Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kelurahan Rembiga Jadi Wilayah Paling Berisik di Mataram: Dulu Bising oleh Deru Pesawat, Kini Berganti Riuh Konser Musik

Atanasius Rony Fernandez oleh Atanasius Rony Fernandez
18 Juli 2024
A A
Kelurahan Rembiga Jadi Wilayah Paling Berisik di Mataram: Dulu Bising oleh Deru Pesawat, Kini Berganti Riuh Konser Musik

Kelurahan Rembiga Jadi Wilayah Paling Berisik di Mataram: Dulu Bising oleh Deru Pesawat, Kini Berganti Riuh Konser Musik (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kelurahan Rembiga di Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, bisa jadi merupakan wilayah paling berisik di Kota Mataram sejak puluhan tahun silam hingga kini. Dahulu di sana ada Bandara Selaparang yang diresmikan sejak tahun 1959 dan ditutup pada 2011.

Setelah Bandara Selaparang ditutup untuk penerbangan komersil, lahannya dimanfaatkan sebagai tempat konser musik. Warga Kelurahan Rembiga sepertinya memang warga paling tabah terhadap kebisingan. Setelah puluhan tahun bising oleh deru mesin pesawat, kini berganti diriuhkan konser musik.

Warga Rembiga Mataram akrab dengan deru mesin pesawat saat Bandara Selaparang masih aktif

Kota Mataram merupakan kota yang kecil. Ketika ada pesawat hendak mendarat atau lepas landas di Bandara Selaparang, hampir seluruh warga kota pasti mendengar suara pesawat itu. Sebagai orang yang sudah menjadi warga Mataram sejak lahir, tepatnya sejak awal 1990-an, saya merasakan betul hari-hari kami diriuhkan bising deru mesin pesawat yang melintas di langit Mataram.

Rumah saya yang jaraknya beberapa kilometer dari Bandara Selaparang pun bisa merasakan kebisingan oleh suara pesawat yang melintas. Bercandaan “pesawat minta uang” jadi kebiasaan saya dan teman-teman masa kecil saya. Saya tidak bisa membayangkan menjadi warga Rembiga Mataram yang harus membiasakan kuping mereka merasakan bising mesin pesawat saban hari. Benar-benar saban hari.

Sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), lalu lintas penerbangan dari dan ke Bandara Selaparang di Kelurahan Rembiga Mataram lumayan padat saat bandara itu masih aktif. Hari-hari warga Kelurahan Rembiga pastilah diwarnai suara bising mesin pesawat.

Pada tahun 2011, Bandara Selaparang berhenti beroperasi sebagai bandara komersil. Semua penerbangan beralih ke Bandara Internasional Lombok (BIL) yang kini berganti nama menjadi Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM). Kini bekas lahan Bandara Selaparang itu akrab disebut sebagai Eks Bandara Selaparang.

Setelah semua penerbangan dialihkan ke BIZAM, langit Kota Mataram menjadi hening. Benar-benar tak ada lagi bising pesawat. Sebuah pemandangan yang sangat kontras. Sebagai warga Mataram sejak kecil, saya merasakan perubahan langit Kota Mataram yang dulunya bising menjadi benar-benar hening. Warga Kelurahan Rembiga Mataram terbebas dari suara bising pesawat setiap hari.

Eks Bandara Selaparang berubah jadi arena konser musik

Akan tetapi “kebebasan” itu tidak bertahan lama. Setelah pandemi Covid-19 berakhir, disusul dengan rentetan konser musik di seluruh Indonesia yang seperti banjir bandang pada kisaran tahun 2020-an. Di hampir semua daerah tiba-tiba sangat sering ada perhelatan konser musik, termasuk di Kota Mataram.

Baca Juga:

Taman Mayura Mataram Sepi padahal Tempat Paling Nyaman untuk Melepas Penat

Pernikahan di Desa Lebih Perlu Modal Sosial daripada Uang

Mungkin masyarakat kita merasa sangat jengah dipaksa berdiam di dalam rumah. Mereka membutuhkan hiburan, dan konser musik jadi jawaban dari keresehan itu.

Seringnya konser musik dengan skala besar dengan menghadirkan deretan musisi secara bersamaan menuntut sebuah tempat yang representatif. Sebagai kota kecil, Kota Mataram tidak memiliki banyak tempat pas untuk sebuah acara dengan skala besar yang bisa menampung banyak orang. Satu-satunya tempat yang bagi saya pribadi dan saya yakin diamini banyak warga Mataram layak untuk tempat konser adalah Eks Bandara Selaparang yang ada di Kelurahan Rembiga.

Eks Bandara Selaparang bertubi-tubi menjadi tempat konser para musisi ternama. Awalnya beberapa tempat menjadi pilihan tempat konser musik, tetapi tempat lainnya punya sejumlah kelemahan. Akhirnya, seakan secara otomatis, konser musik skala besar berpusat di Eks Bandara Selaparang.

Wajar saja penyelenggara memilih menghelat konser di sana. Bekas landasan pacu pesawat yang lebar dan panjang itu sangat representatif untuk menampung ribuan orang. Orang juga jadi tidak kebingungan untuk parkir kendaraan.

Lahan yang luas bikin penonton merasa cukup lapang untuk berjingkrak-jingkrak menikmati konser. Jika ada masalah tiba-tiba pun, penonton mudah diungsikan ke tempat yang aman karena lahan yang sangat lapang.

Tambah bising karena gelaran MXGP

Selama dua tahun terakhir, Eks Bandara Selaparang di Kelurahan Rembiga Mataram juga menjadi tuan rumah ajang balapan motocross paling bergengsi di dunia: Motocross Grand Prix (MXGP). Bahkan pada tahun 2024 ini, tepatnya pada akhir Juni dan awal Juli lalu, Eks Bandara Selaparang jadi tuan rumah untuk dua seri MXGP dalam jangka waktu selang seminggu.

Panitia meramaikan Gelaran MXGP itu dengan konser musik. Artinya, selama dua pekan berturut Eks Bandara Selaparang jadi tempat konser musik. Warga Rembiga Mataram merasakan suara bising yang dobel: bising oleh konser musik dan suara knalpot para pembalap MXGP.

Warga Kelurahan Rembiga dalam beberapa tahun terakhir jadi sangat akrab dengan konser musik. Suara berisik musik yang keluar dari sound system kerap terdengar di Kelurahan Rembiga. Tidak hanya musik, suara riuh para penonton dan kendaraan efek macet selepas konser pun kerap terjadi di wilayah itu.

Begitulah Kelurahan Rembiga Mataram yang dulunya kerap bising oleh deru mesin pesawat, kini berganti riuh konser musik. Warga harus senantiasa sabar sekaligus membiasakan gendang telinga menahan segala kebisingan.

Penulis: Atanasius Rony Fernandez
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Bandara Selaparang Lombok: Dulu Landasan Pacu Pesawat, Kini Disulap Jadi Sirkuit Balap Motocross.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2024 oleh

Tags: Bandara Selaparang LombokKota MataramNTBNusa tenggara baratRembiga Mataram
Atanasius Rony Fernandez

Atanasius Rony Fernandez

Jurnalis yang tinggal di Mataram, Lombok. Sesekali menulis karya sastra. Tertarik pada isu kesenian, sosial, dan kuliner. Penggemar AS Roma dan musik metal.

ArtikelTerkait

Cari Transportasi Publik di Kota Mataram Itu Sulit terminal mojok.co

Cari Transportasi Publik di Kota Mataram Itu Sulit

21 Januari 2022
Selamat Ulang Tahun Kota Mataram, Jangan Jadi Tua dan Menyebalkan

Selamat Ulang Tahun Kota Mataram, Jangan Jadi Tua dan Menyebalkan

1 September 2023
Bandara Selaparang Lombok: Dulu Landasan Pacu Pesawat, Kini Disulap Jadi Sirkuit Balap Motocross

Bandara Selaparang Lombok: Dulu Landasan Pacu Pesawat, Kini Disulap Jadi Sirkuit Balap Motocross

30 Juni 2023
7 Keunikan Sumbawa yang Tidak Dimiliki Daerah Lain Terminal Mojok

7 Keunikan Sumbawa yang Tidak Dimiliki Daerah Lain

14 September 2022
5 Kuliner Legendaris di Kota Mataram selain Ayam Bakar Taliwang

5 Kuliner Legendaris di Kota Mataram selain Ayam Bakar Taliwang

6 Juli 2023
Pernikahan di Desa Lebih Perlu Modal Sosial daripada Uang Mojok.co

Pernikahan di Desa Lebih Perlu Modal Sosial daripada Uang

16 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik Mojok.co

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

7 Februari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan
  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.