Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
21 Maret 2026
A A
Kebumen Aneh, Maksa Merantau tapi Bikin Pengin Pulang (Wikimedia Commons)

Kebumen Aneh, Maksa Merantau tapi Bikin Pengin Pulang (Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya lahir dan besar di Kebumen, sebuah kabupaten yang mungkin tidak terlalu sering muncul dalam daftar kota besar di Indonesia. Namun, bagi orang yang berasal dari sana, ada satu hal yang rasanya cukup umum, yaitu merantau.

Sejak kecil saya sudah sering mendengar cerita orang-orang yang pergi dari Kebumen untuk mencari kehidupan di tempat lain. Ada yang ke Jogja untuk kuliah, ke Jakarta untuk bekerja, dan ada juga yang mencoba peruntungan di kota-kota lain. 

Cerita seperti itu begitu sering terdengar sampai rasanya merantau seperti bagian dari alur hidup orang Kebumen. Dan pada akhirnya, saya juga menjadi salah satu dari mereka yang merantau.

BACA JUGA: 5 Fakta Kebumen yang Jarang Diketahui Orang

Meninggalkan Kebumen dengan perasaan campur aduk

Waktu kali pertama memutuskan pergi merantau dari Kebumen, saya tidak tahu harus merasa apa. Excited? Iya. Takut? Juga iya. Tapi lebih dari itu, ada rasa yang susah dinamai. Saya sadar, bahwa hidup yang selama ini terasa lambat dan mudah ditebak, sebentar lagi akan berubah drastis.

Kota besar memang menarik dari jauh. Terlihat penuh peluang, segar akan kehidupan, dan berisi orang-orang yang sepertinya tahu mau ke mana mereka pergi. Yang tidak terlihat dari jauh adalah betapa capeknya jadi bagian dari keramaian itu setiap hari.

Hidup di kota besar itu seperti lari di atas treadmill

Kota besar mengajari saya satu hal yang tidak saya dapat di Kebumen dengan sangat efisien. semua orang sibuk, dan kalau tidak sibuk, orang akan menganggapmu tidak serius.

Alarm memulai pagi jauh sebelum matahari terbit, lalu desak-desakan di kendaraan umum, jalanan penuh kendaraan, dan notifikasi tak kunjung berhenti. Siang masih kerja. Sore macet. Malam baru sampai kos, rebahan sebentar, besok begitu lagi.

Baca Juga:

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik

Hari-hari terasa penuh. Tapi anehnya juga sering terasa kosong. Penuh agenda, tapi kosong dari hal-hal yang sebenarnya bikin kamu merasa hidup.

Lama-lama kamu mulai lupa caranya santai tanpa merasa bersalah. Duduk diam sebentar terasa seperti membuang waktu. Istirahat terasa seperti kemunduran. Dan kamu terus jalan, karena semua orang di sekitarmu juga terus jalan.

Sampai kamu pulang

Ada momen yang selalu sama setiap perjalanan pulang merantau ke Kebumen hampir selesai. Ketika kendaraan mulai masuk ke jalanan yang lebih sepi, sawah mulai kelihatan, dan klakson tidak lagi bersahut-sahutan sesuatu di dada ikut melambat.

Bukan perasaan yang dramatis. Tidak ada musik latar, tidak ada slow motion. Cuma tiba-tiba terasa ringan. Seperti bahu yang dari tadi tegang, akhirnya boleh turun.

Dan saya tidak pernah benar-benar bisa jelaskan kenapa Kebumen bisa melakukan itu. Kota ini tidak punya apa yang kota besar punya. Tapi Kebumen punya sesuatu yang lebih susah dicari di tempat lain, izin untuk tidak berlari.

Hal-Hal kecil yang rasanya mahal banget ketika kamu meninggalkan Kebumen

Setiap pulang ke Kebumen, saya selalu heran kenapa hal-hal yang dulu terasa biasa sekarang terasa seperti hadiah. Misalnya, makan bareng keluarga. 

Masakan yang rasanya tidak ada tiruannya di warteg. Duduk di teras sore-sore tanpa agenda apa-apa. Ngobrol sama teman lama yang obrolannya nyambung dari mana saja meski sudah lama tidak ketemu.

Di kota besar, saya harus bayar mahal untuk pengalaman yang sekadar terasa “tenang”. Kafe aesthetic, weekend getaway, me time yang harus dijadwalkan jauh-jauh hari. Di Kebumen, semua itu ada di teras rumah. Gratis. Sudah termasuk paket.

Kebumen tidak banyak berubah dan itu bukan kelemahan

Hal lain yang saya sadari setelah lama pergi, Kebumen tidak berubah terlalu cepat. Warung yang dulu sering saya datangi masih buka. Jalan yang sudah saya hafal sejak SMP masih sama. Wajah-wajah di lingkungan rumah masih wajah yang itu-itu juga.

Orang mungkin bilang itu ketinggalan zaman. Tapi bagi saya yang setiap hari hidup di tengah kota yang terus berubah yang warung langganan tiba-tiba tutup diganti minimarket, yang lingkungan kos berubah setiap enam bulan kestabilan itu terasa seperti kemewahan.

Kebumen tidak menuntut saya untuk terus update. Kebumen tidak peduli apakah saya sudah naik jabatan atau belum, sudah punya ini atau itu atau belum. Kebumen cuma bilang kamu pulang, ya sudah, masuk, makan dulu.

BACA JUGA: 6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

Pergi untuk belajar, pulang untuk ingat siapa kamu

Merantau memang perlu. Saya tidak akan bilang sebaliknya. Di luar sana saya belajar banyak hal yang tidak akan saya dapat kalau tetap di Kebumen. Cara kerja, cara ketemu orang baru, cara survive di lingkungan yang tidak familiar. Tapi pulang ke Kebumen juga mengajarkan sesuatu yang sama pentingnya.

Pulang mengingatkan saya bahwa ada versi saya yang lebih sederhana yang hidupnya tidak selalu harus dioptimasi, yang istirahatnya tidak perlu dijustifikasi, yang kebahagiaannya tidak harus viral dulu baru sah. Dan versi itu tidak kemana-mana. Masih ada. Masih nunggu di Kebumen.

Mungkin itulah kenapa banyak orang Kebumen yang merantau ke mana-mana tapi tetap menyimpan satu niat sederhana di dalam kepala, suatu hari nanti pulang. Bukan karena kota lain tidak bagus. Tapi karena tidak semua tempat bisa bikin hati kamu adem begitu kamu sampai.

Kebumen bisa.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Dulu Malu Bilang Orang Kebumen, Sekarang Malah Bangga: Transformasi Kota yang Bikin Kaget

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Maret 2026 oleh

Tags: jawa tengahKabupaten KebumenKebumenmerantauMudik
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

Mengadu Nasib di Jakarta Itu Berat, Lebih Baik Jangan kalau Belum Siap Mojok.co

Mengadu Nasib di Jakarta Itu Berat, Lebih Baik Jangan kalau Belum Siap

12 November 2023
Sleeper Bus_ Transportasi Roda Karet Paling Nyaman_ terminal mojok PO Bus mudik

Rekomendasi PO Bus untuk Mudik dari Jakarta ke Daerah Pantura  

16 April 2023
Jogja Itu Kota Salah Urus, eh Kebumen Malah Menirunya. Aneh! (Unsplash)

Ketika Identitas Sudah Tidak Penting Lagi, Kota Kebumen Lebih Memilih untuk Beralih dan Meniru Jogja yang Salah Urus

12 Maret 2024
Terminal Mendolo Wonosobo, Terminal yang Terasa Humble (Unsplash)

Terminal Mendolo Wonosobo, Terminal yang Terasa Humble

27 Mei 2023
Stasiun Semarang Poncol: Saksi Bisu Sejarah hingga Urban Legend di Sudut Kota Semarang

Stasiun Semarang Poncol: Saksi Bisu Sejarah hingga Urban Legend di Sudut Kota Semarang

17 Mei 2023
Jalur Cilongok-Pakuncen, Jalur Alternatif Purwokerto-Bumiayu yang Tidak Lagi Solutif

Jalur Cilongok-Pakuncen, Jalur Alternatif Purwokerto-Bumiayu yang Tidak Lagi Solutif

4 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Menu Toko Roti GO Purwokerto Paling Underrated (Unsplash)

7 Menu Toko Roti GO Purwokerto Paling Underrated: Kombinasi Rasa yang Memanjakan Lidah dan Semua Cocok Jadi Buah Tangan

21 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

19 Maret 2026
Tips Membuka Bisnis Rental Mobil Selama Lebaran untuk Pemula, Alias Nggak Usah!

Tips Membuka Bisnis Rental Mobil Selama Lebaran untuk Pemula, Alias Nggak Usah!

14 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Sulit Ditemukan Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota Mojok.co

5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Langka, Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota

20 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.