Informasi

Pengalaman Saya Tinggal di Kandangan Kediri, Kecamatan yang Kerap Dipertanyakan Identitasnya karena Beda Sendiri

Pengalaman Saya Tinggal di Kandangan Kediri, Kecamatan yang Kerap Dipertanyakan Identitasnya karena Beda Sendiri

Jauh dari mana saja

Jika Anda melihat peta Kabupaten Kediri, Anda akan menemukan ada bagian yang tampak seperti ekor di sisi timur kabupaten. Ya, itu adalah Kandangan. Lokasinya yang memanjang dan diapit oleh Kabupaten Jombang dan Malang membuatnya seolah terisolasi dari Kediri.

Bahkan ketika ditanya orang luar daerah, “Sampean Kediri mana, Mas?”, pasti saya jawab dari Pare atau “wetane Pare”. Bukan berarti saya nggak bangga sebagai putra daerah, tapi kalau saya jawab dari Kandangan, pasti orang lain nggak bakal tahu letaknya di mana. Maklum, saking jauhnya Kandangan dari pusat kota Kediri. Jangankan orang luar daerah, orang Kediri sendiri saja banyak yang kurang tahu.

Letak geografis Kandangan yang jauh dari pusat kota ini juga membuat warganya lebih mudah untuk berkunjung ke kabupaten lain. Kalau mau naik kereta, warga Kandangan biasanya lebih suka naik dari Stasiun Jombang yang dapat diakses menggunakan transportasi umum ketimbang Stasiun Papar. Kalau mau jalan-jalan biasa, bisa ke Batu dan Malang yang punya lebih banyak destinasi wisata alam menarik ketimbang Kediri.

Warga Kandangan biasanya ke Kediri cuma untuk mengurus administrasi, malam mingguan, atau sekadar berkunjung ke rumah teman. Fenomena ini mungkin menjadi salah satu faktor mengapa warga Kandangan terkadang dicap sebagai orang yang krisis identitas. Tinggalnya di mana, mainnya di mana.

Punya tradisi unik

Selain sebagai daerah penghasil komoditas susu sapi dan durian di Kediri, Kandangan juga punya tradisi unik yang nggak dimiliki oleh daerah lain. Bahkan, mungkin tradisi ini jadi satu-satunya yang ada di Jawa Timur.

Tiap bulan Muharram atau Suro, warga Kandangan rutin menyelenggarakan tradisi mbeleh golekan (menyembelih boneka). Tradisi ini menjadi simbol persembahan bayi manusia kepada roh leluhur. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Paramita dari UINSA pada tahun 2023, tradisi ini sudah ada sebelum agama Hindu dan Buddha masuk ke Kandangan.

Awalnya, tradisi mbeleh golekan dilakukan dengan mengorbankan bayi sungguhan dari kalangan masyarakat miskin. Tapi setelah masuknya agama Islam yang dibawa oleh Mbah Pekik, objek pengorbanan pun diganti dengan boneka.

Bagi Anda yang tinggal di Jogja, mungkin pernah menemui tradisi semacam ini, hanya saja namanya yang berbeda. Akan tetapi, kalau bicara konteks Jawa Timur, utamanya di Kediri, sepertinya hanya Kandangan yang menerapkan tradisi menyembelih boneka. Hal ini menunjukkan bahwa Kandangan punya ciri khasnya sendiri sekaligus menjadi antitesis atas pernyataan “Kandangan adalah wilayah yang krisis identitas”.

Tertarik untuk berkunjung ke sini?

Penulis: Aji Permadi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kediri, Kota Paling Bahagia yang Kini Berubah Tak Aman bagi Mahasiswa Perantauan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Juni 2024 oleh .

Aji Permadi

Seorang pecinta dunia pendidikan yang lebih memilih merawat nalar daripada merawat borang. Mendedikasikan diri pada proses belajar-mengajar, namun secara terang-terangan menjaga jarak dari kerumitan