Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kaum yang Beli Motor Trail Cuma buat Gaya, Kapan Tobat, Bos?

Muhammad Dzal Anshar oleh Muhammad Dzal Anshar
19 Oktober 2020
A A
Kaum yang Beli Motor Trail Cuma Buat Gaya, Kapan Tobat, Bos?terminal mojok motocross

Kaum yang Beli Motor Trail Cuma Buat Gaya, Kapan Tobat, Bos?terminal mojok motocross Kaum yang Beli Motor Trail Cuma Buat Gaya, Kapan Tobat, Bos?terminal mojok motocross

Share on FacebookShare on Twitter

Tak ada yang lebih menyedihkan dari monster yang dikurung dalam rumah. Begitulah yang ada di benak saya saat melihat motor Kawasaki D-Tracker dengan kapasitas 250 cc, yang terparkir manja di ruang tamu, tanpa goresan, tanpa luka, tanpa tanah yang menempel di bodi maupun ban, bersih mengkilap bak motor baru. Ditambah dengan ban yang sudah diganti dengan tipe intermediate, jelas sudah motor trail ini digunakan bukan lagi seperti peruntukan aslinya, sungguh memalukan dan memilukan.

Sejak 2015, motor trail atau offroad mulai kembali dilirik dan menemukan tempat di pasar Indonesia. Kawasaki sebagai pelopor motor trail Indonesia menjadi pendobrak pasar dengan meluncurkan KLX dan D-Tracker. Melihat perkembangan yang terus positif, pabrikan lain turut bersaing dengan mengeluarkan produk di segmen yang sama. Honda kemudian meluncurkan CRF. Sedangkan Yamaha yang tidak pernah gagal membuktikan bahwa mereka adalah yang terdepan, meluncurkan WR 125, 150, 155 hingga 250 R. Entah memang terlambat atau sengaja belakangan, Yamaha sepertinya bernafsu menyapu rata pasar motor trail, meski pada akhirnya harus mereka akui, KLX dan CRF telanjur memiliki penggemarnya sendiri.

ADVERTISEMENT

Saya sendiri sudah menetapkan hati pada CRF. Dibanding motor trail lain, model batok dan bodi CRF terlihat lebih elegan dengan kapasitas mesin yang tidak underdog meski tidak juga superior. Terutama karena harganya yang pas untuk dikorbankan sebagai motor terabas jungkir balik di pegunungan.

Faktor utama yang membuat motor trail kembali dilirik adalah karena segmen pasarnya yang bukan sekedar aspek fungsionalitas, hobby, dan passion, tapi juga sudah merambah ke faktor kebutuhan visual buat gaya-gaya. Serupa dengan emak-emak yang pakai mobil Pajero Sport buat ke mal dan acara kondangan. Tak sedikit orang yang beli motor cross hanya untuk dipakai ke kantor, mengantar ibu arisan, sekolah, kampus, menarik perhatian wanita, pamer di tongkrongan, dan untuk kebutuhan ramashook lainnya.

Motor trail yang seharusnya untuk terabas hutan, naik-turun gunung, menerobos aliran sungai, membelah padang savana, melewati jalan kerikil berbatu, terjal, berliku, dan penuh kenangan. Bukan buat gaya-gayaan dan dipamerkan secara visual saja. Akhirnya motor gahar ini hanya wara-wiri di jalan beraspal perkotaan, saya bahkan pernah menemui pengendara motor trail yang menerobos trotoar karena tidak mau terjebak macet. Anjay, malah melanggar lalu lintas.

Ibarat ikan di aquarium, burung di sangkar, anjing diikat lehernya, sugar glider yang hanya bisa melompat ke pemiliknya, dan tokek yang ditangkap karena sekedar menyukai motifnya. Seperti itulah mereka dengan bangga membeli dan membawa pulang motor trail untuk hal-hal yang tidak seharusnya tanpa rasa bersalah dan berdosa sedikit pun.

Para “psikopat” ini membuat motocross jadi “mistaken identity”. Layaknya burung elang yang menetas di keluarga ayam, dia kehilangan identitas aslinya. 

Kalau ada yang berasalan, “Sultan mah bebaaas!!!”

Baca Juga:

Suzuki Satria Pro Punya Fitur Keren di Balik Bodi yang Tampak Payah

Suzuki GSX-R150, Motor Sport untuk Kalian yang Muak dengan Honda CBR dan Yamaha R15

Halah, nggak ada sultan yang memamerkan kegoblokan, Bos! Kalaupun ada, ya berarti dia bukan sultan, cuma ngaku-ngaku aja. Begini ya, sedikit iktibar buat kalian kelompok sesat dan norak yang masih berlindung di balik label “sultan”.

Kalau memang real sultan, Anda tinggal beli motor matic NMax atau Vespa Sprint. Lalu pakailah keduanya untuk keliling kota. Tanpa kamu tempel harganya, semua orang pasti langsung tahu kalau kamu adalah orang yang kelebihan uang. Teman-temanmu mungkin bakal silau dan tambah respek.

ADVERTISEMENT

Lalu kalau ada yang nyeletuk lagi, “Motor trail lebih laki Bos!”

Ya kalau butuhnya yang lebih laki, tinggal beli saja motor sport yang bodinya bongsor, berpadu dengan helm Arai, sarung tangan Taichi, dan sepatu Jordan, itu baru “laki” bin mevvah. Otomatis dicap sultan walau jalan kaki sekalipun.

Kalau maksa pakai motor trail buat Sunmori di pusat kota, gantilah pakai ban soft, helm motocross dipasangin kamera, plus ditempel stiker “harta, takhta, Anya”.

Memang kesannya kayak selfie pakai hape cap apel krowak. Hasilnya 5% aesthetique, 95% pamer, norak bin ramashoook!

Saran saya sih kalau memang suka motor trail, rajin-rajinlah membelah hutan dan naik turun gunung. Setidaknya totalitas dalam mencintai produk yang sudah dirancang sedemikian rupa. Masa sih motivasinya beli cuma karena ikut-ikutan dan didorong perasaan pengin ria ke anak-anak setongkrongan. 

Photo by Adam Fredén via Pexels.com

BACA JUGA Memutuskan Mengisap Rokok karena Camilan dan Fastfood Lebih Buruk dan tulisan Muhammad Dzal Anshar lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

ADVERTISEMENT

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2021 oleh

Tags: motor sportotomojok
Muhammad Dzal Anshar

Muhammad Dzal Anshar

Orang lapar, disayang Tuhan.

ArtikelTerkait

jupiter z

Kenangan Manis Bersama si “Bebek Sirkuit” Jupiter Z

16 Juni 2020
Saya Berpengalaman soal Berkendara Saat Hujan dan Jas Hujan Kelelawar Paling Tidak Efektif terminal mojok.co

Pleidoi dari Orang yang Tetap Pakai Jas Hujan Motor walau Hujan Sudah Reda

8 Februari 2021
suzuki smash

Kengenesan yang Dialami Pengendara Motor Smash

21 Mei 2020
Pengakuan dari Pengendara Nmax Nonbarbar, Berhenti Menyalahkan Kami Semua! terminal mojok.co

Pengakuan dari Pengendara Nmax Nonbarbar: Berhenti Menyalahkan Kami Semua!

16 Oktober 2020
Suzuki Satria 120 R dan Kenangan Cinta Pertama yang Sulit Dilupakan suzuki gsx r150 Suzuki GSX-S150 Touring Edition suzuki smash titan suzuki lets

Suzuki GSX R150, Motor Kencang yang Nggak Cocok Dipakai untuk Pacaran

24 Juni 2023
Busi Bukan Satu-satunya Penyebab Mesin Pincang dan Montir Perlu Jujur Mengatakannya terminal mojok.co

Busi Bukan Satu-satunya Penyebab Mesin Pincang dan Montir Perlu Jujur Mengatakannya

26 November 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama Mojok.co

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama

22 Agustus 2026
4 tips menghindari tempat kursus red flag di Kampung Inggris Pare, saya bagikan tipsnya agar kunjungan kalian tidak berakhir kecewa Mojok.co

4 tips menghindari tempat kursus red flag di Kampung Inggris Pare, saya bagikan tipsnya agar kunjungan kalian tidak berakhir kecewa

26 Agustus 2026
iPhone HP bapak-bapak? Bapak-bapak nggak mampu beli iPhone! (Unsplash)

Kok bisa iPhone disebut hp bapak-bapak? Padahal banyak bapak-bapak yang nggak mampu beli iPhone

21 Agustus 2026
4 menu kuliner lokal yang cocok pakai label Gacoan (Wikimedia Commons)

Selain mie dan bakso, ini 4 menu kuliner lokal yang cocok pakai label Gacoan

24 Agustus 2026
Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

26 Agustus 2026
Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan Mojok.co

Saya pernah mengira Tegal kota yang sepi, ternyata saya salah besar

27 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.