Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kedudukan Wanita di Masa Nusantara Kuno

Annisa Herawati oleh Annisa Herawati
10 September 2020
A A
nusantara peran wanita kesetaraan gender mojok

nusantara peran wanita kesetaraan gender mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Isu kesetaraan gender antara pria dan wanita selalu menjadi topik yang  menarik untuk diperbincangkan. Pria dan wanita merupakan makhluk Tuhan yang sama-sama diberi tugas untuk menjaga bumi. Namun masih saja ada sebagian manusia yang mendiskriminasi posisi wanita dalam kehidupan ini. Lantas apakah peran wanita memang sering terpinggirkan sejak dahulu? Benarkah di zaman nenek moyang kita, wanita hanya memiliki tugas domestik yang berkutat pada 3 M, yaitu masak, macak, dan manak?

Pria dan wanita merupakan kosakata yang berakar dari bahasa Sansekerta. Wanita berasal dari kata vanita, yang mana van memiliki makna tercinta, istri, perempuan, dan anak gadis. Sementara pria berasal dari kata priya  yang memiliki arti tercinta, kekasih yang disukai, dan yang diinginkan. Kedudukan pria dan wanita dianggap setara. Meskipun pada akhirnya terdapat pembagian kerja berdasarkan kekuatan fisik. Hal tersebut bukan untuk saling membedakan melainkan agar saling melengkapi.

Berabad-abad sebelum feminisme didengungkan dan diperjuangkan seperti sekarang ini, para pendahulu kita di Nusantara sudah mengamalkan kesetaraan gender meskipun beliau semua pada saat itu belum mengenal istilah feminisme.  Pada masa Jawa kuno, wanita dan pria digambarkan sebagai mitra yang sejajar yang sama-sama memiliki hak untuk mengaktualisasikan diri baik di ranah publik maupun di ranah domestik.

Dalam ranah politik, sejarah mencatat Kerajaan Kalingga yang merupakan kerajaan bercorak Hindu pertama di tanah Jawa, berhasil meraih puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Ratu Shima. Selama 21 tahun memegang tampuk kekuasaan, Ratu Shima berhasil menjadikan rakyatnya hidup sejahtera serta membawa Kalingga menjadi kerajaan besar yang disegani oleh kerajaan lain.

Kerajaan Majapahit juga pernah dipimpin oleh rajaputri, yaitu Tribhuwana Wijayatunggadewi, sang pembuka gerbang kejayaan Majapahit. Di awal pemerintahannya, kondisi Majapahit diwarnai dengan berbagai pemberontakan beberapa pejabat Majapahit yang kecewa dengan pemerintahan raja terdahulu, Jayanegara. Tribhuwana bukanlah sosok ratu yang hanya duduk manis di singgasana kerajaan. Ia tak segan untuk langsung terjun ke medan pertempuran. Seperti yang tercatat dalam kitab Pararaton,  Tribhuwanamenjadi panglima pasukan perang untuk menumpas pemberontakan Sadeng dan Keta dengan dibantu kemenakannya, Adityawarman, yang mana kedua pemberontakan tersebut berhasil ia padamkan.

Setelah keadaan internal Majapahit kondusif, Tribhuwana bersama Gajah Mada mulai melakukan ekspansi besar-besaran dan berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama di Bali dan Sumatra. Hal inilah yang menjadi gerbang awal masa keemasan Majapahit yang akan mencapai puncaknya di masa pemerintahan putranya, Hayam Wuruk.

Kesetaraan gender pada masa Majapahit tidak hanya berlaku bagi ratu maupun putri mahkota. Wanita yang memenuhi persyaratan diperbolehkan untuk menjadi penguasa daerah, hakim, pengawas, pedagang, bahkan juga menjadi dewan penasihat raja. Perundangan yang berlaku di Majapahit juga tidak pernah menempatkan wanita dalam posisi inferior. Hak dan kehormatan wanita sangat dijunjung tinggi melalui perundang-undangan agama pasal paradara yang menerangkan berbagai jenis hukuman dan denda yang dikenakan kepada pria yang mengganggu wanita. Hukuman yang dikenakan pun tidak main-main, misalnya pria yang melakukan tindak pemerkosaan dapat dikenai hukuman mati. Bahkan pria  yang sudah beristri menegur wanita di tempat yang sepi juga dianggap sebagai pelecehan seksual yang mana untuk pelakunya dikenai denda dua laksa dan jika pelakunya adalah pendeta maka status kependetaannya akan dicabut.

Kesultanan Aceh selaku kerajaan besar Islam yang pernah ada di Nusantara tak jauh berbeda dengan kerajaan-kerajaan di atas dalam memandang kedudukan wanita. Kesultanan Aceh pernah dipimpin oleh empat sultanah berbeda secara berurutan selama 59 tahun. Meskipun para Sultanah tersebut memimpin di balik tirai, namun sejarah mencatat bahwa di masa kepemimpinan mereka Aceh mengalami banyak kemajuan.

Baca Juga:

4 Jenis Orang yang Nggak Bakal Cocok Hidup dan Menetap di Bogor, Khususnya Orang Lemah Mental Apalagi Fisik

Jember, Surganya Pencinta Nasi Goreng Kaki Lima

Sultanah pertama Aceh, Tajul Alam Safiyatuddin, naik takhta karena menggantikan suaminya, Iskandar Thani yang wafat. Selama memimpin, ia membuat gebrakan dengan menganjurkan bahkan kadang kala mewajibkan kaum wanita untuk belajar di sekolah. Safiyattudin juga berhasil membawa pamor Aceh kembali terangkat setelah sebelumnya Aceh sempat meredup setelah ditinggal Sultan Iskandar Muda.

Setelah Safiyattudin mangkat, ia digantikan oleh putrinya, Nakiyatuddin. Di era kepemimpinannya, terjadi pemberontakan dari kaum wujudiyah yang berhasil menghanguskan istana, Masjid Baitur Rahman, dan sebagian besar Kota Banda Aceh. Meskipun pemberontakan tersebut sempat membuat pemerintahannya lumpuh, namun Nakiyatuddin mampu mempertahankan kekuasaannya dan merombak undang-undang dasar kerajaan untuk memperkuat kedudukannya.

Inayat Syah Zakiyatuddin naik tahta setelah Nakiyatuddin wafat. Ketika Zakiyatuddin memimpin, ia memperkuat hubungan dengan negara sahabat dengan tujuan untuk melumpuhkan kekuasaan VOC. Strategi tersebut berhasil, Aceh terbebas dari pengaruh VOC yang saat itu mencengkeram Nusantara. Selain itu, Zakiyatuddin juga berhasil memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan di negeri serambi Mekkah tersebut.

Sulthanah terakhir, Kamalat Shah, naik takhta menggantikan sang ibunda. Pada masa kepemimpinannya, Aceh semakin maju dan berkembang. Namun, ia mendapatkan perlawanan dari golongan orang kaya yang menuntut agar kekuasaan Aceh dikembalikan kepada pria. Akhirnya, sang ratu turun tahta meninggalkan Aceh yang maju di bawah kepemimpinannya. Ia mundur bukan karena adanya tuntutan dari golongan orang kaya, melainkan adanya fatwa dari Mekkah yang menegaskan pemerintahan yang dipimpin oleh wanita bertentangan dengan syariat Islam.

BACA JUGA Gaj Ahmada dalam Pusaran Tragedi Pertanyaan “Kapan Kawin?” dan tulisan Annisa Herawati lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 September 2020 oleh

Tags: Kesetaraan Gendernusantaraperan wanita
Annisa Herawati

Annisa Herawati

Cah asli Blitar

ArtikelTerkait

6 Jutsu Naruto yang Mirip dengan Ajian yang Ada di Indonesia

6 Jutsu Naruto yang Mirip dengan Ajian yang Ada di Indonesia

19 Januari 2023
Kesetaraan gender

Argumen Kuli dalam Obrolan Kesetaraan Gender Itu Basi

19 November 2021
melissa siska juminto coo tokopedia najwa shihab founder narasi tv kesetaraan gender teknologi hari perempuan sedunia 2021 mojok.co

Kesetaraan Gender Bukan Mimpi Lagi di Hadapan Teknologi

8 Maret 2021
3 Tipe Penjual Pempek Palembang di Bogor (Pixabay)

3 Tipe Penjual Pempek Palembang di Bogor

14 April 2023
7 Nasi Kuning Lezat dalam Khazanah Kuliner Nusantara Terminal Mojok kobe nasi kuning

7 Nasi Kuning Lezat dalam Khazanah Kuliner Nusantara

20 Desember 2022
Perempuan Harusnya Nggak Benci Laki-Laki Karena Kesetaraan Adalah Saling Melengkapi

Perempuan Harusnya Nggak Benci Laki-Laki Karena Kesetaraan Itu Saling Melengkapi

9 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Lagu Bahasa Inggris Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia (Unsplash)

7 Lagu Bahasa Inggris yang Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia

16 Januari 2026
Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

15 Januari 2026
Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

14 Januari 2026
4 Spot Jogja yang Jadi Populer karena Sosok Pak Duta Sheila On 7 Mojok.co

4 Spot Jogja yang Jadi Populer karena Sosok Pak Duta Sheila On 7

10 Januari 2026
Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul Bandara Soekarno Hatta (Unsplash)

Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul Bandara Soekarno-Hatta, Hotel Alternatif yang Memudahkan Hidup

11 Januari 2026
5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.