Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Karma Seorang Guru yang Dulu Sering Ngatain Dosen

Sofyan Aziz oleh Sofyan Aziz
3 Agustus 2020
A A
Karma Seorang Guru yang Dulu Sering Ngambek Sama Dosen MOJOK.CO

Karma Seorang Guru yang Dulu Sering Ngambek Sama Dosen MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

“Dosen sombong, dikirim WA kok diread doang.” Begitu saya dulu sering ngata-ngatain para dosen sewaktu kuliah pascasarjana, 3 tahun lalu. Dan sekarang, gerutuan itu jadi bumerang setelah saya jadi guru.

Anggapan dosen sombong, tak berperikemanusiaan, dan anggapan buruk lainnya nampaknya harus segera saya kubur dalam-dalam. Nyatanya di era pembelajaran jarak jauh ini, saya yang seorang guru, harus gantian mendapat “teror” serupa dari siswa-siswa saya.

Sebelum masa pandemi, pembelajaran tatap muka nyaris menihilkan komunikasi pribadi lewat telepon genggam, antara guru dengan siswa. Namun di era ini, ketika telepon genggam menjadi sarana pembelajaran, mau tak mau, guru dan siswa melakukan pembelajaran dan komunikasi lewat perangkat ini. Nah, inilah yang menyebabkan keribetan guru.

Keribetan guru ini, berangkali menjadi muara anggapan sombong bagi para siswa kepada gurunya. Lha gimana nggak ribet, pembelajaran yang biasanya dilakukan di pagi hari, setelah itu guru bisa berkonsentrasi mengerjakan hal lain, nyatanya guru harus siap 24 jam melayani siswa. Baik melalui WA grup, maupun lewat aplikasi pembelajaran seperti Google Classroom.

Mending jika pertanyaan yang diajukan ada kaitannya dengan pembelajaran, ini kadang hal-hal yang tidak penting diajukan juga. Notifikasi WA tiba-tiba menjadi buanyaak. Membaca ribuan pesan satu per satu, kebanyakan tidak penting, dan kebanyakan juga mengulang pertanyaan teman-temannya.

Bisa jadi hal ini dilakukan para siswa karena mereka sedang semangat belajar, atau karena euforia bisa berkuasa memegang hape, dengan dalih sebagai pembelajaran. Seperti anak saya sendiri, yang dulu saya batasi penggunaan hapenya, sekarang peraturan ini saya perlonggar, dengan alasan ya itu tadi, demi belajar.

Nah, menata ketertiban mengirim pesan ini yang masih sulit dilakukan. Dulu pas mahasiswa, sampai ada peraturan tata tertib dari kampus kepada para mahasiswanya tentang teknik dan etika berkirim pesan kepada para dosen.

Tata bahasa, teknik menyampaikan pesan, hingga waktu pengiriman pesan, diatur detail dan dipampang melalui banner di sudut-sudut kampus. Padahal para mahasiswa tentu bukan lagi anak-anak, toh nyatanya peraturan ini masih perlu ditekankan.

Baca Juga:

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

Kemudian ketika anak-anak diharuskan memegang hape, dan peraturan sudah disebarluaskan melalui grup WA, ternyata masih ada juga yang melanggar peraturannya. Ya saya maklum, karena mereka masih anak-anak. Wong yang mahasiswa saja kadang juga masih begitu, ya tho.

Namun permakluman saya semakin lama semakin menipis. Sebab pengiriman pesan anak-anak semakin tak mengenal waktu, dan lebih banyak bercanda daripada serius. Bahkan tengah malam pun mereka sempat-sempatnya mengirim pesan. “Ini anak orang atau kelelawar sih,” saking jengkelnya hingga saya harus berucap begitu, meski dalam hati saja.

Lantas saya menerawang jauh ke belakang, ketika masih mahasiswa. Betapa semasa itu saya begitu jengkel kepada para dosen yang membaca pesan tanpa pernah membalasnya. “Pekerjaan dosen kan mengajar dan membimbing kita dalam menuntaskan proses perkuliahan, ini ada mahasiswa semangat kok malah dicuekin.” Begitu gerutuan saya.

Perasaan marah, jengkel, capek, merasa tak dianggap, bercampur jadi satu. Seperti kamu yang tak pernah dianggap oleh si dia, halah.

Saya menjadi paham perasaan para dosen itu. Karma keribetan itu sekarang harus saya terima. Saya menyesal kenapa dulu menggerutu. Lebih-lebih jika saya bayangkan seorang dosen harus melayani banyak mahasiswa, wajar jika terselip rasa tidak nyaman.

Dan sekarang saya yang hanya melayani siswa seratus lebih sedikit saja sudah pusing. Apalagi mereka para dosen itu. Nah, di titik inilah saya sebagau guru semakin sadar dan lebih bisa introspeksi. Walaupun terlambat, sebab saya sudah bukan mahasiswa lagi. Apa boleh buat, sebab penyesalan pasti datang belakangan.

Memang manusia itu kadang menurutkan egonya, dan lebih memposisikan dirinya sebagai objek penderita. Padahal bisa jadi kelak ia bisa berlaku juga sebagai subjek yang menderitakan.

Falsafah Jawa “wong gething iku nyanding” memang benar adanya.

BACA JUGA Mengenang Papa T Bob: Maestro Pencipta Lagu Anak-anak yang Tak Lekang Zaman atau tulisan Sofyan Aziz lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2020 oleh

Tags: Dosengurukarma gurusekolah online
Sofyan Aziz

Sofyan Aziz

Esais dan pendidik

ArtikelTerkait

Sudah Sewajarnya Mahasiswa Meminta Transparansi Nilai kepada Dosen

Sudah Sewajarnya Mahasiswa Meminta Transparansi Nilai kepada Dosen

7 Oktober 2022
Alasan Saya Tetap Mau Jadi Dosen Muhammadiyah walau Tahu Hidupnya Bakal Susah Mojok.co

Alasan Saya Tetap Mau Jadi Dosen Muhammadiyah walau Tahu Hidupnya Bakal Susah

1 Juli 2025
gaji dosen mahasiswa semester tua asisten dosen

Dosen Pelit Nilai kok Bangga, Maksud?

17 Desember 2022
Prilly Latuconsina Jadi Dosen Praktisi UGM, Apa Itu Dosen Praktisi Terminal Mojok

Prilly Latuconsina Jadi Dosen Praktisi UGM, Apa Itu Dosen Praktisi?

29 September 2022
ijazah penulisan mojok

Pengalaman Nulis Ijazah yang Ribetnya Bikin Stres

15 Agustus 2020
gaji dosen mahasiswa semester tua asisten dosen

Jadi Dosen Itu Nggak Mudah, apalagi Jadi Dosen yang Nggak Bisa Nulis, Remuk!

23 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makanan Malang yang Membuat Saya sebagai Perantau Kecewa, Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian Mojok.co

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

1 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
5 Alasan Freelance Lebih Menguntungkan untuk Mencari Uang di Tahun 2025

Dear Penipu Lowongan Freelance, yang Kami Butuhkan Itu Bayaran Nyata, Bukan Iming-iming Honor Besar dari Top-Up Biaya Deposit!

2 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga
  • Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.