Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Kenangan Civic Genio 1992, Mobil Pertama yang Datang di Waktu Tepat, Pergi di Waktu Sulit

Muhammad Faishol oleh Muhammad Faishol
15 Desember 2025
A A
Niat Hati Beli Mobil Honda Civic Genio buat Nostalgia, Malah Berujung Sengsara

Niat Hati Beli Mobil Honda Civic Genio buat Nostalgia, Malah Berujung Sengsara (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Akhir 2017, setelah cukup lama sok kuat ke mana-mana naik motor, saya akhirnya membeli mobil pertama. Mobil itu bukan keluaran baru, bukan juga hasil kredit panjang. Mobil itu adalah Honda Civic Genio tahun 1992.

Artinya, ketika saya membelinya, mobil ini sudah berusia 25 tahun, lahir di zaman kaset pita, tapi dipaksa hidup di era Spotify. Dunia di sekitarnya sudah berubah jauh, sementara ia tetap datang dengan cara lama.

Mobil ini saya beli seharga Rp40 juta, hasil dari jualan kaos, menahan banyak keinginan, dan gaji dosen swasta di Banyuwangi. Orang Jawa menyebutnya ngempis-ngempis: hidup ditekan dan disusutkan, bukan karena ingin terlihat sederhana, tapi karena memang keadaannya begitu. Mobil ini bukan penanda sukses. Lebih tepat disebut alat supaya hidup tidak terlalu capek.

Jarak rumah saya ke kampus sekitar 80 kilometer pulang-pergi. Naik motor tentu bisa, tapi lama-lama badan rasanya tidak diajak kompromi. Apalagi saya sering pulang malam karena kampus swasta, ya jadwal kuliahnya tentu harus menunggu mahasiswanya pulang kerja. Untungnya, waktu itu ada tunjangan transportasi yang membedakan dosen bermotor dan bermobil. Bensin dihitung sebagai kebutuhan, bukan gaya hidup.

Jadi membeli mobil, meski sudah tua, terasa masih bisa dibenarkan, setidaknya sebagai ikhtiar menjaga kesehatan.

Mobil sembilan puluhan dan kenangan yang ikut tertinggal

Civic Genio ini mobil yang aromanya khas 90-an. Bentuknya sederhana, sedikit sporty, dan entah kenapa terasa akrab. Mungkin karena generasi mobil ini sering muncul di ingatan masa kecil, barengan dengan lagu-lagu Nike Ardilla yang dulu sering diputar di mana-mana.

Untuk pasar Indonesia, Civic Genio dibekali mesin 1.5 liter SOHC 16 valve berteknologi PGM-FI. Di awal 90-an, injeksi masih tergolong mewah. Banyak mobil sekelas masih setia dengan karburator. Tenaganya tidak berlebihan, tapi cukup untuk bodinya yang relatif ringan. Blok mesin aluminium jadi andalan Honda saat itu: efisien, halus, dan tidak ribet. Belum VTEC, tapi juga tidak terasa payah.

Radiator 1 Ply dan seni menahan diri

Masalah Civic Genio tahun 1992 bukan pada mesinnya, melainkan sistem pendingin. Unit tahun-tahun awal masih menggunakan radiator 1 ply dengan kapasitas terbatas. Untuk pemakaian harian di kota, masih aman. Tapi untuk perjalanan jauh, apalagi di cuaca panas, mobil ini mudah protes.

Baca Juga:

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

Honda Civic FD: Mobil Ganteng yang Dibayar dengan Pahitnya Harga Perawatan Mahal

Civic Genio 1992 mengajarkan satu hal: jangan sok kuat. Kalau dipakai ke luar kota, tidak bisa asal gas. Idealnya, tiap sekitar seratus kilometer harus berhenti sebentar. Bukan buat ngopi, tapi buat ngademin mesin. Kalau dipaksakan, risikonya ya itu-itu saja: suhu naik, mesin panas, dan akhirnya menepi sambil pasrah.

Nyaman, tapi tidak pernah benar-benar menang

Soal kenyamanan, Civic Genio ini sebenarnya enak. Suspensi double wishbone depan dan belakang bikin mobil stabil dan nurut. Tidak limbung, tidak bikin capek. Untuk ukuran mobil tua, rasanya masih pantas dipakai harian.

Masalahnya, usia tetap usia. AC mobil saya waktu itu sudah tidak dingin. Yang keluar hanya angin. Kalau hujan deras, kaca depan langsung buram. Wiper bergerak, tapi pandangan tetap tidak jelas.

Tujuan naik mobil seharusnya sederhana: tidak kehujanan. Tapi Civic Genio saya ini punya pendapat lain. Setiap hujan deras, saya tetap harus berhenti. Bedanya cuma satu, berhentinya di dalam mobil, sambil menunggu hujan reda, bukan sambil menggigil di pinggir jalan seperti naik motor. Secara fungsi memang ada peningkatan, tapi secara perasaan, ya sebelas dua belas. Hampir sama saja, nelongso.

Knalpot Civic Genio hampir putus dan kejutan tengah malam

Di malam hari, di jalan yang sepi, Civic Genio ini cukup menyenangkan. Kecepatan di atas seratus kilometer per jam masih bisa dicapai tanpa drama berarti. Sampai suatu ketika, tiba-tiba suaranya berubah. Keras. Aneh. Seperti ada yang lepas.

Saya menepi dan turun. Ternyata knalpotnya hampir putus setengah. Mobil tua, wajar. Besoknya langsung ke tukang las. Biayanya Rp50 ribu. Murah, tapi cukup bikin sadar: mobil ini aman kalau dirawat, dan cepat memberi tanda kalau mulai diabaikan.

Civic Genio yang harus dilepas setelah menikah

Akhir 2018, Civic Genio ini harus saya jual. Bukan karena rusak, bukan juga karena bosan. Tapi karena kebutuhan hidup setelah menikah datang tanpa banyak kompromi.

Sedih? Iya. Sedih yang tidak berlebihan, tapi terasa.

Mobil ini adalah mobil pertama yang saya beli dari hasil kerja sendiri. Ia menyimpan banyak cerita: pulang malam, mesin panas, hujan yang memaksa berhenti, dan knalpot yang tiba-tiba menyerah.

Mobil itu pergi. Hidup lanjut. Mau tidak mau.

Saya baru membeli mobil lagi di 2021. Alhamdulillah. Proses hidup memang begitu. Kadang dipaksa jalan, kadang harus berhenti sebentar. Tapi selama masih bisa dirawat, ya dijalani saja.

Dari Civic Genio 1992 itu, dengan mesin yang mudah panas dan kebiasaan memaksa saya berhenti, menjadi mobil pertama yang diam-diam mengajari saya bahwa perjalanan hidup, tidak selalu soal kuat jalan terus, tapi tahu kapan harus menepi.

Penulis: Muhammad Faishol
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Niat Hati Beli Mobil Honda Civic Genio buat Nostalgia, Malah Berujung Sengsara

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Desember 2025 oleh

Tags: civic genioMobil Hondamobil honda civic geniorekomendasi mobil honda
Muhammad Faishol

Muhammad Faishol

Lelaki yang hidup di antara aroma kafein dan deru mesin. Menikmati ketenangan dalam seseduh kopi, namun menemukan gairah dalam setiap presisi otomotif. Bekerja sebagai Dosen dan guru.

ArtikelTerkait

Niat Hati Beli Mobil Honda Civic Genio buat Nostalgia, Malah Berujung Sengsara

Niat Hati Beli Mobil Honda Civic Genio buat Nostalgia, Malah Berujung Sengsara

18 Agustus 2025
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran Mojok.co honda civic fd

Honda Civic FD: Mobil Ganteng yang Dibayar dengan Pahitnya Harga Perawatan Mahal

21 Januari 2026
Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran Mojok.co honda civic fd

Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran

6 Januari 2026
Honda HRV : Simbol Status Anak Muda Masa Kini yang Dihujat oleh Kaum Mendang-Mending. Overhated?

Honda HRV : Simbol Status Anak Muda Masa Kini yang Dihujat oleh Kaum Mendang-Mending. Overhated?

14 Mei 2025
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Mobil Honda Mobilio: Mobil Murah Underrated dari Honda yang Bikin All New Avanza Kelihatan Nggak Menarik Lagi

3 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

9 April 2026
Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Gagal Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Dicap Tak Punya Masa Depan tapi Malah Hidup Tenang
  • KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”
  • Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas
  • Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata
  • Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina
  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.