Kamu Berencana Berlibur ke Jepang? Ini Aturan yang Harus Kalian Tahu

Artikel

Avatar

Berlibur merupakan salah satu rutinitas yang dilakukan ketika seseorang mempunyai waktu luang. Banyak tempat-tempat wisata yang menjadi pilihan terbaik untuk dikunjungi. Liburan bukan hanya di luar kota saja, kita bisa saja berlibur ke negara tetangga. Berlibur ke luar negeri memang menjadi minat terbanyak dari masyarakat Indonesia. Yaps, selain harga tiket pesawat ke luar negeri yang murah daripada domestik, kita bisa belajar hal-hal dari negara lain. Seperti tata krama yang telah berlaku di negara tersebut. Tata krama tersebut bisa digunakan atau di terapkan di Indonesia, jika dinilai baik.

Akan kuceritakan beberapa pengalaman yang aku dapatkan ketika aku berkunjung ke negeri Sakura. Pasti kalian tau dong negeri Sakura dimana… Betul, Jepang. Bulan Agustus kemarin tepat di hari ulang tahun ku, aku mempunyai kesempatan untuk berkunjung ke Jepang. Sekilas yang harus kalian tau, trip ke Jepang ini merupakan hadiah. Hadiah yang aku terima atas kelulusan setelah menempuh sarjana. Aku tidak pernah meminta hadiah ini, tapi kesempatan ini tidak aku sia-siakan.

Menurutku, Jepang merupakan negara di dunia yang terkenal dengan aturan etikanya yang sangat rumit. Ini merupakan trip pertamaku ke luar negeri. Bodohnya, saya lupa untuk mencari refrensi tentang negeri Sakura ini. Seminggu jadi turis di sana, saya sempat emosi dengan berbagai aturan yang diberlakukan. Jika kalian berencana liburan ke Jepang, kalian perlu tau beberapa etika ini. Hal ini bedasarkan pengalamanku hidup seminggu di Jepang.

Kapten Lift

Kalo di Indonesia naik lift ya tinggal naik lift aja. Masuk dan keluar dari lift gak ada aturannya. But, ini tidak berlaku jika kamu tinggal di Jepang, meskipun kamu adalah turis. Jadi saat di ada aturan informal yang jelas. Seseorang yang masuk ke dalam lift dalam keadaan kosong, maka dia akan menjadi kapten lift.

Hal ini terjadi ketika saya masuk ke dalam lift hotel menuju kamar. Saat itu lift dalam keadaan kosong dan saya menjadi orang pertama yang masuk. Ketika saya sudah di lantai 15 area kamar saya, ya saya langsung keluar dong. Tanpa disadari saya melakukan hal salah, semua orang yang di dalam lift pun melihat saya dengan tatapan yang gak enak. Ternyata hal yang aku lakukan salah. Seharusnya aku saat itu menjadi kapten lift dan harus berdiri di dekat panel control. Namun, disarankan jika kalian menjadi turis di Jepang, jangan memasuki lift dalam keadaan kosong.

Baca Juga:  Perfeksionis, bukan Kepribadian yang Mudah

Di Kereta

Naik kereta biasa atau bawah tanah pun juga ada aturannya. Saat naik kereta di Jepang, kalian tidak boleh berbicara antar sesama penumpang, teman maupun lewat telepon. Lebih yang membuatku tergeleng-geleng, di kereta kita tidak boleh menatap orang lain. Selain itu, ketika ada orang tua renta yang ingin duuduk, kita dilarang keras untuk memberinya tempat duduk. Pertama kali aku mendengar aturan ini, sempat berfikir tidak masuk akal dan tergolong jahat. Tapi ternyata di dalam kereta ada beberapa kursi khusus yang ditandai dengan beberapa tanda untuk wanita hamil, cacat fisik dan lain-lain. Kursi khusus ini tidak dapat kalian gunakan jika kalian tidak termasuk dalam kategori tanda tersebut.

Menatap Orang Jepang

Pernah gak sih kalian menatap orang atau sekedar melirik orang? Pasti pernah dong… tapi, jangan pernah melakukan hal tersebut jika berada di Jepang. Di Jepang tidak diperbolehkan kalian melirik orang dengan mata apalagi menyentuh mereka. Maksud dari peraturan ini, kalian harus menghagai privasi orang lain. Jadi buat kalian yang berwisata ke Jepang, jangan sampai kalian melirik wanita-wanita disana. Jika kalian tetap meliriknya atau menatapnya dengan tatapan tajam, siap-siap untuk dilaporkan ke pihak hukum. Namun, jika kalian berani mencium orang di depan umum malah diperbolehkan. Sangat aneh bukan?

Seiza

Jika kalian pernah menonton kartun atau film Jepang, tidak akan asing mendengar istilah ini. Seiza merupakan cara duduk dengan melipat kaki di bawah paha. Masyarakat disana sudah terbiasa duduk di lantai dengan cara ini. Seiza merupakan cara duduk di atas lantai dan sudah dilakukan masyarakat Jepang sejak turun-temurun. Saya pernah sekali mencoba cara duduk seperti ini ketika mengunjungi rumah teman saya di Jepang. Alhasil, belum ada satu jam, kaki saya menjadi mati rasa. Di Indonesia tidak ada cara duduk seperti seiza, makanya ketika kalian tidak terbiasa, maka siap-siap kaki kalian akan mati rasa dalam beberapa menit.

Baca Juga:  Mentakwil Pertarungan Politik di Tahun 2020

Etika Makan

Makan memang ada etikanya di semua negara di Dunia. Namun di Jepang ada aturan khusus dan ketat yang dapat membuat kita berfikir dua kali untuk makan di depan umum. Seperti menuangkan makanan, menyisahkan makanan yang telah digigit serta mengatakan oishi atau enak beberapa kali saat makan. Yang tidak kalah menarik, ketika kalian makan mie di Jepang, kalian akan mendengar suara orang-orang menyantap mie. Di Indonesia makan dengan mengeluarkan suara merupakan hal yang tidak sopan. Tapi tidak berlaku di Jepang, orang-orang menyantap atau menyeruput mie akan mengeluarkan suara keras. Suara ini merupakan  tanda bahwa mereka menikmati makanan dan penghormatan kepada orang yang memasak.

 

Pesan buat kalian yang punya rencana pergi dan berlibur ke Jepang, hormatilah peraturan di mana pun kalian berada. Ada baiknya sebelum melakukan perjalanan wisata ke suatu tempat, kalian harus mempelajari adat istiadat daerah yang akan kalian kunjungi. Karena hanya perbedaan yang dapat menyatukan kita semua. (*)

BACA JUGA Cowok dan Cewek Sama-sama Bisa Brengsek atau tulisan Melina Ayu Agustin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
2


Komentar

Comments are closed.