugerahi kekuatan super, dia setidaknya bersikap rendah hati dan tidak sombong pada siapapun.

Diingatkan kembali, keberhasilan itu tidak diraih secara instan melainkan harus memulai perjuangannya dari nol agar belajar yang namanya penderitaan hidup. Kalau zaman sekarang mungkin menjadi terkenal hanya bermodalkan tampang dan sensasi daripada menghasilkan prestasi. Seperti halnya Spider-Man yang awalnya dipuja-puja oleh penonton tetapi pada akhirnya mendapat karma yaitu langsung dikeluarkan dari rumah produksi mapan akibat konflik yang terjadi pada rumah produksi yang menaunginya.

Sebagai penutup, permasalahan yang menimpa Spider-Man maupun rumah produksinya harus segera diselesaikan sebelum terlambat apalagi jalan ceritanya di Spider-Man: Far From Home masih menggantung sampai sekarang. (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

---
251 kali dilihat

3

Komentar

Comments are closed.