Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Nelangsa Lanjut Kuliah S2 Administrasi Publik yang Birokrasinya Lagi Sibuk Ngurus Akreditasi, Mahasiswa Jadi Terlunta-lunta

Dimas Junian Fadillah oleh Dimas Junian Fadillah
6 Oktober 2025
A A
Nelangsa Lanjut Kuliah S2 Administrasi Publik yang Birokrasinya Lagi Sibuk Ngurus Akreditasi, Mahasiswa Jadi Terlunta-lunta

Nelangsa Lanjut Kuliah S2 Administrasi Publik yang Birokrasinya Lagi Sibuk Ngurus Akreditasi, Mahasiswa Jadi Terlunta-lunta (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kampus sibuk akreditasi S2 Administrasi Publik, mahasiswa terlunta-lunta…

Dua tahun yang lalu, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan yang mengharuskan saya bekerja dengan jadwal shift yang tidak menentu. Rutinitas sebagai agen call center sangat melelahkan bagi saya. Ditambah lagi kesempatan untuk berkembang yang sangat terbatas membuat saya mulai mempertimbangkan ulang arah hidup saya.

Dengan penuh keberanian—dan tentu saja sedikit nekat—saya memilih untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Saya melanjutkan studi S2 Administrasi Publik, meskipun harus membiayainya sendiri tanpa bantuan beasiswa.

Kala itu, satu-satunya bekal saya hanyalah tabungan hasil kerja sebelumnya, usaha kecil yang baru saya rintis, dan tentu saja bantuan materiel dari orang tua. Dengan semangat kian mantap, saya mulai memasuki dunia pascasarjana. Saya mengira tantangan terbesar akan datang saat menulis tesis atau mengejar publikasi di jurnal bereputasi.

Ternyata saya salah kaprah. Justru yang membuat langkah saya tersendat adalah hal yang tak pernah saya duga sebelumnya: perihal birokrasi kampus. Bahkan selama hampir dua semester, bimbingan tesis saya nyaris stagnan karena prodi lebih sibuk mengurus akreditasi.

Akreditasi memang penting, tapi kelanjutan bimbingan mahasiswa akhir juga perlu diperhatikan

Akreditasi memang nggak bisa dianggap remeh. Semua kampus pasti ingin diakui mutu pendidikannya. Tapi yang bikin miris ketika proses akreditasi tersebut justru “membekukan” fungsi utama kampus sebagai tempat belajar dan bertumbuh.

Berbulan-bulan, saya dan teman-teman mahasiswa S2 Administrasi Publik harus ekstra sabar menunggu giliran bimbingan yang tak kunjung tiba. Soalnya hampir semua dosen, terutama kaprodi, terseret dalam pusaran rapat dan tumpukan dokumen akreditasi. Dosen yang biasanya jadi mentor berubah jadi staf administrasi yang kelelahan mengurus tumpukan berkas.

Padahal akreditasi harusnya jadi cermin nyata dari kualitas pendidikan yang dijalankan, bukan cuma laporan yang disusun rapi buat memenuhi indikator dan standar. Lalu gimana mau bicara soal kualitas kalau mahasiswa yang seharusnya jadi pusat perhatian, malah kehilangan haknya untuk dibimbing dan didampingi? Mengejar pengakuan itu boleh-boleh saja, tapi jangan sampai lupa tanggung jawab utama: mendidik dan membimbing mahasiswa. Jika terus dilanggengkan jelas wes kebacut tenan!

Baca Juga:

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Jadi Harapan, Bikin Saya Juga Ingin Bilang kalau Kuliah Itu Scam

Bukan menyesal tapi eman-eman tenaga dan waktu hanya demi menunggu birokrasi yang ruwet

Saya tak pernah menyesal mengambil keputusan melanjutkan kuliah S2 Administrasi Publik. Justru saya masih yakin bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk membuka peluang dan memperbaiki masa depan. Tapi kalau dipikir-pikir, rasanya sayang banget waktu, tenaga, dan biaya yang saya keluarkan tiap semester harus terhenti cuma gara-gara birokrasi kampus yang masih keteteran urus akreditasi.

Padahal jika prosedur akreditasi cuma fokus pada indikator formalitas belaka, jangan heran kalau kreativitas, semangat belajar, dan kemajuan mahasiswa malah cepat menguap tak berjejak. Lantas, siapa yang sebenarnya diuntungkan dari “kesempurnaan” akreditasi kalau yang seharusnya jadi pusat pengembangan malah termarginalkan?

Saya juga paham bahwa dosen juga punya beban kerja lain. Mengajar, penelitian, dan tentu saja urusan administratif seperti akreditasi. Namun ketika urusan administrasi membuat penghambat waktu bimbingan, ya jelas skala prioritasnya patut dipertanyakan.

Jika hal ini terus dibiarkan, saya khawatir bukan cuma kualitas tesis yang jadi korban, tapi juga berdampak pada menurunnya semangat mahasiswa dalam menyelesaikan studi. Apalagi buat yang biaya kuliahnya mandiri, seperti saya, waktu yang terbuang artinya uang yang juga ikut melayang sia-sia.

Idealnya, lembaga kampus harus bisa membagi porsi yang seimbang antara kebutuhan akreditasi dan layanan bimbingan. Jangan sampai mengejar angka dan dokumen, tapi mengorbankan esensi pendidikan itu sendiri: proses pembelajaran yang konsisten dan terarah.

Ilmu administrasi publik buktinya tak cukup menyelamatkan

Melihat kenyataan yang saya hadapi saat ini, sebagai mahasiswa S2 Administrasi Publik, saya mulai mempertanyakan sejauh mana teori yang dipelajari benar-benar terealisasi di lapangan. Terlebih dari pengalaman pribadi yang saya lakoni justru mengungkap ironi lain: kepakaran nyatanya masih belum sanggup menguraikan keruwetan birokrasi yang ada.

Kekacauan birokrasi, bahkan di institusi kampus yang seharusnya bisa menjadi contoh praktik administrasi publik terbaik, justru memperlihatkan masih banyak pekerjaan rumah yang masih menunggu untuk dicarikan obat penawarnya.

Perlu saya tekankan pula bahwa saya sama sekali tidak meragukan jika para dosen dan pengajar yang membimbing saya di S2 Administrasi Publik memiliki kompetensi dan keahlian yang memadai. Saya yakin mereka bisa merancang sistem administrasi yang bukan sekadar formalitas belaka, tetapi juga efektif dan mampu mendukung kelangsungan serta kemajuan, termasuk dalam tata kelola bidang akademik.

Oleh sebab itu, ilmu administrasi publik tidak boleh berhenti sebagai kumpulan teori idealis yang hanya indah untuk dipelajari di ruang kelas. Ilmu ini harus dapat diimplementasikan secara nyata, diperbaiki secara berkelanjutan, dan terus mendapat kritik konstruktif.

Bayangkan, sudah susah-susah belajar tata kelola administrasi yang efektif dan efisien, tapi kenyataannya masih kesulitan menghadapi borang akreditasi. Malahan membuat pelayanan pada publik atau dalam konteks ini adalah mahasiswa masih terlunta-lunta tanpa kepastian? Kan yo wagu banget.

Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 3 Jurusan S2 dengan Prospek Kerja Cerah dan Paling Dibutuhkan Dunia Kerja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2025 oleh

Tags: akreditasiakreditasi kampusjurusan administrasi publikjurusan kuliah s2kuliah s2S2 Administrasi Publik
Dimas Junian Fadillah

Dimas Junian Fadillah

Magister Administrasi Publik, tertarik menulis isu lokal, politik dan kebijakan publik.

ArtikelTerkait

Kuliah S2 Jadi Asyik dan Nggak Menyeramkan Asalkan Tiga Syarat Ini Terpenuhi

Kuliah S2 vs Langsung Kerja, Analisis Untung Rugi untuk Masa Depan

21 April 2025
Kuliah S2 Beda dengan S1, Mahasiswa Jangan Kebanyakan Caper, Sudah Bukan Umur dan Tempatnya

Kuliah S2 Beda dengan S1, Mahasiswa Jangan Kebanyakan Caper, Sudah Bukan Umur dan Tempatnya

8 September 2025
Menimbang Kelebihan dan Kekurangan Lanjut Kuliah S2 Beda Jurusan Alias Nggak Linier jurusan s2

Kapan Waktu yang Tepat untuk Kuliah S2? Haruskah Mengikuti Kebutuhan Industri?

2 September 2025
Sisi Gelap Kuliah S2 yang Tak Diketahui Banyak Orang

Sisi Gelap Kuliah S2 yang Tak Diketahui Banyak Orang

1 Mei 2025
Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

14 Januari 2026
Faktanya, Kuliah S2 Bukan Berarti Bakal Lancar Dapat Kerjaan, Dunia Kerja Beneran Nggak Peduli Ijazah! lulusan s2 ugm lulusan ugm

Lulusan S2 UGM atau Tidak, Semua Bakal Kesulitan Bertahan Hidup di Jogja kalau Tidak Punya Strateginya

18 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026
WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

27 Maret 2026
Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living Mojok.co

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living

27 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Kebeli Suzuki Ertiga tapi Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.