Dongkol karena dikenai tarif lebih dari kesepakatan
Saya sadar betul, jalanan menurun itu nanti akan menguras tenaga saat harus mendaki kembali ke atas. Makanya, saya sudah berniat memberi uang lebih sebagai apresiasi. Di saku, saya sudah siapkan uang dua kali lipat dari harga awal.
Akan tetapi, saat sampai di titik akhir dan saya menyodorkan uang tersebut, beliau sempat terdiam sejenak sebelum melontarkan kalimat yang bikin saya melongo. Tarifnya mendadak jadi tiga kali lipat hanya karena rutenya sampai bawah. Rasa kesal langsung menyergap karena pemandu itu tidak menginfokan tambahan biaya tersebut sejak awal.
Mungkin saya terlalu naif karena menganggap area hotel sebagai ruang aman yang steril dari tipu-tipu. Ternyata, jebakan batman masih ada di mana-mana. Masalahnya bukan sekadar nominal uangnya, melainkan transparansi.
Menawarkan jasa tanpa bicara soal tambahan biaya di muka itu, bagi saya, sama saja dengan perangkap. Alhasil, saya harus merogoh kocek Rp105.000 dengan rasa dongkol.
Pengalaman di Lembang Bandung ini benar-benar bikin saya kapok. Lain kali, saya berjanji buat tidak gampang percaya dan iba pada orang asing di tempat wisata.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













