Saya lahir dan besar di Kebumen, sebuah kabupaten yang mungkin tidak terlalu sering muncul dalam daftar kota besar di Indonesia. Namun, bagi orang yang berasal dari sana, ada satu hal yang rasanya cukup umum, yaitu merantau.
Sejak kecil saya sudah sering mendengar cerita orang-orang yang pergi dari Kebumen untuk mencari kehidupan di tempat lain. Ada yang ke Jogja untuk kuliah, ke Jakarta untuk bekerja, dan ada juga yang mencoba peruntungan di kota-kota lain.
Cerita seperti itu begitu sering terdengar sampai rasanya merantau seperti bagian dari alur hidup orang Kebumen. Dan pada akhirnya, saya juga menjadi salah satu dari mereka yang merantau.
BACA JUGA: 5 Fakta Kebumen yang Jarang Diketahui Orang
Meninggalkan Kebumen dengan perasaan campur aduk
Waktu kali pertama memutuskan pergi merantau dari Kebumen, saya tidak tahu harus merasa apa. Excited? Iya. Takut? Juga iya. Tapi lebih dari itu, ada rasa yang susah dinamai. Saya sadar, bahwa hidup yang selama ini terasa lambat dan mudah ditebak, sebentar lagi akan berubah drastis.
Kota besar memang menarik dari jauh. Terlihat penuh peluang, segar akan kehidupan, dan berisi orang-orang yang sepertinya tahu mau ke mana mereka pergi. Yang tidak terlihat dari jauh adalah betapa capeknya jadi bagian dari keramaian itu setiap hari.
Hidup di kota besar itu seperti lari di atas treadmill
Kota besar mengajari saya satu hal yang tidak saya dapat di Kebumen dengan sangat efisien. semua orang sibuk, dan kalau tidak sibuk, orang akan menganggapmu tidak serius.
Alarm memulai pagi jauh sebelum matahari terbit, lalu desak-desakan di kendaraan umum, jalanan penuh kendaraan, dan notifikasi tak kunjung berhenti. Siang masih kerja. Sore macet. Malam baru sampai kos, rebahan sebentar, besok begitu lagi.
Hari-hari terasa penuh. Tapi anehnya juga sering terasa kosong. Penuh agenda, tapi kosong dari hal-hal yang sebenarnya bikin kamu merasa hidup.
Lama-lama kamu mulai lupa caranya santai tanpa merasa bersalah. Duduk diam sebentar terasa seperti membuang waktu. Istirahat terasa seperti kemunduran. Dan kamu terus jalan, karena semua orang di sekitarmu juga terus jalan.
Sampai kamu pulang
Ada momen yang selalu sama setiap perjalanan pulang merantau ke Kebumen hampir selesai. Ketika kendaraan mulai masuk ke jalanan yang lebih sepi, sawah mulai kelihatan, dan klakson tidak lagi bersahut-sahutan sesuatu di dada ikut melambat.
Bukan perasaan yang dramatis. Tidak ada musik latar, tidak ada slow motion. Cuma tiba-tiba terasa ringan. Seperti bahu yang dari tadi tegang, akhirnya boleh turun.
Dan saya tidak pernah benar-benar bisa jelaskan kenapa Kebumen bisa melakukan itu. Kota ini tidak punya apa yang kota besar punya. Tapi Kebumen punya sesuatu yang lebih susah dicari di tempat lain, izin untuk tidak berlari.
Hal-Hal kecil yang rasanya mahal banget ketika kamu meninggalkan Kebumen
Setiap pulang ke Kebumen, saya selalu heran kenapa hal-hal yang dulu terasa biasa sekarang terasa seperti hadiah. Misalnya, makan bareng keluarga.
Masakan yang rasanya tidak ada tiruannya di warteg. Duduk di teras sore-sore tanpa agenda apa-apa. Ngobrol sama teman lama yang obrolannya nyambung dari mana saja meski sudah lama tidak ketemu.
Di kota besar, saya harus bayar mahal untuk pengalaman yang sekadar terasa “tenang”. Kafe aesthetic, weekend getaway, me time yang harus dijadwalkan jauh-jauh hari. Di Kebumen, semua itu ada di teras rumah. Gratis. Sudah termasuk paket.
Kebumen tidak banyak berubah dan itu bukan kelemahan
Hal lain yang saya sadari setelah lama pergi, Kebumen tidak berubah terlalu cepat. Warung yang dulu sering saya datangi masih buka. Jalan yang sudah saya hafal sejak SMP masih sama. Wajah-wajah di lingkungan rumah masih wajah yang itu-itu juga.
Orang mungkin bilang itu ketinggalan zaman. Tapi bagi saya yang setiap hari hidup di tengah kota yang terus berubah yang warung langganan tiba-tiba tutup diganti minimarket, yang lingkungan kos berubah setiap enam bulan kestabilan itu terasa seperti kemewahan.
Kebumen tidak menuntut saya untuk terus update. Kebumen tidak peduli apakah saya sudah naik jabatan atau belum, sudah punya ini atau itu atau belum. Kebumen cuma bilang kamu pulang, ya sudah, masuk, makan dulu.
BACA JUGA: 6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja
Pergi untuk belajar, pulang untuk ingat siapa kamu
Merantau memang perlu. Saya tidak akan bilang sebaliknya. Di luar sana saya belajar banyak hal yang tidak akan saya dapat kalau tetap di Kebumen. Cara kerja, cara ketemu orang baru, cara survive di lingkungan yang tidak familiar. Tapi pulang ke Kebumen juga mengajarkan sesuatu yang sama pentingnya.
Pulang mengingatkan saya bahwa ada versi saya yang lebih sederhana yang hidupnya tidak selalu harus dioptimasi, yang istirahatnya tidak perlu dijustifikasi, yang kebahagiaannya tidak harus viral dulu baru sah. Dan versi itu tidak kemana-mana. Masih ada. Masih nunggu di Kebumen.
Mungkin itulah kenapa banyak orang Kebumen yang merantau ke mana-mana tapi tetap menyimpan satu niat sederhana di dalam kepala, suatu hari nanti pulang. Bukan karena kota lain tidak bagus. Tapi karena tidak semua tempat bisa bikin hati kamu adem begitu kamu sampai.
Kebumen bisa.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Dulu Malu Bilang Orang Kebumen, Sekarang Malah Bangga: Transformasi Kota yang Bikin Kaget
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
