Kala Cinta Butuh Jeda yang Sialnya Tak Sedikit Berakhir Dengan Luka

Nah terkadang, di tengah kita terlalu sering dan asyik dalam kenyamanan menjalin sebuah hubungan pada satu titik kita butuh rehat atau jeda sejenak.

Artikel

Avatar

Kita tetap butuh ruang sendiri-sendiri, untuk tetap menghargai rasanya sepi”. Saya sengaja mengawali tulisan ini dengan lagu Tulus berjudul ruang sendiri. Sebab, dalam asmara, kadang kita memang butuh ruang untuk menyendiri, untuk tetap menghargai sepi, dan boleh jadi menghindari rasa bosan.

Merawat cinta memang tak semudah menemukannya, dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam merawatnya. Sesuatu yang tricky memang, seperti halnya soal jarak. Jika terlalu sering terpisah, itu bisa menjauhkanmu darinya, tetapi jika terlalu sering bersama, juga bisa menimbulkan kebosanan. Nah terkadang, di tengah kita terlalu sering dan asyik dalam kenyamanan menjalin sebuah hubungan jauh apa lagi dekat, pada satu titik kita butuh rehat atau jeda sejenak.

Sebab dengan jeda kita belajar banyak hal, agar supaya kamu dan dia tetap punya ruang gerak pribadi untuk aktualisasi diri, untuk merefresh hubungan dari rutinitas yang membosankan, dan untuk merenungkan ke mana arah hubungan agar kamu dapat merenungi sejenak perihal hubungan yang sudah terjalin selama ini, maksudnya apa mau lanjut ke tahap yang lebih serius atau hanya ingin bersenang-senang saja?.

Dalam hal ini saya punya teman yang memiliki kisah cinta dan asmara yang serupa namun tak sama. Serupa karena hubungan mereka harus kandas ditengah jalan, tak sama karena cara mereka dalam menghadapi kenyataan yang getir nan pedih sekalipun, jauh berbeda

#Kawan 1

Sebut saja Mul, ia adalah seorang aktivis kampus, tapi tetap mengikuti perkuliahan dengan tertib dan cukup disiplin, nilai studinya pun bisa dibilang tinggi, nilai minimal B, dan rata-rata nilai A dan A+. Paras dan postur tubuhnya, bagi 8 dari 10 perempuan mungkin cukup ideal dan tampan.

Disamping kuliah, Mul berbisnis kopi bubuk yang hampir setiap malam, ia pasti mengantar kopi-kopi pesanan warkop di sekitar kampus dan warkop yang jaraknya cukup jauh sekalipun dengan motor sportnya. Walau ia berasal dari keluarga borjuis, ia tak serta merta memanfaatkan harta orangtuanya hanya untuk kebutuhan hidup selama ia berada diperantuan. Ia bisa saja menunggangi setir bundar jika ia berangkat kuliah, pun dengan mudahnya ia mencari kostan dengan fasilitas super lengkap dengan harga selangit. Tapi ia lebih memilih untuk hidup sederhana dan biasa saja.

Baca Juga:  Kenapa sih Harus Minta Semangat dari Orang lain?

Maka tak heran jika teman-teman perempuannya dikelas maupun di organisasi yang ia ikuti, banyak yang dekat dengannya, tentu dengan maksud agar supaya mendapatkan hati dan hartanya.

Tapi masih banyak yang tak tahu bahwa dua tahun lalu, Mul telah memiliki pacar yang akan dilamarnya usai kuliah, sebut saja Widuri, mereka tak kuliah di satu kampus, melainkan kuliah beda kota, beda provinsi malah. Mereka sering menghubungi satu sama lain, berbasa-basi atau sekadar bertanya kabar, entah via video call, telepon, atau chat.

Seiring berjalannya waktu, Widuri memutuskan untuk tak lagi menghubungi Mul, dengan alasan hubungan ini butuh jeda untuk sekadar menghargai sepi dan rindu. Dengan berat hati, Mul menyetujui hal itu.

Mereka jeda dua bulan lamanya, hingga Mul curiga bahwa ada seseuatu yang tak beres. Dan benar saja, tiga hari usai kecurigaan itu muncul, Widuri memberitahu Mul bahwa cinta untuknya telah sirna dan luntur tak tersisa. Beberapa hari berikutnya, Mul mendapati instastory Widuri berfoto cukup mesra dengan laki-laki lain. Dari situlah Mul menyadari bahwa ia telah dikhianati.

Setelah saya bertanya apa dirinya baik-baik saja dan tetap waras?, dan ia menjawab dengan entengnya, “Lek dipikir terlalu serius, ra apik gae awakku. Ancen aku loro ati, ning aku kudu iso nerimo iki kabeh, aku musti iso ngerangkul hal legi-pait karo dekne. Sebab, dengan cara ikulah aku iso melupakan dekne, dan tak anggep iki sebagai satu langkah dewasakan diri”. Cukup impresif dan elegan rupanya.

#Kawan 2

Panggil saja Randu, ia jatuh cinta pada seorang gadis pujaannya yang tinggal satu kebupaten, sebut saja Nirmala. Seperti rasa cinta Randu padanya, Nirmala pun mencintainya. Diantara mereka telah terajut tali cinta yang kuat. Sudah setahun lebih mereka menjalin asmara. Setiap akhir pekan mereka selalu bertemu di dermaga, hanya untuk menikmati surya perlahan menghilang.

Namun seiring berjalannya waktu, Randu memutuskan untuk jeda, untuk tak lagi bersua di dunia maya maupun nyata, alasannya klasik, agar menghindari rasa bosan diantara mereka. Nirmala mengamininya dengan barat hati.

Jeda itu berlangsung sekira sebulan lebih. Hingga pada akhirnya rajutan yang telah sekian lama mereka rawat bersama itu harus kandas ditengah jalan. Nirmala menghianatinya, ia dengan tega memutuskan cintanya, ketika ditanyai alasannya, Nirmala bilang telah menemukan orang yang lebih tampan dan tajir dibanding dirinya. Tak hanya memutuskan, tapi juga membuka segala rahasia cinta mereka pada orang lain.

Baca Juga:  Kiat-Kiat Sederhana Menghadapi Para Perempuan PMS

Tapi kawanku satu ini ancen wong sing sabaran. Sebab ketika ia mengetahui bahwa ia diperlakukan sedemikian kejinya, ia samasekali tak marah, apa lagi terbersit dalam hati untuk menyantetnya, ini semua dianggapnya hal yang lumrah dalam kisah cinta dan tak perlu dirisaukan. Malahan ia menganggap Nirmala sebagai teman yang pernah berbuat baik padanya.

Ketika saya bertanya mengapa bisa bersikap demikian, ternyata usut punya usut, sebelumnya Randu telah mempelajari tentang semua hal yang terkait dengan cinta. “Sebab cinta bisa dipelajari dengan logika dan perasaan”, ujarnya. Ia mempelajari itu semua dari buku Seni Mencintai yang ditulis oleh om Erich Fromm.

Tapi saya fikir itu hanya alasan yang cukup dilpomatis, saya tahu persis hatinya remuk seremuk-remuknya, dan jadilah ia sobat ambyar. Saya pun tahu, Ia hanya pandai menyimpan rasa ambyar itu dalam hati yang kian rapuh itu.

Dalam hal ini benar apa kata Sujiwo Tedjo Rusdi Mathari, “Laki-laki memang tidak menangis, tapi hatinya bedarah, dik”. Atau kata Lord Didi Kempot, “Kepiye maneh iki pancen nasibku, kudu nandang loro koyo mengkene, remok ati iki yen eling janjine, ora ngiro jebulmu lamis wae. Aku nelongso mergo kabacut tresno, ora ngiro seikine cidro.”

Syahdan, jeda yang dimaksud di sini bukan meminta ‘break’ dengan alasan yang mengada-ada, padahal sudah tak lagi cinta. Bukan pula kamu dan si dia harus menjelaskan dengan gamblang bahwa hubungan ini memang butuh jeda. Cukup dengan menjelaskan pada intinya saja dan ngak usah pake kode-kode ngak jelas. Lalu biarkan satu sama lain menjalani kehidupan di luar dunia masing-masing. Ngoten. (*)

BACA JUGA Sebulan Tak Melihat Story Medsos: Ini yang Kurasakan! atau tulisan R Fauzi Fuadi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
3

Komentar

Comments are closed.