Informasi
ADVERTISEMENT

Pengalaman ikut wawancara kerja in this economy jadi kapok pasang harapan tinggi di awal

Pengalaman wawancara kerja di tengah kondisi seperti sekarang bikin trauma  Mojok.co

In this economy, seharusnya saya bersyukur bisa dapat panggilan wawancara kerja. Saya paham betul, di luar sana ada banyak orang yang sudah mengirim ratusan CV, tapi hanya segelintir saja yang tembus hingga tahap wawancara. 

Jujur saja, setelah menerima beberapa kesempatan wawancara kerja, rasa syukur itu perlahan berubah jadi trauma. Bagaimana tidak, harapan mendapat pekerjaan harus berhadapan dengan realitas pahit berupa proses panjang yang sekadar formalitas. 

Panggilan wawancara kerja hanya untuk memenuhi kuota

Ada satu momen yang membekas di salah satu wawancara kerja yang saya datangi. Saat itu perekrut bilang, “Sebenarnya saya tidak tertarik dengan jawaban esaimu.” Otak saya langsung mengirim sinyal ke tiap saraf wajah untuk nggak langsung merengut. Namun, aslinya, saya batin dan pikiran saya sulit menerima semua itu. 

Selanjutnya dia hanya melanjutkan, “Saya mengundang kamu bukan untuk memenuhi kuota ya, tapi saya ingin memberi kesempatan. Siapa tahu esainya jelek, tapi interview-nya bagus.”

Sepersekian detik, saya tidak tahu harus bertindak seperti apa. Tapi, menurut saya, perekrut nggak perlu mengatakan hal itu. Terutama soal kuota. Di tengah kondisi yang serba sulit seperti sekarang ini, di mana perlu modal untuk sekadar ikut interview, kata-kata itu sungguh menyakiti begitu dalam. 

Sebaiknya, in this economymemang niatnya ngasih kesempatan, ya jangan tanggung-tanggung dong. Coba langsung terima kerja dulu, baru putusin lanjut atau pecat. Mau nggak?

Memang, alasan memenuhi kuota itu sudah umum, bagi saya itu sah-sah aja. Saya paham betul kok, mungkin harapan perekrut, semakin banyak kandidat yang dipanggil, semakin besar peluang menemukan yang cocok.

Akan tetapi, yang jadi masalah bagi saya adalah kalau panggilan wawancara kerja “fiktif” seperti gitu mesti on-site, di mana kalau keseringan bakal ngikis dompet kandidat.

Panggilan wawancara kerja yang ditunda-tunda, ending-nya cuma ghosting

Pernah beberapa kali saya dapat panggilan wawancara kerja yang ditunda-tunda. Alasannya beragam, entah si perekrut lagi di luar kantor atau ada kerjaan mendadak yang mesti dikeluarin.

Di pikiran saya, oh mungkin itu cara halus untuk membatalkan jadwal interview sama saya kali ya. Jujur jika memang betul demikian, saya nggak ngerasa rugi kalau wawancara kerja remote. Cuma masalahnya, kalau wawancara kerja on-site, terus pihak perekrutan mengundur-ngundur jadwal seenak jidat.

Jadi, begini ceritanya. Waktu itu saya sama empat kandidat lain udah nunggu berjam-jam perekrut yang entah di mana  wujudnya.. Tiba-tiba bagian resepsionis mengabarkan kalau sebaiknya kami pulang, lalu besok datang lagi.

Salah satu dari kami pun mengusulkan melakukan wawancara kerja remote. Nah, detik itu saya ikut mengiyakan dong. Ya saya juga nggak mau kalau besok dateng, eh disuruh pulang lagi. Rugi.

Akan tetapi, karena bagian resepsionis ini nggak punya wewenang buat mutusin itu, alhasil dia cuma nyuruh menghubungi pihak perekrutnya. Padahal dalam hati saya, dari tadi juga udah ngubungin, tapi dianya nggak bales-bales.

Jadi, bagaimana ending-nya? Ya, pihak perekrut itu nggak mau repot-repot ngabarin saya maupun kandidat lain soal kejelasan proses rekrutmen yang tertunda itu. Alias, si perekrut ghosting gitu aja. Tanpa memikirkan, kalau perjuangan perempuan membaca Google Maps buat nyampe lokasi wawancara itu nggak mudah. Tanpa mikirin, kalau wawancara kerja on-site itu mau nggak mau harus ngebobol sisa cuan di tabungan yang jumlahnya nggak semelimpah anggaran MBG.

Panggilan wawancara yang mirip antrean sembako

Ini panggilan interview yang paling-paling, entahlah paling apa. Silakan pembaca nilai sendiri. Tapi, mungkin pada saat itu saya saja yang terlalu naif.

Kirain saya, kandidat yang dipanggil interview itu cuma mereka yang paling sesuai sama kualifikasi yang dibutuhkan. Di pikiran saya, jumlah kandidat yang diundang cuma sejumlah bakal calon capres-cawapres pemilu kemarin.

Saya masih ingat, waktu itu saya masuk ke ruang tunggu interview dengan segenap kepercayaan diri. Saya cukup optimis saat liat cuma ada satu kandidat yang lagi nunggu interview juga. Beramahtamalah saya padanya, bahkan sempat bertukar LinkedIn juga.

Namun, rasa optimis itu mulai goyah saat ada dua kandidat sekaligus masuk ke ruangan. Seceria apapun raut muka yang saya coba tampakkan saat mereka menyapa, nggak bisa nutupin hati saya yang mulai cemas.

Semakin dekatnya waktu interview, semakin berbondong-bondong pula kandidat yang dateng. Tau gimana rasanya ngantri sembako? Rasanya tuh lelah-lelah cemas. Lelah nungguin kapan tibanya giliran. Cemas karena belum tentu pas giliran itu tiba, sembakonya masih ada. Alias, saya dihantui kecemasan sepnajang hari. Benar-benar bikin kapok. 

Harapan yang kian terkikis

Pada detik itulah saya mikir, ijazah seasli apa pun yang saya miliki, nggak bakal ngebuat nasib saya semujur itu. Detik itulah rasa optimis beserta kepercayaan diri saya pupus.

Akan tetapi, kalau saya boleh berpikiran positif, mungkin perekrut juga sama frustasinya kayak pencari kerja ya? Karena pencari kerja  kan juga mengirmkan CV ke mana aja secara asal demi dapat peluang besar panggilan wawancara kerja. Sama seperti perekrut yang ngirim panggilan interview ke banyak kandidat buat nemuin yang paling cocok. Betul apa betul?

Setidaknya sederet pengalaman itu ngajarin saya buat nggak mudah percaya sama panggilan wawancara kerja. Saya akan selalu mempertanyakan dan meragukan setiap panggilan wawancara kerja yang nongol di notifikasi. 

Sekiranya memungkinkan, saya juga bakal bertanya, ada berapa kandidat yang diundang selain saya? Atau apa alasan perekrut memanggil saya wawancara kerja, apa cuma buat menuhin kuota? Atau yang paling brutal, ini panggilan interview ending-nya cuma ghosting nggak?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan demikian nunjukkin sedalam apa iman saya terkikis gegara panggilan interview kerja in this economy. Tapi, seterkikis apapun iman itu, saya masih ngebuka lebar-lebar panggilan wawancara kerja in this economy kok.

Buktinya? Setiap dapet notifikasi panggilan wawancara kerja, iman saya masih bisa diajak kompromi, “Mungkin kali ini rezeki saya.” Selain itu, saya juga masih beriman pada 19 juta lapangan kerja yang Gibran janjikan di masa depan, hehehe. 

Penulis: Alya Rekha Anjani
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Gagal Wawancara Kerja Karena Terjebak Pertanyaan Gaji: Seberapa Spesial Sih Kamu Itu?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Terakhir diperbarui pada 10 September 2026 oleh .

Alya Rekha Anjani

Mata ketiga bagi penulis di salah satu penerbitan di Jakarta. Perajut kata-kata di berbagai platform online. Pecandu sastra klasik dan nonklasik.

Exit mobile version