Kalau istri saya tidak pernah bekerja di Surabaya selama empat tahun, saya tidak akan tahu beberapa fakta ini. Rentetan fakta yang sebenarnya merugikan Sidoarjo. Saya sebut kebohongan karena bikin saya sempat salah paham.
#1 Terminal Purabaya beralamat di Sidoarjo, bukan Surabaya
Saya sangat suka sekali naik kereta api. Sebuah kesukaan yang menurun ke anak saya yang kedua.
Dulu, selama empat tahun saya dan istri LDR dan LDM, saya rutin mengunjunginya di Surabaya. Dan tentu saja, kereta api jadi favorit saya. Mengunjungi istri naik kereta api selalu jadi momen yang saya nantikan. Tentu saja ketemu istri adalah kebahagiaan tersendiri.
Nah, suatu ketika, teman saya memberi saran untuk sesekali mencoba naik bus. Katanya, tiket bus lebih murah dan saya akan mendapat pengalaman berbeda. Saya nggak ada masalah naik bus. Cuma, kalau ada pilihan naik kereta, ya saya pilih kereta dong. Tapi yah, ada rasa penasaran di sana.
“Nanti turun di Bungurasih,” kata istri ketika saya sudah di atas bus. Bungurasih, adalah nama lain dari Terminal Purabaya. Saya kira, terminal itu ada di Surabaya karena tujuan saya memang ke sana. Namun, nyatanya, Purabaya beralamat di Jalan Letjen Soetoyo, Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, Sidoarjo.
Teman saya sudah sangat percaya diri bilang, “Hati-hati setelah turun di Terminal Bungurasih. Terminal di Surabaya itu banyak copetnya.” Info yang sama sekali nggak akurat.
Baca halaman selanjutnya: Padahal Sidoarjo sekeren itu.



















