Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kalau Orang Sumatera Selatan Terus-terusan Ngaku dari Kota Palembang, Daerah Lain Kapan Dikenalnya?

Siti Atika Azzahrah oleh Siti Atika Azzahrah
21 Juni 2026
A A
Palembang Bikin Pangling, Banyak Berubah padahal Baru Ditinggal Merantau Setahun Mojok.co sumatera selatan

Palembang Bikin Pangling, Banyak Berubah padahal Baru Ditinggal Merantau Setahun (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau semua orang Sumatera Selatan ngaku dari Palembang, lalu kapan orang-orang bakal kenal daerah lain di Sumatera Selatan?

“Kamu dari Palembang? Sama nih.”

“Wah, Palembang di mananya, Kak? Desember nanti aku pulang ke Gandus.”

“Oh, aku di Muara Enim, ehehe.”

Percakapan macam di atas bukan sekali dua kali saya dengar juga alami. Sebagai keturunan suku Melayu Palembang dan Lahat yang hanya memilih untuk mengaku orang Palembang kalau sedang membahas pempek, tekwan, dan antu banyu — saya selalu bingung dengan kebiasaan tersebut.

Kalau alasannya untuk mempermudah orang luar memahami asal daerah lantaran nama Palembang lebih familier dan populer sih, saya masih bisa memafhumi. Namun, yang sering bikin heran, ihwal ini juga kerap terjadi ketika mengobrol dengan sesama orang Sumatera Selatan. Kan kocak.

Padahal ngobrol sesama orang Sumsel, tetapi enggan mengakui asal daerah sendiri

Selama berkuliah di Universitas Lampung, provinsi tetangga yang secara historis merupakan hasil pemekaran Sumatera Selatan, berulang kali saya mendapati fenomena ini.

Banyak mahasiswa yang awalnya mengaku dari Palembang. Belakangan, baru saya tahu asalnya dari Prabumulih, Lahat, Pagar Alam, Lubuk Linggau, Muara Enim, dan daerah-daerah lainnya di Sumsel.

Padahal, saya sudah lebih dulu memperkenalkan diri sebagai orang Lahat dan senang sekali apabila bertemu dengan sesama jeme (orang) dusun. Berkat pengakuan itu pula, saya jadi punya kawan serumpun yang lebih akrab dengan bahasa Melayu berakhiran ê (e pepet).

Mau tak mau saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Apakah kalau mengaku dari Palembang derajatnya meninggi? Jadi lebih bergengsi karena ibu kota provinsi?

BACA JUGA: Tinggal di Pelosok Sumatera Selatan Cuma Bikin Menderita, Warga Pilih Merantau karena Nggak Ada Perubahan

Baca Juga:

Tahlilan di Sumatera beda dengan di Jawa, tidak 7 hari penuh dan dihadiri perempuan

4 Kuliner Populer Palembang yang Nggak Cocok untuk Semua Lidah

Palembang dianggap mewakili seluruh Sumatera Selatan

Lantaran dilanda penasaran, saya sempat menyelam ke beberapa postingan di media sosial yang membahas kebiasaan orang Sumsel mengaku-ngaku dari Palembang ini. Banyak yang relate, sudah pasti. Komentarnya pun beragam.

Selain malas menjelaskan kepada orang awam, ada pula yang memberi alasan bahwa Palembang dulunya merupakan pusat Kesultanan Palembang Darussalam. Dengan demikian, Kota Palembang adalah milik semua warga Sumsel. Nggak harus tinggal di Palembang atau bersuku Melayu Palembang untuk mengaku sebagai orang Palembang.

ADVERTISEMENT

Meskipun mencoba untuk berpengertian, jujur, tetap saja saya merasa ganjil. Lantas, buat apalah dipisah-pisah identitas antarkota dan kabupaten kalau pada akhirnya semua mengaku wong Palembang? Bagaimana kita mau mengenalkan asal daerah sendiri kepada orang luar kalau mengakuinya saja ogah-ogahan?

Tahu kok, tahu, fenomena ini nggak hanya terjadi pada Sumsel. Sebutlah saja tetangga sepulau. Sumatera Utara sering diidentikkan dengan Medan, sedangkan Sumatera Barat kerap disamakan dengan Padang. Nama kota yang lebih terkenal akhirnya menjadi representasi tunggal yang menutupi identitas provinsi itu sendiri.

Sampai-sampai Palembang dikira nama provinsi

Justru itu. Hanya karena daerah lain juga mengalaminya, bukan berarti harus dianggap biasa. Sebelas dua belas dengan pemangkasan kata “Bandar” dari Kota Bandar Lampung, hanya saja konteksnya berkebalikan. Kalau Lampung sering dikira kota, Medan, Padang, dan Palembang malah kerap dikira provinsi.

Hasil pemekaran yang juga berbatasan langsung ini pun sering saling krisis identitasnya. Masyarakat kedua provinsi pasti lebih akrab dengan rute Palembang-Lampung ketimbang Sumatera Selatan-Lampung atau Palembang-Bandar Lampung. Lebih simpel memang, tetapi juga ambigu karena menyandingkan nama kota dengan nama provinsi.

Kerancuan semacam ini bukan perihal baru. Salah satu contoh yang pernah menghebohkan publik ialah ketika Jokowi salah menyebut “Provinsi Padang” saat meninjau pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatera ruas Pekanbaru-Padang pada 19 Mei 2021. Melansir CNN, Kepala Sekretariat Presiden kala itu, Heru Budi Hartono, sampai mengklarifikasi.

Kota Palembang pun tidak luput dari kasus kesalahan serupa. Penggunaan istilah “Provinsi Palembang” lumayan gampang ditemukan di laman pencarian Google. Mulai dari artikel BBC hingga PPID Kota Serang, menyasar pula ke skripsi dan artikel ilmiah.

Yang membuat saya makin takjub, nggak sedikit penggunaan “Provinsi Palembang” justru dilakukan oleh mahasiswa asal Sumatera Selatan itu sendiri.

Tentu saya nggak bisa memastikan penyebab atas kekeliruan tersebut. Yang jelas, batas antara identitas Kota Palembang dan Provinsi Sumatera Selatan menjadi kabur. Ketika nama sebuah kota terus-terusan dipakai untuk mewakili satu provinsi, tak heran apabila sebagian orang akhirnya mencampuradukkan keduanya.

ADVERTISEMENT

Bodo amat orang nggak paham, tinggal kasih paham

Pada akhirnya, persoalan yang saya bahas bukan benar atau salah mengaku dari Palembang. Hanya saja rasanya sayang kalau daerah-daerah lain di Sumatera Selatan perlahan menghilang dari obrolan lantaran warganya sendiri lebih memilih memakai identitas yang dianggap paling familier.

Sampai kapan coba kita terus beralasan “biar gampang” atau “biar cepat”? Kalau semua orang Baturaja mengaku Palembang, semua orang Sekayu mengaku Palembang, dan semua orang Tebing Tinggi mengaku Palembang, kapan daerah-daerah itu akan dikenal orang awam?

Jangankan ketika saya magang di seberang pulau, selama sekolah dan kuliah di Kota Bandar Lampung pun, banyak yang merasa asing dengan nama Lahat apalagi subsuku Kikim. Boro-boro tahu. Yang ada malah saya dikira sedang membicarakan “liang lahat”.

Kalau memang harus menjelaskan lebih panjang, ya tinggal saya jelaskan saja. Bodo amat manjangin tali kelambu. Bukankah itu justru kesempatan bagus untuk mengenalkan daerah sendiri kepada orang lain?

Lagi pula, memang seribet apa sih secara jujur memberitahu asal suku dan daerah, apalagi yang jarak tempuhnya bisa berjam-jam dari kota yang awalnya disebutkan?

Saya bangga menjadi jeme dusun. Saya bangga berasal dari Kikim Timur Lahat, kendati setiap kali pulang kampung, pemandangan yang saya dapati hanyalah kebun-kebun karet dan kopi yang perlahan berganti menjadi hamparan sawit.

Soalnya, kalau kita sendiri terus-terusan memilih menjadi wong Palembang, daerah lain di Sumatera Selatan kapan dikenalnya?

Penulis: Siti Atika Azzahrah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Palembang Bikin Pangling, Banyak Berubah padahal Baru Ditinggal Merantau Setahun

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Juni 2026 oleh

Tags: bandar lampungmuara enimpalembangsumatera selatan
Siti Atika Azzahrah

Siti Atika Azzahrah

Lulusan Akuntansi Unila yang punya passion sebagai abang-abang fotokopian dan bercita-cita jadi peneliti laut dalam. Hobi pura-pura jual duren di Jalan Lintas Sumatera.

ArtikelTerkait

Aturan Tidak Tertulis Berwisata di Palembang, Saya Tulis supaya Kalian Tidak Kapok Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Berwisata di Palembang, Saya Tulis supaya Kalian Tidak Kapok

31 Desember 2024
Susahnya Cari Ruang Terbuka Hijau di Palembang, Hiburan Cuma Mal atau Kafe, tapi Lama-lama Bosan dan Bikin Rugi!

Susahnya Cari Ruang Terbuka Hijau di Palembang, Hiburan Cuma Mal atau Kafe, tapi Lama-lama Bosan dan Bikin Rugi!

29 Desember 2025
Mengenal Kota Prabumulih, Kota di Tengah-tengah Kota

Mengenal Kota Prabumulih, Kota di Tengah-tengah Kota

21 Mei 2023
Nasib Natar, Kecamatan di Lampung Selatan yang Dekat ke Ibu Kota Provinsi tapi Jauh dari Ibu Kota Sendiri

Nasib Natar, Kecamatan di Lampung Selatan yang Dekat ke Ibu Kota Provinsi tapi Jauh dari Ibu Kota Sendiri

24 Juli 2024
Pengalaman Transmigran Tinggal di Pedalaman Sumatera Selatan (Unsplash)

Pengalaman Saya Tinggal di Pedalaman Sumatera Selatan Sebagai Masyarakat Transmigran

27 Juni 2024
Culture Shock Orang Palembang Saat Pertama Kali Datang ke Bogor

Culture Shock Orang Palembang Saat Pertama Kali Datang ke Bogor: Indomie Goreng kok Pakai Saos Sambal?

2 September 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar Terminal

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar

21 Agustus 2026
Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Ra srawung rabimu suwung adalah jokes tongkrongan yang sudah tidak relevan dan sebaiknya tidak usah disampaikan

16 Agustus 2026
Kaza Mal Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi Mojok.co

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

19 Agustus 2026
Tegalrejo, kecamatan uderrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita Mojok.co

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

20 Agustus 2026
Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima Mojok.co

Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima

18 Agustus 2026
KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar Mojok.co

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar

20 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.