Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Keluh Kesah Guru Honorer di Pelosok Perbatasan Kalimantan

Lois Elisabeth Maria oleh Lois Elisabeth Maria
28 Mei 2023
A A
Keluh Kesah Guru Honorer di Pelosok Perbatasan Kalimantan

Keluh Kesah Guru Honorer di Pelosok Perbatasan Kalimantan (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kata guru honorer pasti tidak asing lagi bagi jamaah mojokiyah. Guru honorer merupakan guru yang memiliki tugas sama seperti guru PNS, tapi tidak terikat pada pemerintah atau mudah dikenal dengan guru tidak tetap. Selain perbedaan perolehan upah, waktu pembayaran upah yang tidak tetap juga menjadi perbedaan antara guru honorer dan guru PNS.

Banyak keluh kesah guru honorer yang sering terdengar di jam istirahat sekolah saat pimpinan tidak ada di tempat. Apalagi kalau bekerja sebagai honorer di pelosok perbatasan Kalimantan. Kira-kira apa saja yang menjadi keluhan, ya?

Jalanan menuju sekolah berliku, jauh, dan penuh tantangan

Di daerah pelosok perbatasan, apalagi di Kalimantan, kondisi geografisnya cukup beragam. Ada tanjakan, turunan, belokan, kubangan, dll. Kondisi ini diperparah dengan minimnya jalan aspal, jalan tanah liat yang licin bagai perosotan ketika hujan, jalan berkerikil yang kerikilnya sebesar harapan, hingga jalan bergelombang yang lebih parah dari yang dikeluhkan orang-orang di perkotaan.

Selain kondisi jalan yang memprihatinkan, jarak tempuh dari rumah menuju sekolah juga cukup jauh. Salah satu guru honorer wanita yang baru saja lulus kuliah PGSD menyampaikan pada saya bahwa dia harus menempuh waktu sekitar 1 jam untuk bisa ke sekolah tempat mengajar. Saat musim hujan tiba, mau ke sekolah saja seperti mampir ke sawah dulu. Sementara saat musim kemarau tiba, dia harus bersiap dihujani butiran debu di jalanan.

Ada juga guru honorer lainnya yang memutuskan belajar mengendarai motor sendiri agar bisa sampai ke sekolah. Modal nekat, dia mengendarai motor manual yang tentunya lebih sulit ketimbang motor matic. Lantaran jalan yang rusak, jarak yang jauh, dan kemampuan berkendara yang masih newbie, beberapa kali dia jatuh dari motor tuanya. Namun, semua itu tak menyurutkan tekadnya untuk tetap bekerja.

Jam mengajar yang lebih lama

Ada perbedaan jam belajar antara sekolah negeri dan swasta. Katanya sih kurikulumnya berbeda, namun hal ini cukup menjadi perbincangan hangat tiap kali guru honorer berkumpul, dan biasanya yang mengeluh soal ini adalah mereka yang bekerja di sekolah swasta.

Si salah satu sekolah swasta di perbatasan Kalimantan misalnya, jam pulang untuk siswa SD kelas 1-3 adalah jam 2 siang. Sementara kelas 4-6 SD pulang jam 3 sore. Hal ini cukup berbeda dengan mayoritas sekolah negeri yang nggak pulang di atas jam 12 siang. Kebijakan yang cukup berbeda ini tentu menjadi salah satu hal yang memberatkan guru honorer yang harus berangkat ekstra pagi karena rumahnya jauh dan pulang sore. Apalagi dengan penghasilan yang tak sesuai beban kerja.

Fasilitas yang kurang memadai

Dalam kegiatan pembelajaran, fasilitas berupa sarana dan prasarana menjadi salah satu yang berperan penting agar dapat menunjang proses pembelajaran. Sayangnya, fasilitas penunjang pendidikan di sekolah yang berada di pelosok perbatasan akan jauh berbeda dari fasilitas di sekolah yang berada di kabupaten dan kota-kota.

Baca Juga:

PPG dan Dapodik, Kombo Maut Penentu Nasib Guru Honorer yang Meresahkan dan Menakutkan 

Bantuan untuk Guru Honorer Memang Sering Ada, tapi Dapodik Bikin Segalanya Jadi Ribet dan Guru Nasibnya Makin Sengsara

Ya memang guru dituntut untuk kreatif, tapi bagaimana jika fasilitas seperti buku saja nggak ada, listrik nggak memadai, dan semuanya serba kekurangan? Kalaupun guru honorer mau membuat media pembelajaran, kan butuh alat dan bahan. Kalau sekolah nggak menyediakannya, apakah para guru bisa menyiapkan sendiri alat dan bahan yang diperlukan? Upahnya saja nggak jelas, maka terpaksa pembelajaran dilaksanakan semaksimal mungkin dengan fasilitas seminim mungkin.

Upah minim, tidak tepat waktu

Tak dapat dimungkiri bahwa sebagai guru honorer, upah yang diterima memang minim. Akan tetapi, masalah-masalah yang sudah diuraikan sebelumnya tentu menambah miris nasib guru honorer di pelosok perbatasan Kalimantan yang hampir 90% perantau.

Sebenarnya upah minim ini masih bisa diterima dengan lebih sabar dan ikhlas apabila dibayarkan pada waktu yang jelas dan tepat. Hal ini nggak terjadi pada guru honorer di sekolah swasta, namun juga yang ada di sekolah negeri. Nggak tepat waktunya bukan cuma sebulan dua bulan, info yang saya peroleh dari teman lain adalah upahnya sudah sekitar lima bulan belum diberikan.

Itulah beberapa keluh kesah para guru honorer di pelosok perbatasan Kalimantan yang bisa saya tuangkan di sini. Nyatanya, masih banyak keluhan lain yang kami rasakan di sini. Semoga kelak semua guru honorer di penjuru negeri bisa lebih sejahtera dan menjadi pahlawan pendidikan yang dihargai.

Penulis: Lois Elisabeth Maria
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kalau Mau Bahagia, Jadilah Guru PNS. Kalau Mau Jadi Filsuf, Jadilah Guru Honorer.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Mei 2023 oleh

Tags: Guru Honorerkalimantanperbatasan
Lois Elisabeth Maria

Lois Elisabeth Maria

ArtikelTerkait

Jurusan Pendidikan Itu Memang Gampang dan Sepele kok, Beneran deh, Serius Guru

Jurusan Pendidikan Itu Memang Gampang dan Sepele kok, Beneran deh, Serius

26 Februari 2024
Guru Honorer Minggat, Digusur Negara dan Guru P3K (Unsplash) dapodik

Bantuan untuk Guru Honorer Memang Sering Ada, tapi Dapodik Bikin Segalanya Jadi Ribet dan Guru Nasibnya Makin Sengsara

20 Januari 2026
Camat Baito Dicopot Bupati Imbas Kasus Supriyani, Blunder yang Amat Tak Perlu

Camat Baito Dicopot Bupati Imbas Kasus Supriyani, Blunder yang Amat Tak Perlu

31 Oktober 2024
5 Hal yang Perlu Kalian Tahu sebelum Merantau ke Kalimantan  Mojok.co

5 Hal yang Perlu Kalian Tahu sebelum Merantau ke Kalimantan 

1 November 2023
seleksi pppk pns guru honorer birokrasi amburadul mojok.co

Seleksi PPPK Adalah Bukti Pemerintah Setengah Hati Memikirkan Guru Honorer

20 September 2021
Guru Honorer Minggat, Digusur Negara dan Guru P3K (Unsplash) dapodik

Cleansing Guru Honorer, Kado Pahit Guru pada Awal Tahun Ajaran Baru, “Dibasmi” Seakan Bukan Manusia

17 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar Mojok.co

Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar

21 Februari 2026
Rujak Cingur, Makanan Aneh Surabaya yang Paling Nggak Disarankan untuk Pendatang Mojok.co

Rujak Cingur, Makanan Aneh Surabaya yang Paling Nggak Disarankan untuk Pendatang

26 Februari 2026
Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang Mojok.co

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

23 Februari 2026
Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

26 Februari 2026
Pulang ke Lembata NTT Setelah Lama Merantau di Jawa, Kaget karena Kampung Halaman Banyak Berubah Mojok.co

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

25 Februari 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

UNNES Semarang Rajin Menambah Mahasiswa, tapi Lupa Menyediakan Parkiran yang Cukup

24 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.